Mengenal Mushaf Istiqlal

9/07/2015

Mengenal Mushaf Istiqlal

Tags

Penulisan Mushaf Istiqlal diresmikan oleh Presiden Soeharto pada Festival Istiqlal I, 15 Oktober 1991 (7 Muharam 1412 H), dan diluncurkan oleh Presiden Soeharto pada Festival Istiqlal II, 23 September 1995 (27 Rabi'ul Akhir 1416 H). Sebelum diresmikan, mushaf ini telah mengalami pentashihan oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur'an Departemen (sekarang Kementerian) Agama RI, selesai pada 6 Juni 1995 (7 Muharam 1416). 
Para khattat Mushaf Istiqlal adalah KH Abdurrazaq Muhili (perancang pola), HM Fa'iz AR (ketua), M Abdul Wasi AR, H Imron Ismail, Baiquni Yasin, Mahmud Arham, Islahuddin (anggota), serta HM Idris Pirous (asisten).
Halaman Surah al-Fatihah.

Mushaf Istiqlal ditulis sesuai rasm usmani dengan gaya tulisan Naskhi. Adapun tanda waqaf mengacu kepada Mushaf Standar Indonesia yang telah disepakati oleh para ulama Al-Qur'an Indonesia (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/08/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar_26.html). Teknik dan pola penulisan Mushaf Istiqlal dirancang oleh sebuah tim yang terdiri atas para khattat (penulis indah) dan para pakar desain grafis dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Mushaf Istiqlal tidak berbeda dengan Al-Qur'an lain yang beredar di dunia Islam, kecuali dari segi teknik penulisan dan iluminasinya. Beberapa spesifikasi yang menjadi ciri khas Mushaf Istiqlal antara lain sebagai berikut:
(1) Surah al-Fatihah ditulis di dua halaman bersebelahan (kanan-kiri). Dalam dua halaman tersebut, seluruh ragam budaya Indonesia (waktu itu 27 provinsi, sekarang 33 provinsi) di Indonesia dapat terwakili dalam bentuk iluminasi yang indah, menghiasi khat Surah al-Fatihah sebagai ummul-Qur'an (induk Al-Qur'an).
(2) Setiap awal surah ditulis di awal halaman.
(3) Setiap awal juz ditulis dengan huruf lebih tebal dan terletak di berbagai posisi, yakni di awal atau di tengah ahalaman.
(4) Iluminasi dirancang oleh para ahli desain grafis Indonesia dengan gaya khas budaya dari seluruh provinsi di Indonesia.
(5) Setiap halaman memuat 13 baris, kecuali halaman akhir surah, yang kadang-kadang diisi dengan iluminasi.
(6) Tanda waqaf lazim lebih ditonjolkan daripada tanda-tanda waqaf lain (dengan warna merah).
(7) Tanda-tanda sajdahruku'juz dan hizb diberi iluminasi khusus yang berbeda satu sama lain dan terletak di tepi halaman.
(8) Seluruh halaman Mushaf Istiqlal dihiasi dengan beragam iluminasi yang diwakili seluruh provinsi dan didukung oleh 45 wilayah budaya Indonesia. Di samping itu, iluminasi untuk Surah al-Fatihah (ummul-Qur'an), tengah mushaf (nisful-Qur'an), dan akhir mushaf (khatmul-Qur'an) dirancang khusus, disebut sebagai "iluminasi Nussantara". Setiap 22 halaman, iluminasi berganti dari satu wilayah budaya ke wilayah budaya lainnya.
(9) Sistem penulisan Mushaf Istiqlal menganut kaidah "golden section", yaitu tataletak yang serasi, indah dipandang, dan tidak membuat penat mata pembacanya.
(10) Jumlah halaman 970, lebih banyak daripada mushaf biasanya.
(11) Alat tulis (qalam) yang digunakan disebut handam yang banyak tumbuh di negeri topis seperti Indonesia dan Malaysia(Tumbuhan handam termasuk jenis pakis, lihat: https://www.facebook.com/media/set/?set=a.180694865319589.57343.151131894942553&type=1&comment_id=2863455&offset=0&total_comments=10).
(12) Tinta yang digunakan dalah Martin's Black Star India (Amerika), dan kertasnya merek Durex ex (Jerman).

Ciri lainnya - ini tidak disebut di dalam booklet Mushaf Istiqlal (1995) - adalah penulisan ayat yang menggunakan model teks tengah (center text). Model penulisan teks Qur'an seperti ini senyatanya tidak lazim dalam tradisi penulisan Qur'an di dunia Islam - sepanjang masa! 
Satu Qur'an lainnya yang menggunakan model teks tengah adalah Al-Qur'an Berwajah Puisi yang digagas oleh kritikus sastra HB Jassin dan kaligrafinya ditulis oleh Didin Sirojuddin AR. Pada tahun 1980-an mushaf yang diterbitkan oleh PT Intermasa, Jakarta, ini menjadi kontroversi. Perbedaan antara kedua Qur'an yang menggunakan model teks tengah ini adalah pada pemenggalan ayat. Pemenggalan ayat pada Mushaf Istiqlal tampaknya tidak mempertimbangkan pengertian/makna ayat, sedangkan pada Qur'an Berwajah Puisi, pemenggalan ayat diperhitungkan menurut pengertian/makna ayat, sehingga seakan-akan seperti suatu puisi. Pada akhir baris ayat sering terdapat tanda waqaf (pemberhentian). Jika sambil menghayati makna ayat, terutama ayat-ayat pendek yang mempunyai makna universal, memang cukup "enak" membaca mushaf ini. 
Bagaimanapun, penulisan Qur'an model teks tengah seperti kedua mushaf ini tidak umum di dunia Islam, dan dalam kenyataannya tidak mudah, dan tidak sepenuhnya, diterima oleh masyarakat luas. Mushaf Istiqlal hanya dicetak satu kali (1995), dan Qur'an Berwajah Puisi, seingat penulis, dicetak dua kali.
Karena iluminasinya yang demikian indah, banyak orang ingin memiliki Mushaf Istiqlal, tetapi memang tidak mudah, karena mushaf ini tidak pernah dipasarkan untuk masyarakat luas.
Sumber: Booklet Mushaf Istiqlal, 1995.

Piagam dimulainya penulisan Mushaf Istiqlal.
Piagam selesainya penulisan mushaf.
Halaman iluminasi Surah al-Fatihah (sisi kanan).
Halaman iluminasi Surah al-Fatihah (sisi kiri).

Ragam hias Aceh Besar. Ayat-ayat ditulis rata tengah.

Ragam hias Melayu-Jambi. 

Ragam hias Jawa Timur-1.

Ragam hias Bali Utara. 
Ruang kosong di akhir surah dibubuhi hiasan.

Ragam hias Kalimantan Barat.

Ragam hias Timor Timur.

Ragam hias Gorontalo.

Ragam hias Sulawesi Tengah.

Ragam hias Priangan.

Ragam hias D.I. Yogyakarta-2.

Halaman iluminasi Surah al-Falaq (akhir mushaf).

Halaman iluminasi Surah an-Nas (akhir mushaf).

Daftar iluminasi (ragam hias) Mushaf Istiqlal berdasarkan wilayah budaya.