Menjawab Kritikan Jalaluddin atas Ilmu Jarh wa Ta'dil

10/31/2015

Menjawab Kritikan Jalaluddin atas Ilmu Jarh wa Ta'dil

menjawab kritikan jalaluddin atas ilmu jarh wa ta'dil
ILMU hadis sebagai sebuah disiplin ilmu yang telah dianggap matang bahkan sampai gosong (ihtaraqat), tidak banyak orang yang melakukan kritik terhadap ilmu al-jarh wa at-ta’dil. Karena itu ketika Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Misteri Wasiat Nabi melakukan kritik dengan menyampaikan beberapa kelemahan dalam metode ini, tentu perlu kita kritisi juga, apakakah kritiknya tepat atau tidak.

Menjawab Kritikan Jalal


Beberapa kritik Jalaluddin Rakhmat terhadap metode ini adalah sebagai berikut:

1. Semua perawi bisa di-jarh. Termasuk sahabat juga di-jarh.

Meskipun dalam kaidah ilmu jarh wa at-ta’dil dikataka as-shabatu kulluhum ‘udul, tetapi faktanya, praktek jarh sudah dimulai sejak jaman sahabat segera setelah Nabi meninggal dunia. Jalal menguatkan pendirianya dengan mengutip pendapat Qasim bin Ali dalam bukunya Mabahits fi ‘Ilmi Jarh wa al-Ta’dil.
Jalaluddin Menulis:
“Aisyah menyalahkan Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar, Ibnu Abbas, Abu Said al-Khudri, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin al-Ahs, Abu Hurairah, Abu Darda, Jabir bin ‘Abdullah dan lain-lain ….” (Jalaluddin, Misteri Wasiat Nabi, hlm. 30-31)
Pernyataan bahwa para sahabat-pun bisa di-jarh dengan alasan karena ternyata para sahabat-pun saling men-jarh, menurut penulis perlu tinjau ulang. Ada beberapa alasan, diantaranya: [1] bahwa ke-adalah-an para sahabat merupakan konsensus (ijma’) para ulama, baik dalam kalangan Ahlu sunnah, Mu’tazilah, dan Zaidiyah. (lihat: Nur al-Din ‘Iter, hlm. 122 & Faruq Hammadah, Manhaj al-Islamiy fi al-Jarhi wa al-Ta’dil, hlm. 214) [2] bahwa apa yang dilakukan oleh para sahabat yang men-jarh sahabat yang lain, bukanjarh. Tapi aktivitas tersebut adalah ta’lil. Dan secara filosofis itu dua hal yang berbeda. Tajrih mengacu kepada periwayat, apakah dia tsiqah dan sebagainya.
Sementara ta’lil mengacu kepada persoalan kritik atas kecermatan seorang sahabat lainnya, yaitu kecermatan dalam menukil redaksi sebuah riwayat, bukan dalam hal kejujuran atau seringnya melakukan kekeliuran.
Itulah sebabnya meskipun Siti Aisyah melakukan kritik terhadap riwayat Abu Hurairah, Umar dan Abdullah bin Umar, dia tetap mengakui kejujuran mereka. Aisyah mengatakan “Sesungguhnya kalian menyampaikan kepadaku bukanlah dari orang yang berdusta dan didustakan. Hanya saja pendengaran keduanya salah.” (al-Adabi, Manhaj Naqdi al-Matn, hlm. 113-116).
Jadi, praktek jarh di atas bukan dalam hal adalah, tetapi dalam hal kecermatan meriwayat. Bukan pula dalam hal kecermatan secara umum (dhabt), melainkan kecermatan untuk hadis tertentu saja.
Berikut penjelasan Imam al-Hakim tentang perbedaan jarh dan ta’lil:
وَإِنَّمَا يُعَلَّلُ الْحَدِيثُ مِنْ أَوْجُهٍ لَيْسَ لِلْجَرْحِ فِيهَا مَدْخَلٌ، فَإِنَّ حَدِيثَ الْمَجْرُوحِ سَاقِطٌ وَاهٍ، وَعِلَّةٌ الْحَدِيثِ يَكْثُرُ فِي أَحَادِيثِ الثِّقَاتِ
“hadis-hadis yang dinilai muallal dengan berbagai metode tidaklah melibatkan metode jarh didalamnya. Karena hadis yang majruh adalah hadis yang lemah. Sementara illat hadis banyak terdapat dalam hadis-hadis yang dinilai tsiqah.
Sementara itu, kaedah semua sahabat adalah adil dirumuskan oleh para ulama hadis bukan dimaksudkan untuk semua para sahabat tanpa terkecuali, karena faktanya ada di antara sebagian mereka, misalnya, ada sahabat yang sholat dalam keadaan mabuk sebagaimana yang dilaporkan oleh Imam al-Dzahabi dalam kitabnya al-Nubala’. Tetapi patut pula dicatat bahwa tidak satu laporanpun, ada ulama atau rawi yang meriwayatkan hadis dari sahabat yang telah tercabut ke-adalah-annya tersebut. Dengan demikian, kaedah tersebut hanyalah merupakan bentuk ta’mim karena melihat kepada hukum asal keutamaan sahabat (lihat: Hammadah, al-Jarhi wa al-Ta’dil, hlm. 219.)

2. Tidak ada kesepakatan di antara para ahli Jarh wa ta’dil

Dalam hal ini Kang Jalal membawakan pernyataan dari Imam al-Dzahabi bahwa “Tidak terjadi kesepakatan sama sekali antara dua orang ulama Jarh dalam mentsiqahkan perawi yang dhaif dan mendhaifkan perawi yang tsiqah”
Kita katakan bahwa apa yang dinyatakan oleh Kang Jalal akan menjadi benar jika yang dimaksud adalah bahwa para ulama seringkali berbeda pendapat mengenai periwayat yang belum masyhur tsiqah dan tidaknya. Akan tetapi jika periwayat tersebut telah masyhur baiktsiqah atau kelemahannya, maka para ulama Jarh tidak mengalami perbedaan pendapat. Karena itu pernyataan al-Dzahabi itu digunakan oleh Kang Jalal bukan pada tempat (fi ghairi maudhu’ihi).
Disamping itu, pernyataan bahwa para ulama dalam bidang ini tidak pernah mencapai kesepatan mengenai status periwayat, jelas melanggar fakta yang ada. Alasannya ada banyak diantara para rawi yang masyhur ke-tsiqah-annya sehingga tidak ada perbedaan pendapat penilaian dari kalangan kritikus hadis.
Misalnya, Imam Malik, Syubah, Sufyan al-Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Abdullah bin al-Mubarak, Waki’ dan yang lainnya. Kita patut bertanya kepada Jalal, pernahkah ada seorang kritikus hadits yang men-jarh nama-nama tersebut di atas?

1. Subjektivitas al-Jarh wa al-Ta’dil

Jalal menilai bahwa ilmu ini mengandung aroma subjektivitasme yang sangat kuat dalam menilai sebuah riwayat. Misalnya, seseorang didhaifkan karena mengejar keledai, kencing berdiri, dan yang paling banyak terjadi pen-jarhan terhadap seseorang karena persaingan di antara para ulama atau fanatisme mazhab. (Misteri Wasiat Nabi, hlm. 36)
Problem adanya jarh yang tidak relevan memang ada. Tetapi kritik-kritik yang tidak relevan tidak lantas menjadikan rawi tersebut kredibilitasnya menjadi gugur. Hal ini seperti yang ditegaskan oleh al-Khatib al-Bagdhadhi dalam kitabnya al-Kifayah fi al-Riwayah di bawah Bab
ذكر بعض أخبار من استفسر في الجرح فذكر مالا يسقط العدالة
Kita bisa mengajukan bukti bahwa para ulama dalam bidang ini berupaya semaksimal mungkin menghindari biar-bias subjektivitas. Buktinya, perhatikan ucapan Zaid bin Abi Anisah, “Janganlah kalian mengambil hadis dari saudaraku, yakni Yahya bin Abi Hanisah. (shahih Muslim, Syarah Imam Nawawi, al-Muqaddimah, bab al-isnad min al-din,1/181).
Juga ucapan Abu Daud, “Sungguh anakku, Abdullah, seorang pendusta. (al-Dzhabi, Tahqiq,Siyar ‘a’lam al-Nubala’, juz 3, hlm. 228). Bukti lain, suatu ketika Abd al-Khaliq bin al-Manshur bertanya kepada Imam Yahya bin Ma’in tentang Ali bin Qarin, maka Yahnya berkata bahwa dia seorang pendusta. Lantas Abd al-Khaliq berkata “wahai Abu Zakaria bukankah dia banyak mengadakan kesepakatan dengan kalian? Imam Yahya menjawab “Benar dia banyak mengadakan persetujuan dengan kami, hanya saja saya malu kepada Allah berkata kecuali yang benar. Sungguh dia adalah kadzzab” (al-Bagdhadi, Tarikh Bagdad, juz 12. Hlm. 51).

2. Fanatisme Mazhab dan penolakan terhadap rawi dari Mazhab ahlul Bait

Kritik yang sama juga disampaikan oleh Ahmad Amin dan Mahmud Abu Rayyah. Tapi pertanyaan kritisnya, benarkah kedua hal di atas membuat para ulama tidak bersikap objektif dalam menilai kualitas dan kredibilitas seorang rawi?
Salah satu prinsip dalam ilmu ini, bahwa jarh tidak dilakukan kepada siapapun yang berbeda dengan paham ahlu sunnah selama bukan bid’ah yang menyebabkan kekafiran, atau mereka mengajak kepada kebid’ahan mereka. Praktek jarh yang dilakukan terhadap sesama atau di luar ahlu sunnah, semuanya kembali kepada satu substansi; yaitu apakah rawi tersebut jujur, adil, dan memiliki akurasi hapalan yang kuat (dhabt), bukan kepada perbedaan dan fanatisme mazhab.
Itulah sebabnya kita mendapati fakta bahwa dalam al-kutub al-sittah ada banyak perawimubtadi’ namun riwayat mereka diterima selama terpenuhinya syarat-syarat diterimanya sebuah hadis.
Misalnya Imam Bukhari menerima riwayat ‘Ibad bin Ya’qub al-Rawazani yang dalam penilaian Ibnu Khuzaiman dia seorang yang shaduq namun dicurigai kualiatas agamanya (al-muttahim fi dinihi), menerima riwayat Aban bin Taglib yang dalam penilaian al-Dzhabi “bagi kita kejujurannya, dan baginya kebid’ahannya”.
Adapun masalah yang kedua; penolakan terhadap riwayat Mazhab Ahlul Bait, Pertanyaannya Apa benar ulama ahli Hadis menolak semua riwayat golongan Syiah?
Jika, misalnya, mengacu kepada kitab Shahihnya Imam Bukhari, kita mendapat fakta bahwa beliau ternyata masih menerima riwayat dari kalangan Syiah (tasyayyu’), padahal beliau dikenal sebagai ulama yang ketat (mutasyaddid). Ibnu Hajar telah mengumpulkan para narator yang dianggap tasyayyu’ yang diterima riwayatnya oleh Imam Bukhari dalam kitabnyaHadyu al-Sariy.
Di dalam kitabnya Imam Bukhari meriwayatkan 29 hadis dari imam Ali, 5 hadis dari Abbas, 2 hadis dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib, 217 hadis dari Abdullah bin Abbas, 1 hadis dari Sayyidah Fathimah (Ibnu Hajar Hadyu al-Sari Muqaddimah Fathul Bari, hlm. 499-501)
Hanya saja perlu dijelaskan, bahwa Syiah yang dimaksud dan dipahami oleh ulama-ulamamutaqaddimin, termasuk di dalamnya adalah Imam Bukhari, berbeda dengan Syiah yang kita kenal pada era sekarang (Syiah Rafidhi).
Imam Ibnu Hajar menulis “Dalam pandangan ulama mutaqaddimin tasyayyu’ hanyalah sebatas keyakinan bahwa Ali lebih utama daripada Utsman, keyakinan bahwa Ali benar peperangannya, yang menyelesihinya salah. Mereka tetap mengakui keuatamaan Abu Bakar dan Umar, tapi sebagian mereka meyakini Ali manusia yang paling utama setelah Nabi. Adapun Tasyayyu’ dalam pandangan ulama Muta’khhirin maka mereka adalah Rafidli murni. Tidak boleh menerima riwayat mereka”(Ibnu Hajar al-Asqalany, Tahdzib al-Tahdzib, vol i, hlm. 53.
Oleh: Umar Hadi, pengasuh Pesantren Hidayatullah Berau dalam hidayatullah.com