Dialog Seorang Kyai dengan Profesor tentang Surat Al-Maidah 51

10/12/2016

Dialog Seorang Kyai dengan Profesor tentang Surat Al-Maidah 51

Tags

“Saya ini profesor, loh,“ kata tamu Kyai Adung.
“Saya cuman guru esde,” sahut Kyai Adung.
“Waaah, Kyai harus banyak belajar dari profesor seperti saya.”
“Waaah, dengan senang hatiiii. Makasih ye, pak professooor.”

Berbincanglah sang profesor dengan Kyai Adung. Topiknya pemimpin non muslim. Kyai Adung diceramahin soal sejarah Islam waktu Nabi di Mekah sampai hijrah ke Abbesinia dan Madinah. Kyai Adung terkagum-kagum, karena profesor itu ngasih penjelasan kagak masuk akal.

Wkwkwkwkwkwk.

“Di Mekkah. Umat Islam itu selama 13 tahun hidup nyaman di bawah pimpinan Abu Thalib. Abu Thalib itu non muslim sampai wafat. Kemudian Nabi hijrah ke Madinah.”
“Hirjrah?”
“Iya hijrah. Pindah ke Madinah. Tau kan sejarah itu?”
“Tau saya.”
“Lha, terus?”
“Bukannye Nabi terpaksa hijrah karena dimusihin dan diboikot para pemuka kafir Quraisy, karena Nabi menyebarkan Islam yang kagak sesuai agama nenek moyang orang kafir Quraisy, pak profesor? Pak profesor lagi ngomongin Nabi yang mane sih?”

Gubraaaakkkk!!!!

“Begini saja, waktu di Abbesinia, orang Islam dilindungi pemerintah kafir, kan? penguasa Abbesinia itu Kristen.”
“Tahu saya.”
“Nah, jadi tafsiran Al-Maidah ayat lima satu itu, tidak bisa kita gunakan untuk pilkada dong. Paham?”
“Paham.”
“Lha terus kenapa ayat itu dibawa-bawa? Sedangkan dalam sejarah awal, orang Islam pernah dilindungi Najasyi yang Kristen, kok.”
“Lha, kan waktu orang Islam dilindungi Najasy, Al Maidah ayat lima satu belom turun, prof. Ayat itu turun di Madinah setelah hijrah. Ini, profesor lagi ngomongin Al Maidah yang mane sih?”

Gubraaaaakkkkk!!!!

Oleh: Abdul, penulis 'Kyai Kocak dan Liberal
Ciputat, 12 Oktober 2016