Jangankan Bima Arya, Quraish Shihab pun Memperingatkan Pemerintah untuk Mewaspadai Syi’ah

10/26/2015

Jangankan Bima Arya, Quraish Shihab pun Memperingatkan Pemerintah untuk Mewaspadai Syi’ah

Tags

Sikap tegas Bima Arya yang melarang kegiatan Syi’ah di Bogor telah menimbulkan kontroversi. Walau demikian, kita patut mengapresiasi sikap beliau karena kewaspadaan akan adanya kegaduan. Mengingat sikap beliau itu muncul setelah mendengarkan arahan para ulama dan masyarakat setempat.

“Udah kita awasi terus agar tidak ada kegiatan apapun, sesuai kesepakatan kita dengan MUI. Saya juga berdialog dengan warga, warga tidak mau ada kegiatan, oke stop!” tegas Bima sebagaimana dilansir suara-islam, Sabtu (24/10/2015).

Seakan tidak main-main, pelarangan itu pun beliau tuangkan dalam surat edaran bernomor 300/1321 resmi dalam rangka menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban di Kota Bogor.

Apakah Syi’ah Perlu Diwaspadai?

Sebenarnya, kita tidak akan heran ketika melihat adanya kewaspadaan di atas jika kita memperhatikan fatwa Prof. Dr. Quraish Shihab tentang syi’ah itu sendiri. Sebagaimana di dalam buku beliau ‘Fatwa-Fatwa; Seputar Wawasan Agama,’ beliau telah menjelaskan panjang lebar perbedaan antara Ahlussunnah dan Syi’ah.


Dalam buku tersebut, pengarang tafsir al-Mishbah ini menyebutkan 3 perbedaan mendasar antara Ahlussunnah dan Syi’ah. Tiga perbedaan itu adalah imamah, sikap terhadap sahabat Nabi, dan sikap terhadap Pemerintah.

Untuk perbedaan yang ketiga inilah yang perlu diperhatikan dengan saksama. Salah satu ulama tafsir Indonesia ini menjelaskan bahwa ahlussunnah dan syiah, keduanya mensyaratan agar pemimpin itu harus bisa berbuat adil. Tapi antara keduanya ada perbedaan mencolok.

Ahlussunnah ketika menyikapi pemerintahan yang zalim tidak serta merta memerintahkan untuk memberontak. Sikap memberontak bagi Ahlussunnah atas pemimpinnya itu sangat diminimalisir sedemikian rupa, kecuali bila melihat kekufuran yang amat nyata dan ada alasan pembenaran yang pasti dari Allah dari perilaku pemimpinnya itu. Hal itu didasari agar tidak terjerumus pada mudarat yang lebih besar, yaitu kekacauan. Oleh karenanya, Ahlussunnah memiliki prinsip 
“Pemerintah yang berlaku aniaya lebih baik daripada kekacauan. Keduanya tidak ada segi kebaikannya, namun dalam kejelekan pun terdapat pilihan.”

Pandangan ini berbeda dengan keyakinan syi’ah. Mereka tidak bersedia bekerjasama dengan pemerintah yang aniaya sedikitpun. Akibatnya, mereka tidak segan-segan memberontak kepada pemerintah yang ada. Bahkan Khomeini memperingatkan para ulama syi’ah untuk tidak segan-segan mengangkat senjata. Atas dasar ini pula, maka kita akan menjumpai banyak sekali pemberontakan yang dikobarkan oleh Syi’ah dari dahulu hingga sekarang sehingga negeri itu menjadi kacau, tak menentu.

Akhirnya, Quraish Shihab pun menulis dalam bukunya itu, yang seakan berpesan kepada Pemerintah:

“Kewajiban pemerintah antara lain adalah memelihara ketenangan masyarakat sehingga tidak terusik dengan aliran atau pandangan yang tidak sejalan dengan pandangan mereka. Ini belum lagi jika diduga akan adanya ekspor revolusi atau memfungsikan ulama dan ahli-ahli fikih sama dengan fungsi yang digariskan di atas, yaitu memikul senjata dan mengumumkan perang.