Menjawab Kesalahan Syi'ah dalam Memaknai Ahlul Bait

3/29/2016

Menjawab Kesalahan Syi'ah dalam Memaknai Ahlul Bait

Tags

>
Artikel kali ini akan menjawab secara ilmiyyah terhadap dua syubhat syi’ah berkenaan ayat Taththir (penyucian) yang dimaksudkan dalam surat al-Ahzab : 33

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (Q.S. al-Ahzab: 33)


Syubhat Syi’ah :


Ayat tahthir ini dijadikan hujjah oleh kaum syi’ah yang mereka tulis dalam banyak buku dan artikel, setidaknya dalam tiga perkara berikut :
  1. Menggunakan Ayat al-Tath-hir untuk membataskan istilah “Ahl al-Bait” kepada empat orang sahaja: ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiallahu ‘anhum.
  2. Menggunakan Ayat al-Tath-hir untuk menetapkan sifat maksum kepada ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.
  3. Dengan sifat maksum ini, Syi‘ah bertegas bahawa kebenaran hanya berada pada ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan keturunan mereka sahaja. Tafsiran al-Qur’an yang benar hanya berasal daripada mereka, hadis yang sahih hanya berpunca daripada mereka, hukum yang benar hanya bersumber daripada mereka dan hak kekhalifahan hanya berada di tangan mereka. Dalam ertikata lain, yang benar hanyalah Syi‘ah kerana ia adalah mazhab yang berdiri di atas kemaksuman Ahl al-BaitRasulullah.

Kami menjawab :


Makna Ahlul Bait.

Secara harfiyah atau bahasa arti Ahlul Bait adalah penghuni rumah atau kerabat. Seorang ulama pakar bahasa Arab, imam Sibaweh mengatakan :

وأهلُ البيت : سكانه .  وأهلُ بيت النبي صلى الله عليه وسلم : أزواجه وبناته وصهره ، اعني عليا عليه السلام ، وقيل : نساء النبي صلى الله عليه وسلم ، والرجال الذين هم آله . وفي التنزيل : ) إنما يُريدُ اللهُ لِيُذْهِبُ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أهْلَ البَيْتِ ( القراءة أهل بالنصب على المدح ، كما قال : بك الله نرجو الفضل ، وسبحانك الله العظيم ، وعلى النداء ، كأنه قال : يا أهْلَ البيت ، وقوله تعالى لنوح عليه السلام : ) إنَّهُ لَيْسَ مِنْ أهْلِكَ ( قال الزجاج : أراد ليس من أهلِك الذين وعدتك أن أنجيتهم ، قال : ويجوز أن يكون : ليس من أهل دينك

“Ahlul Bait adalah para penghuni rumah. Dan Ahlul Bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah : istri-istri beliau, para putri dan ipar yakni imam Ali As. Ada yang mengatakan ahlul bait adalah para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para lelalikanya yang termasuk keluarganya. Dalam ayat :

إنما يُريدُ اللهُ لِيُذْهِبُ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أهْلَ البَيْتِ

“Bacaan Ahla dibaca Nashb (fathah) bermaksud untuk pujian, sebagaimana dikatakan, “ Kepadamu Allah, kami berharap keutamaan, dan Maha Suci Engkau wahai Allah yang Maha Agung “. Juga Ahla dibaca Nashb karena nida’, seolah-olah Allah mengatakan, “ Wahai Ahlul Bait “, firman Allah Ta’ala kepada nabi Nuh As, “ Sesungguhnya ia bukanlah termasuk ahli (keluarga) mu “, az-Zujaj berkomentar,: Allah bermakusd dengan firmannya itu “ Sesungguhnya ia bukanlah keluargamu “, adalah bukan keluarga yang termasuk Allah janjikan untuk diselamatkan “. Boleh juga diartikan, “ Sesungguhnya ia bukan termasuk golongan agamamu “.[1]

Dari makna ini, menjadi jelas bahwa Ahlul Bait Nabi adalah semua penghuni rumah Rasul termasuk istri-istri Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam.

Keluarga Nabi menurut para ulama


Sebagian ulama berpendapat bahwa ahlul bait Nabi atau keluarga Nabi adalah : Sayyidah Fatimah, sayyidina Ali, Hasan, Husain dan mereka yang diharamkan untuk menerima zakat, yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthalib.  Menurut madzhab Syafi’i, berarti para paman-paman beliau yang muslim termasuk keluarga nabi yang harus dihormati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ آلَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم لَا يَأْكُلُونَ الصَّدَقَةَ

“Apakah engkau tahu bahwa keluarga Muhammad tidak memakan shadaqah (zakat)” (HR Bukhari : 2/541)

Dari hadits ini bisa kita ketahui bahwa keluarga Nabi (آل النبي) adalah mereka yang diharamkan untuk menerima zakat, yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthalib menurut madzhab Syafii, berarti para paman-paman beliau termasuk keluarga nabi yang harus dihormati.

Jika mereka termasuk آل النبي, berarti mereka termasuk juga dalam ahlul bait nabi karena secara bahasa arti آل tak berbeda dengan Ahli yaitu kerabat. Oleh karena itu sebagian ahli bahasa menganggap  tidak ada perbedaan antara istilah ahlu dan Al (آل). Ini bisa dilihat dari tashghir keduannya ke dalam satu lafadz yang sama yaitu اهيل. Dalam riwayat lain disebutkan :

عن جبير بن مطعم رضي الله عنه أنه قال : ” مَشَيْتُ أَنَا وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْطَيْتَ بَنِي الْمُطَّلِبِ وَتَرَكْتَنَا وَنَحْنُ وَهُمْ مِنْكَ بِمَنْزِلَةٍ وَاحِدَةٍ ؟! فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّمَا بَنُو الْمُطَّلِبِ وَبَنُو هَاشِمٍ شَيْءٌ وَاحِدٌ

“ Dari Jubair bin Muth’im Ra, ia berkata, “ Aku dan Ustman bin ‘Affan menuju kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami berkata, “ Wahai Rasulullah, engkau telah memberikan sesuatu kepada Bani Muththalib dan engkau meninggalkan kami, padahal kami dan mereka dari dalam satu kedudukan ?, maka Nabi menjawab, “ Sesungguhnya Banu Muththalib dan Banu Hasyim adalah satu “. (HR. Bukhari : 2907)

Dalam hadits disebutkan :

أنهم قالوا : يا رسول الله كيف نصلي عليك ؟ قال : قولوا : اللهم صل على محمد وعلى أزواجه وذريته كما صليت على آل إبراهيم ، وبارك على محمد وأزواجه وذريته كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد

“ Mereka bertanya, “ Wahai Rasulullah, bagaimana kami bersholawat atasmu ? maka beliau menjawab, “ Ucapkanlah : “ Ya Allah curahkan sholawat kepada Muhammad dan istri-istrinya juga para keturunannya, sebagaimana Engkau curahkan sholawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berkahilah kepada Muhammad dan istri-istrinya juga para keturunannya sebagaimana Engkau berkahi kepada keluarga Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Terpuja “. ()

Imam asy-Syaukani mengomentari hadits tersebut :

الحديث احتج به طائفة من العلماء على أن الآل هم الأزواج والذرية ووجهه أنه أقام الأزواج والذرية مقام آل محمد في سائر الروايات المتقدمة . واستدلوا على ذلك بقوله تعالى { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } لأن ما قبل الآية وبعدها في الزوجات فأشعر ذلك بإرادتهن وأشعر تذكير المخاطبين بها بإرادة غيرهن

“Hadits tersebut dijadikan hujjah oleh sekelompok ulama bahwa keluarga Nabi adalah para sitri dan keturunan Nabi. Para ulama ini memberikan ulasan bahwa istri-istri dan keturunan Nabi menduduki keluarga Muhammad dengan melihat riwayat-riwayat yang telah berlalu. Mereka juag berdalil dengan firman Allah Ta’ala : “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya “, karena sebelum dan sesudah ayat itu, berkenaan dengan istri-istri Nabi, maka terindikasikan yang dimaksud adalah para istri Nabi, dan terindikasikan dengan penyebutan dhamir “ kum “ yang dimaksud adalah selain istri Nabi “.[2]

Kesimpulannya : Keluarga Nabi menurut pendapat yang rajih adalah istri-istri Nabi, para keturunannya dan Bani Muththalib dan Bani Hasyim.

Hujjah Syi’ah : Istri-istri Nabi bukan Ahlul Bait Nabi.


Adapun hujjah syi’ah yang menyatakan bahwasanya istri-istri Nabi tidak termasuk Ahlul Bait Nabi dengan hujjah berikut :

Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah yang berkata, “Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.(QS Al Ahzab 33). Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah , lalu Nabi Muhammad SAW memanggil Fathimah, Hasan dan Husain, lalu Rasulullah SAW menutupi mereka dengan kain sedang Ali bin Abi Thalib ada di belakang punggung Nabi SAW .Beliau SAW pun menutupinya dengan kain Kemudian Beliau bersabda” Allahumma( ya Allah ) mereka itu Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata,” Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW? . Beliau bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan”. (Hadis Sunan Tirmidzi no 3205 dan no 3871 dinyatakan shahih oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi).
Dari hadis ini dapat diketahui beberapa hal sebagai berikut

Bahwa ayat ini turun di rumah Ummu Salamah ra, dan terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya. Hadis itu menjelaskan bahwa yang turun itu hanya penggalan ayat Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.

Ahlul Bait yang dimaksud dijelaskan sendiri oleh Nabi SAW melalui kata-kata Beliau SAW “Ya Allah, mereka adalah Ahlul BaitKu” Pernyataan ini ditujukan pada mereka yang diselimuti kain oleh Rasulullah SAW yaitu Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.

Ayat ini tidak ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW. Buktinya adalah Pertanyaan Ummu Salamah. Pertanyaan Ummu Salamah mengisyaratkan bahwa ayat itu tidak ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW, karena jika Ayat yang dimaksud memang turun untuk istri-istri Nabi SAW maka seyogyanya Ummu Salamah tidak perlu bertanya Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW?. Bukankah jika ayat tersebut turun mengikuti ayat sebelum maupun sesudahnya maka adalah jelas bagi Ummu Salamah bahwa Beliau ra selaku istri Nabi SAW juga dituju dalam ayat tersebut dan Beliau ra tidak akan bertanya kepada Rasulullah SAW. Adanya pertanyaan dari Ummu Salamah ra menyiratkan bahwa ayat ini benar-benar terpisah dari ayat yang khusus untuk Istri-istri Nabi SAW. Sekali lagi ditekankan kalau memang ayat itu jelas untuk istri-istri Nabi SAW maka Ummu Salamah ra tidak perlu bertanya lagi “Dan apakah aku bersama mereka wahai Nabi Allah?”.

Penolakan Rasulullah SAW terhadap pertanyaan Ummu Salamah, Beliau SAW bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan”. Hal ini menunjukkan Ummu Salamah selaku salah satu Istri Nabi SAW tidaklah bersama mereka Ahlul Bait yang dituju oleh ayat ini. Beliau Ummu Salamah ra mempunyai kedudukan tersendiri dan bukanlah Ahlul Bait yang dimaksud dalam ayat ini.


Kami jawab :


1. Terlalu memaksa jika mengatakan penggalan ayat tahhir adalah terpisah dari ayat sebelum dan sesudahnya. Mari kita buktikan :

Penggalan ayat tathhir ini, susunannya berada di tengah-tengah  kumpulan ayat-ayat yang berkaitan dengan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayat ini dimulai dengan kalimat khitab kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menasehati istri-istrinya :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu…” (Q. Al-Ahzab : 28)

Kemudian berlanjut dengan kalimat khithab kepada istri-istri Nabi :

يا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ

“Wahai istri-istri Nabi, Barangsiapa dari kalian melakukan perbuatan keji…” (QS.Al-Ahzab : 30)

Kemudian sampai pada ayat selanjutnya yaitu :

وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِـلَّهِ وَرَسُولِهِ

“Barangsiapa dari kalian yang tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya..” (QS. Al-Ahzab : 31)

Kemudian berlanjut dengan ayat yang di dalamnya berbicara soal tathir :

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا. وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُإِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Wahai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. “Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah Swt bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersih­nya.” (QS. Al Ahzab: 32-33).

Keterangan :


Dari ayat ke 32 dimulai dengan khithab kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ayat ke 33 dimulai juga dengan huruf ‘athaf, maka ayat ke 33 masih berhubungan (ma’thufah) dengan ayat sebelumnya. Dan penggalan ayat tathhir pun masuk pada bagian ayat ke 33 tersebut yang masih terkait dengan ayat sebelumnya.

Maka istri-istri Nabi masuk di dalam susunan ayat-ayat tersebut tidak terpisah sama sekali. Dalam ayat yang masih satu susunan dengan penggalan ayat tathhir, disebutkan kalimat “ Fii Buyutikunna “ ini artinya para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertempat tinggal di rumah (bait) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jelas sudah Ahlul Bait (penghuni rumah) adalah semua keluarga Nabi sama ada laki-laki ataupun perempuan dan juga para istri-Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena para istri Nabi juga tinggal di rumah-rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ayat ini pun turun di rumah Ummu Salamah bertempat tinggal.

2. Hadits Kisa' yang dijadikan hujjah oleh kaum Syi’ah untuk menetapkan bahwa istri-istri Nabi bukan termasuk Ahlul Bait Nabi, maka ini tidaklah tepat. Hadits Kisa’ sama sekali tidak menafikan istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait Nabi. Berikut hadits-hadits sahih Nabi yang menjelaskan bahwa istri Nabi termasuk keluarga Nabi dan penjelasan para ulama mu’tabar berkaitan hadits kisa dan ayat tathhir ini :

Dalam hadits –hadits sahih disebutkan :

عن أنس رضي الله عنه قال: سمعته أي النبي صلى الله عليه وسلم  يقول: “ما أمسى عند آل محمد صاع برٍ ولا صاع حَب” وإن عنده لتسع نسوة

“ Dari Anas Radhiallahu ‘anhu berkata, “ Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “ Aku berada di sore hari dalam keluarga Muhammad tanpa satu sha’ gandum ataupun biji “. (Anas berkata), “ Dan sesungguhnya Rasul memiliki sembilan istri “. (HR. Bukhari : 2/729)

Dalam hadits yang lain sayyidah Aisyah berkata :

إن كُنا آل محمد صلى الله عليه وسلم  لنمكث شهراً ما نستوقد بنار إن هو إلا التمر ظاهراً
“ Sesungguhnya kami keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, menetap selama sebulan penuh dengan tanpa menghidupkan api di dapur kecuali hanya kurma yang matang “. (HR. Muslim : 2282)

Dua hadits sahih ini sangat jelas menunjukkan bahwa istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait (keluarga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

- al-Hafidz Ibnu Katsir ketika mengomentari penggalan ayat tathhir, beliau mengatakan :

وهذا نص في دخول أزواج النبي صلى الله عليه وسلم في أهل البيت ههنا ؛ لأنهن سبب نزول هذه الآية ، وسبب النزول داخل فيه قولا واحدا ، إما وحده على قول أو مع غيره على الصحيح

“ Ini adalah nash tentang masuknya istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke dalam Ahlul Biat di sini. Kerana mereka merupakan sebab turunnya ayat ini, sedangkan sebab turunnya ayat itu masuk di dalamnya secara satu ucapan, adakalanya menurut satu ucapan atau bersama lainnya menurut pendapat yang sahih “.[3]

Kemudian Ibnu Katsir menyebutkan  sejumlah ayat dan hadits yang menunjukkan masuknya istri-istri Nabi ke dalam Ahlul Bait. Dan beliau mengatakan :

ثم الذي لا يشك فيه من تدبر القرآن أن نساء النبي صلى الله عليه وسلم داخلات في قوله تعالى : ” إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا ” ، فإن سياق الكلام معهن ؛ ولهذا قال تعالى بعد هذا كله : ” ‏وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ “

“ Kemudian tidak diragukan lagi bagi orang yang mentadabburi al-Quran sesungguhnya istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam firman Allah, ““…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Kerana konteks ucapan menunjukkan bersama mereka (istri Nabi), oleh sebab itu setelah semua itu Allah berfirman, “ Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah “.[4]

- al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani ketika menaqal pendapat Ibnu Baththal yang mengatakan bahwa istri-istri Nabi tidak termasuk keluarga Nabi yang diharamkan sedekah atasnya, maka al-Hafidz Ibnu Hajar berkomentar :

 وفيه نظر فقد ذكر ابن قدامة أن الخلال أخرج من طريق ابن أبي مليكة عن عائشة قالت ” إنا آل محمد ‏لا تحل لنا الصدقة ” قال وهذا يدل على تحريمها . قلت : وإسناده إلى عائشة حسن ، أخرجه ابن أبي شيبة أيضا

“ Pendapat itu perlu ditinjau ulang, sungguh Ibnu Quddamah telah menyebutkan bahwasanya al-Khallal telah mengeluarkan riwayat dari jalur Thariq bin Abi Malikah dari Aisyah, ia berkata, “ Sesungguhnya keluarga Muhammad tidak dihalalkan bagi kami sedekah “. Beliau berkata, “ Hadits ini menunjukkan keharaman sedekah atas istri-istri Nabi “. Aku katakan, “ Sanad ini kepada Aisyah adalah hasan, dikeluarkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah “.[5]

- Imam Al-Qurthubi justru mengatakan bahwa masuknya sayyidah Fatimah, Ali, Hasan dan Husein karena Nabi ingin memasukkan mereka ke dalam kemulian khithab istri Nabi dalam ayat tersebut :

فهذه دعوة من النبي صلى الله عليه وسلم لهم بعد نزول الآية أحب أن يدخلهم في الآية التي خوطب بها الأزواج

“ Ini adalah doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mereka setelah turunnya ayat tersebut, Nabi ingin (suka) memasukkan mereka ke dalam ayat yang mengkhithab para istri Nabi “.[6]

3. Argumentasi Syi’ah yang mengatakan istri-istri Nabi bukan termasuk Ahlul Bait dengan hujjah pertanyaan Ummu Salamah (istri Nabi) yang mengharapkan bersama dalam naungan selendang Nabi, karena jika Ayat yang dimaksud memang turun untuk istri-istri Nabi SAW maka seyogyanya Ummu Salamah tidak perlu bertanya Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW?

Maka kami jawab :


Argumentasi semacam ini bisa disebut dengan argumntasi yang rakus dan tidak ilmiyyah karena mengesampingkan dalil-dalil syahid lainnya atau bisa juga disebut argumentasi tipu muslihat kata. Kenapa saya katakan seperti itu ? kerana dalam hadits itu jelas-jelas Nabi tidak mengatakan, “ Ummu Salamah kamu bukan bagian Ahlul Baitku “, tidak secara sharih maupun kinayah Nabi mengeluarkan Ummu Salamah apalagi istri-istri beliau lainnya dari Ahlul Bait (keluarga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah Nabi dalam hadits kisa mengatakan, “ Kamu bukan ahlul baitku wahai Ummu Salamah dan juga istri-istriku yang lain “ ??

Bagi Ahlus sunnah wal Jama’ah hadits ini mudah sekali dipahami karena banyak dalil-dalil lain yang menunjukkan kebenarannya, dan tidak bagi kaum syi’ah.

Pertanyaan Ummu Salamah sama sekali bukan seperti yang dipahami oleh syi’ah tersebut. Justru jawaban Nabi kepada Ummu Salamah  “dan engkau berada dalam kebaikan ”, ini justru menunjukkan Ummu salamah sudah masuk dalam kedudukan Ahlul Bait Nabi dengan melihat susunan ayat-ayat yang mengkhithab istri-istri Nabi tersebut.   Dan Selain itu tidak mungkin Rasulullah memasukkan Ummu salamah ke dalam  naungan kisa` karena disana ada Sayidina Ali yang merupakan lelaki ajnabi (bukan mahram) baginya.

Nabi memasukkan Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dalam naungan kisa’ adalah untuk memasukkan mereka ke dalam kemulian khithab  istri-istri Nabi dalam ayat tersebut sebagaimana dikatakan oleh imam al-Qurthubi. Dan juga Nabi memasukkan mereka ke dalam naungan kisa’ kerana mereka adalah ahlul bait Nabi yang lebih khusus dari segi nasab dan istri-istri Nabi juga paman beliau merupakan keluarga Nabi dari segi umumnya.

Dan setelah ayat ini turun, Nabi pun membacakan ayat tahthir tersebut kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi memberikan pilihan kepada istri-istrinya untuk memilih, maka para istri Nabi memilih Allah, Nabi dan akherat. Nabi pun tidak menceraikan mereka hingga beliau wafat.

Saya akan kasih (bagi) contoh logis dalam masalah ini untuk syi’ah supaya mereka memahaminya :

Dalam hadits sahih disebutkan :

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه سئل عن المسجد الذي أسس على التقوى فقال: مسجدي هذا

“Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau ditanya tentang masjid yang bangun atas dasar taqwa, maka Nabi menjawab, “ Ia adalah masjidku ini “ (HR. Muslim) yakni maksudnya adalah masjid Nabawi. Padahal dalam ayat tentang masjid Dhirar konteksnya berbicara tentang masjid Quba’. Allah berfirman :

لا تَقُمْ فِيهِ أَبَداً لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

“Janganlah engkau melaksanakan shalat di dalam masjid (dhirar) itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar taqwa, sejak hari pertama adalah lebih layak engkau melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih “. (QS. At-Taubah : 108)

Dalam ayat tersebut yang dimaksudkan masjid yang didirikan atas dasar taqwa adalah masjid Quba’ dengan melihat qarinah shifat setelahnya dalam ayat itu yakni di dalam masjid itu ada orang-rang yang ingin membersihkan diri. Dalam hadits lainnya yang mutawatir  yang merupakan penjelas dari sabab nuzulnya disebutkan bahwa Allah berfirman berkenaan ahli Quba’, sehingga Nabi mengatakan, “ Apa kesucian ini yang menyebabkan Allah memuji atas kalian ? “[7]

Lalu kenapa Nabi menjawab bahwa masjid yang didirikan atas dasar taqwa adalah masjid Nabawi ? ini menunjukkan bawasanya bukan hanya masji Quba’ saja yang didirikan atas dasar taqwa. Dan Nabi menyebutkan masjid Nabawi untuk menunjukkan bahwa masjid beliau itu adalah masjid yang paling layak disebutkan sebagai masjid yang didirikan atas dasar taqwa selain masjid Quba’ dan juga tidak menafikan masjid-masjid lainnya yang didirikan atas dasar taqwa.

4. Setelah uraian dan penjelasan di atas, maka jelas istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahlul bait Nabi, bahkan secara bahasa istri adalah awal orang yang disebut keluarga, kemudian berkembang menjadi kepada istri, anak dan kerabat. Kasus ini sama persis dengan kasus Nabi Ibrahim As berikut, Allah berfirman :

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ * قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخاً إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ * قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ

“Dan istrinya berdiri lalu ia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya’qub. Ia (istrinya) berkata, “ Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak, padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua ? ini benar-benar sesuatu yang ajaib “. Mereka (para malaikat) berkata, “ Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah ? Rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu wahai Ahlul Bait “.   (QS. Hud : 71-72)

Maka yang dimaksud Ahlul Bait dalam ayat ini adalah istri Nabi Ibrahim Alahis salam. Meskipuan dengan dhamir “kum” maka susunan kalimatnya tertuju kepada istri Nabi dan juga Nabi Ibrahim itu sendiri.

Al-Imam al-Qurthubi juga mengatakan berkenaan ayat tathhir :

والذي يظهر من الآية أنها عامة في جميع أهل البيت من الأزواج وغيرهم وإنما قال: “ويطهركم” لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلياً وحسناً وحسيناً كانوا فيهم وإذا اجتمع المذكر والمؤنث غلب المذكر فاقتضت الآية أن الزوجات من أهل البيت لأن الآية فيهن والمخاطبة لهن يدل عليه سياق الكلام

“ Yang nampak dalam ayat ini, menunjukkan secara umum kepada semua keluarga Nabi dari para istri dan selainnya. Sesungguhnya Allah mengatakan, “dan membersihkan kamu “ kerana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ali, Hasan dan Husain berada di dalamnya. Maka jika laki-laki berkumpul dengan perempuan, maka mudzkar (laki-laki) yang dimenangkan. Sehingga ayat tersebut mengharuskan para istri Nabi termasuk dalam ahlul baitnya, kerana ayat tersebut berbicara tentang istri-istri Nabi dan kalimat-kalimat khithab menunjukkan konteks ucapannya atas hal itu “.[8]

Dan hadits sahih berikut dengan jelas mematahkan hujjah syi’ah secara telak :

أنه خرج فانطلق إلى حجرة عائشة فقال: “السلام عليكم أهل البيت ورحمة الله” فقالت: وعليك السلام ورحمة الله كيف وجدت أهلك بارك الله لك فتقرى حجر نسائه كلهن يقول لهن كما يقول لعائشة ويقلن له كما قالت عائشة

“ Sesungguhnya Nabi keluar dan menuju ke kamar Aisyah. Lalu Nabi mengucapkan, “ Kesejahteraan dan rahmat Allah atas kalian wahai Ahlul Bait “, maka Aisyah menjawab, “ Dan atasmu kesejahteraan dan rahmat Allah, bagaimana engkau mendapatkan keluargamu ini ? semoga Allah memberkahimu “. Maka Nabi memasuki kamar para istrinya semuanya, dan mengucapkan salam kepada mereka sebagaimana beliau mengucapkannya kepada Aisyah, dan para istri Nabi membalas salam Nabi sebagaimana salam jawaban salam Aisyah “. (HR. Bukhari : 3/177)

Jelas dalam hadits sahih ini, Nabi mengakui bahwa istri-istrinya termasuk ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka tidak ada yang menyanggah hal ini kecuali orang yang dihatinya ada penyakit, naudzu billahi min dzaalik.

Ibnu Abdillah Al-Katibiy/aswj-rg.com
.
[1] Al-Muhkam w al-Muhith al-A’dzham : 4/355
[2] Nail al-Authar, asy-Syaukani : 2/335-336
[3] Tafsir Ibnu Katsir : 6/410
[4] Tafsir Ibnu Katsir : 6/415
[5] Fath al-Bari : 3/416
[6] Al-Jami’ li Ahkaam al-Quran : 14/184
[7] Lihat hadits dalam Musnad imam Ahmad : 3/422 dan Sunan Ibnu Majah : 1/128
[8] Al-Jami’ li Ahkaam al-Quran : 14/183