Mushaf Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat;  Melestarikan Tradisi Penyalinan Qur'an

9/15/2015

Mushaf Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat; Melestarikan Tradisi Penyalinan Qur'an

Tags

Untuk melestarikan tradisi penyalian Qur’an di istana, Keraton Yogyakarta pada tahun 2011 menerbitkan “Mushaf Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat” yang ditandatangani resmi oleh Sultan Hamengkubuwono X tertanggal 20 Mei 2011. Dapat dikatakan bahwa Keraton Kasultanan Yogyakarta dalam hal ini merupakan perintis, karena kasultanan lain tampaknya belum ada yang mengawali untuk meneruskan kembali tradisi penyalilan al-Qur'an di istana. Kaligrafi teks ayat dimodifikasi dari Mushaf Madinah karya Usman Taha. Mushaf ini dicetak oleh Lembaga Percetakan Al-Qur'an (LPQ), Kementerian Agama RI.

 Iluminasi awal mushaf: Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah.

 Model iluminasi “Mushaf Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat” terutama diambil dari mushaf “Kanjeng Kiai Qur’an” yang merupakan mushaf pusaka Kesultanan. Untuk lebih memperkaya, beberapa iluminasi dari manuskrip warisan keraton juga dijadikan acuan penghiasan Qur’an ini. 
Tak pelak, Qur’an yang di toko buku dijual dengan harga Rp140.000,- ini merupakan mata rantai dari tradisi penyalinan Qur’an di lingkungan istana kesultanan Nusantara. Dalam kata sambutan, Sultan Hamengkubuwono X menyatakan,

“Adalah suatu kemuliaan yang tak ternilai bagi saya pribadi beserta seluruh kerabat Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, karena memperoleh berkah, rahmat dan ridha-Nya sehingga dapat mewujudkan tekad untuk memelihara dan menjaga serta melestarikan pusaka budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang telah berumur lebih dari 200 tahun berupa Mushaf Al-Qur’an yang memiliki nilai tiada terkira bagi kehidupan manusia.”


Halaman awal Surah al-Isra'.

 Halaman awal Surah al-Kahf.



Halaman iluminasi akhir mushaf: Surah al-Falaq dan an-Nas.


sumber: quran-nusantara.blogspot.com