Ketika Para Kyai Dibunuh (2)

11/14/2015

Ketika Para Kyai Dibunuh (2)

Tags

Sastrawan terkemuka Taufik Ismail mencatat kekejaman PKI ini : “Di samping lubang pembantaian yang sengaja digali, tempat penyembelihan itu praktis dilakukan di sumur-sumur tua tak terpakai, yang banyak terdapat di desa-desa itu.

[Lihat: Ketika Para Kyai Dibunuh (1)]

Karena repot dan sibuk, di Cigrok korban dikubur hidup-hidup. Di sebuah sumur tua yang tak tertimbun penuh, terdengar suara azan dari dalamnya. Tapi Kiai Imam Sofwan dari Pesantren Kebonsari tidak tertolong.

Pesantren-pesantren menjadi sasaran utama PKI, karena itulah komunitas yang anti-Marxis-Leninis, yaitu Pesantren Takeran, Burikan, Dagung, Tegalredjo (tertua), Kebonsari, dan Immadul Falah.

Algojo PKI merentangkan tangga membelintang sumur, lalu Bupati Magetan dibaringkan di atasnya. Ketika telentang terikat itu, algojo menggergaji badannya sampai putus dua, langsung dijatuhkan ke dalam sumur.

Dubur warga desa di Pati dan Wirosari ditusuk bambu runcing dan mayat mereka ditancapkan berdiri di tengah sawah sehingga mereka kelihatan seperti pengusir burung pemakan padi. Salah seorang di antaranya, wanita, ditusuk (maaf, TI) kemaluannya sampai tembus ke perut, juga ditancapkan PKI di tengah sawah.

Seorang ibu, Nyonya Sakidi, mendengar suaminya dibantai PKI di Soco. Dia menyusul ke sana, sambil menggendong dua anak, umur satu dan tiga tahun.

Dia nekat minta melihat jenazah suaminya. Karena repot melayaninya, PKI sekalian membantai perempuan malang itu, dimasukkan dan dikubur di sumur yang sama, sementara kedua anaknya itu menyaksikan pembunuhan ibunya.

Adik Sakidi menyelamatkan kedua keponakannya itu.  Yel-yel PKI di Madiun dalam gerakan Republik Sovyet tersebut. “Pondok bobrok, pondok bobrok! Langgar bubar, langgar bubar! Santri mati, santri mati!” yang disorakkan dengan penuh kebencian dan ancaman.”

Menebar Angin, Menuai Badai

Pada 13 Januari 1965 sekitar pukul 04.30 subuh, lebih kurang 3000 anggota massa PKI yang dipimpin Ketua Pengurus Cabang Pemuda Rakyat Kediri, Soerjadi mengadakan teror dengan melakukan penyerbuan terhadap para aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII).
Saat itu para pelajar sedang mengadakan mental training (pelatihan mental) di desa Kanigoro, Kediri, Jawa Timur. Pada kesempatan itu massa PKI melakukan pemukulan dan penganiayaan terhadap para kiyai dan imam masjid serta merusak masjid, dan bahkan menginjak-injak kitab suci al Qur’an.

Mereka melakukan penyerbuan sambil meneriakkan kata-kata antara lain: Ganyang Santri, Ganyang Masjumi, Ganyang Sorban, Ganyang Kapitalis, Ganyang Kontra Revolusi, Dulu waktu peristiwa Madiun besar kepala, kini rasakan pembalasan.

Selain ada aksi PKI di berbagai daerah,  Ketua CC PKI DN Aidit dalam apel kesiapsiagaan Dwikora tanggal 2 April 1965, antara lain mengatakan bahwa,”Manipol harus dibela dengan senjata. Manipol tidak bisa dibela hanya dengan tangan kosong. Oleh karena itu, latihan militer penting bagi orang-orang revolusioner manipolis dengan tujuan membela Manipol dengan senjata.”

Pada saat berlangsungnya peringatan HUT PKI ke-45 di Stadiun Utama Senayan Jakarta, tanggal 23 Mei 1965, Ketua CC PKI mengomandokan kepada massa PKI untuk meningkatkan “ofensif revolusioner sampai ke puncaknya.”

Pada kesempatan HUT itu terpampang poster-poster raksasa, slogan-slogan tertulis menyeramkan seperti Ganyang Tujuh Setan Desa, Ganyang Tiga Setan Kota, Ganyang Kapbir, Intensifkan Konfrontasi Dengan Malaysia, Bantu Vietnam Utara, Ganyang Kebudayaan Ngak Ngik Ngok, Sekarang Juga Bentuk Angkatan V dan lain-lain.

Selain itu juga dipajang format raksasa gambar-gambar Bung Karno, DN Aidit, Lenin, Mao Tse Tung dan Karl Marx sebagai hiasan.

Pada bulan Agustus 1965 bertempat di Rawabinong, sekitar satu kilometer dari Lubang Buaya, diselenggarakan pelatihan khusus bagi para kader yang dikirim oleh CDB PKI Jawa Barat, sejumlah 120 orang dan kader-kader BTI (Barisan Tani Indonesia) Jakarta sejumlah 80 orang. Pada awal September 1965, juga di tempat yang sama diadakan pelatihan khusus bagi kader-kader tingkat pusat sejumlah 60 orang.

Hingga akhirnya terjadilah peristiwa Gerakan 30 Sepember 1965. Dimana pasukan-pasukan PKI menculik dan membunuh perwira-perwira Angkatan Darat dengan tujuan untuk ‘mengkudeta pemerintah’.

Ternyata PKI gagal, karena para perwira Angkatan Darat cepat mengkonsolidasikan diri dan bersama rakyat –khususnya umat Islam—menangkap dan melawan PKI di berbagai daerah. Hingga akhirnya jatuh korban banyak dari PKI.  Taufik Ismail menyebut bahwa jumlah besar korban dari PKI itu akibat dari ulah PKI sendiri yang kejam dalam aksi-aksinya.

Waktu terus berjalan. Kini simpatisan PKI telah berhasil menghapuskan kewajiban pemutaran film G30S PKI yang menceritakan aksi-aksi kejam PKI. Dan justru yang beredar di kalangan pemuda kini film aksi-aksi pembunuhan terhadap PKI (seperti film The Act of Killing/Jagal 2012 yang lebih pro PKI).

Juga buku-buku kini banyak beredar di tengah masyarakat yang berusaha ‘mencuci dosa PKI’. Seolah-olah PKI adalah korban dan tidak pernah menjadi pelaku aksi kebiadaban dalam sejarah bangsa ini.

Akhirnya, Jenderal AH Nasution yang selamat dari pembunuhan PKI, dalam sambutannya di depan penguburan perwira-perwira TNI yang menjadi korban kebiadaban PKI menyatakan: “Rekan-rekan adik-adikku sekalian, saya sekarang sebagai yang tertua dalam TNI yang masih tinggal bersama yang lainnya, akan meneruskan perjuanganmu, membela kehormatan kamu.

Menghadaplah sebagai pahlawan, pahlawan dalam hati kami seluruh TNI, sebagai pahlawan menghadaplah kepada asal mula kita yang menciptakan kita, Allah Subhana Wata’ala. Karena akhirnya Dialah Panglima Kita yang Tertinggi. Dialah yang menentukan segala sesuatu, juga atas diri kita semua.

Tetapi dengan keimanan ini juga kita semua yakin bahwa yang benar akan tetap menang dan yang tidak benar akan tetap hancur. Fitnah-fitnah lebih jahat daripada pembunuhan, fitnah berkali-kali lebih jahat daripada pembunuhan.” Wallahu azizun hakim.
Oleh Nuim Hidayat dalam sharia.co.id, 4/11/15

Rujukan
Fadli Zon dan M Halwan Aliuddin, Kesaksian Korban Kekejaman PKI 1948, Komite Waspada Komunisme, Jakarta, 2005
Sekretariat Negara Republik Indonesia, Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia, Setneg RI, Jakarta 1994
Jenderal Besar Dr AH Nasution, Peristiwa 1 Oktober 1965 Kesaksian Jenderal Besar Dr AH Nasution, Penerbit Narasi Yogyakarta, 2012
Taufik Ismail, Presiden (15/8/15) Mau Minta Maaf Kepada PKI?, republika.co.id, 12 Agustus 2015