Nilai 9,5 Untuk Pak Jokowi

10/21/2015

Nilai 9,5 Untuk Pak Jokowi

Tags

Sejumlah lembaga survei di tanah air, ramai-ramai mempublikasikan rendahnya kepuasan publik atas kinerja Presiden Jokowi. Angka yang diberikan “belum memuaskan” karena umumnya berada dibawah 50%. Lembaga survei Poltracking, menyebut tingkat elektabilitas Pak Jokowi hari ini berada dibawah saingannya di Pilpres lalu. Harian Kompas hari ini, malah memberi rapor merah untuk urusan ekonomi.
Terlepas dari hasil survei itu, atau ulasan para pakar, maupun penilaian tokoh politik, saya malah menilai Pak Jokowi layak memperoleh nilai 9,5 untuk aspek ketenangan. Lucu? Coba bandingkan dengan presiden-presiden sebelumnya saat menghadapi masalah besar. Ada yang berwajah muram, ada yang gagap dan menghindari pers, ada yang membentuk tim ini-tim itu, sampai ada yang marah-marah didepan publik.
Lihat Pak Jokowi, baik kemarin maupun hari ini, tampil sangat tenang dan biasa, santai, selalu tersenyum dan ceria. Pak Jokowi tidak menghindari wartawan, beliau tetap menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Blusukan sebagai “trade mark”nya tetap terjadwal untuk bertemu dengan rakyat disegenap pelosok tanah air.
Beliau masih tetap tenang meskipun sepak bola nasional disanksi oleh FIFA, tidak boleh tampil pada even internasional. Atlet sepak bola kehilangan lapangan kerja, protes dan komplain. Ya rapopo. Penggantinya, diselenggarakan Piala Presiden, rakyat terhibur buktinya Gelora Bung Karno (GBK) dibanjiri oleh penonton.
Nilai US Dolar gonjang-ganjing, naik dan naik, turun dan naik lagi. Itu pun Rapopo. Jangan takut kepada Dolar, nanti dia makin ngelunjak. Tetap tenang dan santai, pada saatnya, si Dolar akan bosan gonjang-ganjing. Dia akan capek. Nanti akan stabil dengan sendirinya. Gitu aja koq repot.
Antar anggota kabinet saling berpolemik, publik heran, ada apa ini? Itu pun rapopo, monggo, silahkan, yang penting kerja dan kerja. Tidak perlu ditegor dan dikomentari, apalagi dibantah, semua berlangsung seperti air mengalir. Diyakini, bahwa yang berpolemik akan capek sendiri, bosan, dan pada saatnya berhenti.
Asap akibat pembakaran lahan menggayuti langit Sumatera dan Kalimantan. Berbulan-bulan sudah warga terpapar polusi, itu pun rapopo. Warga harus sabar, semoga hujan cepat turun. Semua akan selesai dengan sendirinya, sudah ada yang atur. Utamakan ketenangan, jangan panik, jangan gelisah apalagi resah.
Tenang dan santai, itulah gestur dominan yang terbaca dari Pak Jokowi. Dari gestur itu,  dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya tidak ada masalah di negeri ini. Masalah itu karena bagian dari pemberitaan miring, atau ulah dari mereka yang tidak puas.
Nah, orang nomor satu di republik ini saja tenang-tenang, santai, dan terkesan tidak sedang menghadapi masalah. Lantas, kenapa kita harus resah? Pemimpin adalah contoh, mari kita tiru cara beliau menghadapi masalah. Tenang, hadapi saja semua masalah, nanti akan selesai dengan sendirinya.
Oleh: Syukri Muhammad Syukri (kompasiana) - photo: kaltim tribunnews