Siapa yang Tandatangani Mou NU dengan Iran?

1/27/2016

Siapa yang Tandatangani Mou NU dengan Iran?

Tags

KH Syech Ali Akbar Marbun, Pengasuh Pondok Pesantren Al Kautsar Al Akbar Medan Sumatera Utara (Sumut), minta agar Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding-MoU) antara KH Said Aqil Siradj selaku Ketua Umum PBNU periode 2010 – 2015 dengan Jami’ah Al- Musthafa Al-Alamiyah (Al-Musthafa International University – MIU) Republik Islam Iran dicabut. ”Pencabutan tersebut harus dilakukan secara terbuka,” kata Syech Ali Akbar dalam keterangan tertulisnya yang diterima BANGSAONLINE.com , Kamis (8/11/2015).

Menurut Kiai Syech Ali, MoU itu dilakukan pada tanggal 29 – 11 – 1432 H bertepatan dengan 27 – Oktober – 2011 Masehi di Kota Qom Iran. Berarti MoU itu kini sudah berusia 4 tahun. Artinya, jika tidak diperpanjang maka pada bulan inilah MoU itu berakhir.

Awal Ditemukannya Dokumen Mou NU dengan MIU Iran

Berita ini berawal dari temuan KH. Kholil Nafis, PhD yang saat itu menjabat Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU. Kiai asal Madura inilah yang menemukan dokumen MoU tersebut ketika di Iran.
 
Kiai Kholil Nafis pergi ke Iran dalam rangka tugas akademik dari UI. Ketika ia berkunjung ke Jami’ah Al-Musthafa Al-Alamiyah Qom Iran itulah ia menemukan dokumen kerjasama yang ditandatangan Prof Dr Said Aqil Siradj, MA selaku ketua umum PBNU dan Prof Dr Ali Reza Aarafi selaku Direktur Utama Jami’ah Almusthafa Al Alamiyah. Dokumen itu berisi kerjasama di bidang pendidikan, riset dan kebudayaan bertanggal 27 Oktober 2011 yang dibuat dalam dua bahasa, Persia dan Indonesia.

Kiai Kholil Nafis langsung memfoto kopi MoU yang berbahasa Indonesia karena ia mengaku tak terlalu paham bahasa Persia. ”Foto kopinya saya berikan kepada Pak Malik Madani,” tutur Kiai Kholil Nafis kepada BANGSAONLINE.com . Saat itu KH Dr Malik Madani adalah Katib Am Syuriah PBNU.

Para kiai di jajaran Syuriah PBNU kemudian kembali menggelar rapat untuk membahas kejasama Said Aqil dengan Iran yang tanpa sepengetahuan pengurus PBNU yang lain itu. ”Tapi Said Aqil tak datang Rapat Syuriah (PBNU) itu di lantai empat (gedung PBNU). Padahal Said Aqil ada di lantai tiga,” kata Kiai Kholil Nafis lagi.

Menurut Kiai Kholil Nafis, rapat Syuriah PBNU membahas penolakan MoU tersebut. ”Tapi kalau Said Aqil tak mencabut, MoU itu tetap berjalan. Dan MoU itu akan diperpanjang dengan sendirinya jika tak ada pencabutan,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa MoU PBNU-Iran itu berjangka 4 tahun. ”Sekarang ini Oktober persis 4 tahun. Kalau tak ada pencabutan akan terus diperpanjang dengan sendirinya,” katanya.

Kiai Kholil minta agar para kiai menyimak MOU tersebut. ”MoU itu berakhir bulan ini (Oktober) tapi bila tak distop secara tertulis maka diperpanjang dengan sendirinya. Lihat isi MoU tentang jangka waktunya. Kan sampai sekarang Said Aqil tak mengikuti keputusan Syuriah (PBNU).

Sampai sekarang MoU itu tidak dibatalkan secara tertulis. Berarti akan lanjut,” kata Kiai Kholil Nafis.

Kyai Said Aqil Menyangkal 

Namun Said Aqil menyangkal. Ia mengaku tak pernah tandatangan MOU tersebut. Menurut dia, tandatangan dalam MOU tersebut bukan tanda tangan dia.

Kiai Kholil Navis lalu membandingkan antara tandatangan di MOU dan tandatangan Said Aqil di SK kepengurusan PBNU. “Hasilnya sama,” katanya.
Sumber: nugl