Kejanggalan Pernyataan Kadiv Humas Polri Terkait Hasil Otopsi Siyono

4/05/2016

Kejanggalan Pernyataan Kadiv Humas Polri Terkait Hasil Otopsi Siyono

Tags

Hari Ahad Tim Dokter forensik Muhammadiyah telah melakukan autopsi terhadap jenazah Siyono, warga Klaten yang tewas usai ditangkap Densus 88.

Ada beberapa catatan penting sebagai temuan sementara yang disampaikan oleh Dokter Forensik Muhammadiyah dan Dokter Forensik Polri yang kemaren disampaikan oleh Ketua Tim Dokter Forensik Muhammadiyah, yakni dr. Gatot Suharto, SpF :

Pertama, patut diduga jenazah Siyono belum pernah dilakukan otopsi oleh siapapun sebelumnya.

Kedua, ditemukan luka dibeberapa bagian tubuh akibat benturan keras alat/benda tumpul.

Ketiga, ditemukan patah tulang jenazah.

Tim Dokter Forensik memerlukan waktu paling lama 10 hari utk meneliti lebih jauh di laboratorium. Dan untuk hasil final nanti akan diserahkan Tim Forensik Muhammadiyah kepada PP Muhammadiyah dan PP Muhammadiyah akan menyerahkan kepada Komnas HAM.

Menyikapi hasil otopsi Tim Dokter Forensik Muhammadiyah, melalui Fanspage Facebook Divisi Humas Polri mengeluarkan press release  sebagai berikut
KADIV HUMAS POLRI: HASIL OTOPSI SIYONO TIDAK ADA BUKTI PENEMBAKAN,ADA YANG SEBAR FITNAH UNTUK LEMAHKAN PERANG LAWAN TERORISME

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Anton Charliyan merespon positif hasil otopsi sembilan dokter forensik yang ditunjuk Pengurus Pusat Muhammadiyah dan seorang dokter dari Polda Jawa Tengah untuk melakukan proses otopsi terhadap jenazah Siyono di tempat pemakaman um…um Desa Pogung, Cawas, Klaten, Jawa Tengah, Minggu 3 April 2016.

Hal penting dari otopsi ini memperjelas, bahwa tidak ada luka tembak di tubuh tersangka teroris Siyono. “Ini jelas menjadi fakta paling substansial bagi pencegahan dan pemberantasan terorisme di negara kita,” tegas Kadiv Humas.

Disampaikan Kadiv Humas Polri, sebelumnya pihak Polri telah menyampaikan kepada publik. Bahwa, kematian Siyono terjadi karena adanya insiden, dimana Siyono melakukan perlawanan dan menyerang petugas yang sedang melakukan pendalaman terhadap jaringan terorisme.

Karena membahayakan nyawa, petugas pengawal melakukan pembelaan diri. Dalam perkelahian satu lawan satu tersebut, Siyono meninggal dunia akibat terjatuh dalam perkelahian.

“Spekulasi bahwa Siyono meninggal karena ditembak, adalah fitnah dan tuduhan yang tidak mendasar. Bahkan, ada kecenderungan ini bagian dari provokasi sistematis untuk melemahkan Densus 88 dalam upaya memerangi terorisme,” tegas Irjen Pol Anton Charliyan.

Ditegaskan juga, provokasi dengan menyebarkan fitnah bahwa Siyono meninggal karena ditembak, diduga kuat sengaja disebarkan oleh kelompok pro gerakan radikal, yang mengatasnamakan agama.

Sumber : Divisi Humas Polri

Redaksi menilai ada beberapa kejanggalan yang disampaikan Kadiv Humas Polri terkait hasil proses otopsi Siyono

Pertama, Humas Polri tidak mengutip secara utuh penjelasan tim dokter forensik Muhammadiyah tentang hasil sementara otopsi Siyono, tidak dijelaskan tentang ditemukannya luka akibat benda tumpul dan beberapa tulang yang patah.

Kedua, Humas Polri dengan menggebu gebu mengatakan tidak ada luka tembak dan menuding ada fitnah yang disebarkan bahwa Siyono tertembak, lagi – lagi ini pernyataan yang membingungkan publik karena sejak awal tidak pernah berkembang opini bahwa Siyono tewas ditembak dan coba searching di media – media tidak ada yang memberitakan Siyono tewas ditembak.

Publik mempertanyakan kenapa Siyono bisa meninggal ketika dibawah pengamanan Densus 88 hal ini yang harus terjawab bukan kemudian membangun opini seolah – olah Polri menjadi korban fitnah sistematis.

Ketiga, Divisi Humas Polri keukeuh menyatakan Siyono meninggal  karena adanya insiden, dimana Siyono melakukan perlawanan dan menyerang petugas yang sedang melakukan pendalaman terhadap jaringan terorisme, karena membahayakan nyawa petugas pengawal melakukan pembelaan diri. Dalam perkelahian satu lawan satu tersebut, Siyono meninggal dunia akibat terjatuh dalam perkelahian.

Keterangan soal ini juga masih menjadi misteri bagaimana mungkin Siyono bisa berkelahi satu lawan satu sedangkan Densus 88 jika menangkap atau mengawal terduga atau tersangka teroris selalu dengan kekuatan penuh banyak personil dengan senjata lengkap.

Tidak dijelaskan juga kapan peristiwa perkelahian tersebut, dimana dan dengan siapa berkelahinya belum lagi apakah benar meninggalnya karena terjatuh, terjatuh darimana?

Di kesempatan terpisah Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah mengatakan bahwa apa yang dilakukan Muhammadiyah melalui outopsi atas permintaan Komnas HAM bukan opini tetapi berusaha menemukan fakta melalui Usaha ilmiah.

Justru Polri yang berusaha membangun opini tanpa dasar pijakan ilmiah seperti bisa menyebut kematian Siyono akibat benturan dikepala padahal fakta ilmiah menunjukkan tidak pernah ada otopsi sebelumnya seperti yang disampaikan Dokter Gatot yang tidak dibantah oleh Dokter forensik dari Polri sendiri.

Mari kita Bantu Polisi menjadi lebih profesional dan menghargai hukum dan melindungi hak hidup warga negaranya siapa pun Mereka. Ini saatnya kita Bantu Polisi berubah menjadi lebih baik melalui membantu Bu Suratmi istri Almarhum Siyono mencari keadilan.
Sumber: sangpencerah