Inilah Pengaruh Animisme terhadap Kehidupan Umat Islam 1

10/13/2015

Inilah Pengaruh Animisme terhadap Kehidupan Umat Islam 1

1.       Mengambil Ruh Manusia Hidup

Menurut ajaran animisme, manusia itu mempunyai zat ruh tertinggi daripada ruh-ruh lainnya. Bila sebagian anggota manusia sakit, maka itu disebabka kekurangan zat ruh. Sebab itu, ada di antara mereka yang selalu berusaha untuk menambah kekuatan ruhnya dengan mengambil zat ruh orang lain. Praktik pengambilan ruh itu mereka lakukan melalu seorang dukun dengan cara yang amat sadis: memenggal kepala manusia, untuk dijadikan sajen. Bila syarat ini sulit dipenuhi, maka si dukun meminta ruh binatang atau tumbuhan, karena kedua jenis ruh ini dianggap mempunyai zat ruh yang dapat membantu zat ruh manusia.

Penggalan kepala manusia atau binatang tersebut, seringkali dijadikan santapan mereka, misalnya diisap darahnya atau dimakan otaknya dengan alasan agar mereka kuat dan cerdas. Bahkan, tak jarang penggalan itu dijadikan tumbal (penguat bangunan), juga dengan alasan agar bangunan tersebut menjadi lebih kuat.

Hukum Islam memandang perbuatan tersebut, selain tidak manusiawi, juga merupakan dosa besar, dan pelakunya diancam neraka. Firman Allah:

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam. Kekal ia di dalamnya, dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya, serta menyediakan azab yang besar.” (Q.S. an-Nisa’: 93)

2.       Pantangan Memakan Daging Binatang

Sebagian masyarakat Islam di Jawa beranggapan bahwa daging binatang rusa atau kijang tidak boleh dimakan. Bukan karena haram, tapi dagingnya tersebut dianggap dapat membawa pengaruh buruk terhadap mental manusia. Ada juga larangan-larangan seperti, makan ikan laut, kuning telur ayam, dan masih banyak lagi. Pengaruh ini mungkin datang dari sebagian ajaran Hindu penganut tatim atau dari ajaran Suci Rahayu yang melarang memakan segala jenis binatang.[1] Kemungkinan lain berasal dari tradisi kehidupan orang Baduy, di Banten, Jawa Barat, yang juga pantang makan daging binatang. Kalaupun mereka makan, dengan syarat: daging binatang itu harus habis. Kalau tidak, ruhnya akan bergentayangan.

Selain itu, kini ada di antara masyarakat Islam yang punya anggapan bahwa memakan daging binatang yang berwatak keras, seperti anjing, kera, dan sebagainya dibolehkan, bahkan diharuskan. Padahal, Islam dengan tegas mengharamkannya.

3.       Darah Manusia dan Binatang

Masyarakat animisme beranggapan bahwa darah merupakan tempat bersemayamnya zat ruh. Sebab itu, mereka seringkali menggunakan darah sebagai sajian makanan untuk para jin atau setan. Cara mereka menggunakan darah tersebut bermacam-macam: ada yang menggosokkannya ke bagian tubuh atau senjata yang dianggapnya jimat, dengan tujuan mendapatkan kekuatan. Ada juga yang menjadikannya sebagai asihan (pemikat) agar seseorang tertarik kepadanya.

Umat Islam semestinya tidak terpengaruh dengan pandangan tersebut, sebab Islam tidak memandang bahwa darah mempunyai kekuatan mistis. Darah hanya merupakan cairan yang terdiri atas plasma dan sel-sel (merah dan putih) yang mengalir dalam pembuluh. Fungsinya dalam tubuh, bukan sebagai tempat bersemayamnya ruh, tapi sebagai penggerak organ-organ tubuh. Bahkan dalam hukum fikih, darah tergolong barang yang najis, kecuali limpa dan hati.

4.       Polesan Air Ludah

Di sebagian masyarakat Islam Indonesia, sudah lama berlaku anggapan bahwa air ludah manusia kharismatik, seperti kyai, sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia, terutama anak-anak usia balita. Maka seringkali air ludah tersebut dijadikan obat kepintaran atau kecerdasan si anak. Kepercayaan yang berasal dari animism ini menjadikan sebagian umat Islam melakukan perbuatan bid’ah. Padahal, cara-cara seperti itu merupakan pengkultusan terhadap seseorang, yang sebenarnya sangat dilarang dalam Islam. Rasulullah saw. bersabda:

“Binasalah orang yang mengkultusindividukan seseorang. Beliau mengatakan hal itu sampai tiga kali.” (HR. Muslim)
(Lihat: Inilah Pengaruh Animisme terhadap Kehidupan Umat Islam 2)



[1] Kamil Kartapraja, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan di Indonesia, hlm. 176.