Kemurahan Hati Rasulullah saw. dan Para Sahabatnya

9/29/2015

Kemurahan Hati Rasulullah saw. dan Para Sahabatnya

Tags

Diantara karakteristik kaum Muslimin, adalah murah hati, sedia berkorban, dan ringan tangan. Rasulullah memuji sikap kedermawanan  dan kebiasaan berinfak, dan sebaliknya, mencela sifat bakhil dan kikir. Beliau Saw bersabda, “Tidak akan berkumpul debu jihad fi sabilillah dengan asap neraka jahanam pada hati seorang hamba selama-lamanya dan tidak akan berkumpul sifat kikir dan iman dalam hati seorang hamba selamanya.”

Ada juga sebuah riwayat bahwa Rasulullah Saw suatu kali bersabda, “Ada tiga hal yang menghancuran, yaitu: kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan membanggakan diri sendiri”

Sebuah riwayat yang sahih dari Nabi Saw menyatakan bahwasanya beliau sangat murah hati dalam kebaikan, bahkan melebihi angin yang berhembus. Ketika dimintai sesuatu, beliau tidak pernah sekalipun mengatakan tidak. Pernah ada seorang lelaki meminta sesuatu kepada Rasulullah. Maka diberinya orang itu kambing sebanyak sekitar dua bukit. Segera saja orang itu mendatangi kaumnya seraya berseru, “Wahai kaumku, masuk Islamlah. Sesungguhnya Muhammad akan memberikan harta benda seperti layaknya orang yang tidak takut fakir.”

Sifat pemurah dan dermawan itu juga dimiliki oleh para sahabat Rasulullah. Abdurrahman bin Auf salah satunya. Pada suatu hari Abdurrahman bin Auf mendengar Rasulullah Saw berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya kamu termasuk orang yang kaya raya, akan tetapi kamu akan memasuki surga dengan merangkak. Maka berilah pinjaman kepada Allah (yaitu menafkahkan hartanya di jalan Allah), niscaya Allah akan menolongmu membebaskan kedua kakimu.” (HR. Imam Ahmad)

Semenjak mendengar itu, Abdurrahman bin Auf memberi pinjaman kepada Rabb-nya dengan pinjaman yang lebih baik. Suatu hari dia membeli tanah seharga 40.000 dinar (menurut situs geraidinar.com, 1 dinar = Rp1.958.965.-, berarti harga tanah sekitar Rp78,4 miliar) kemudian membagikan semua kepada keluarga Bani Zahra, kepada istri-istri Rasulullah, dan kaum Muslimin yang fakir. 

Pada kesempatan yang lain, dia menyediakan 500 ekor kuda untuk berjihad fi sabilillah. Pada hari yang lain lagi, ia menyerahkan 1.500 ekor kuda. Pada saat meninggalnya, ia mewasiatkan 50.000 dinar (Rp98 miliar) dan berpesan pula agar para pejuang Badr yang masih hidup, masing-masing diberi 400 dinar (hampir Rp.800 juta) Sampai-sampai Utsman bin Affan yang kaya raya pun mengambil bagiannya seraya berkata, “Sungguh harta Abdurrahman adalah halal dan suci, maka makan dari harta itu akan menyehatkan dan penuh berkah.”

Oleh karena kedermawanan adalah ciri khas dan tabiat asli kaum Muslimin, maka sifat tersebut tidak hanya pada orang kaya dan yang melimpah harta bendanya. Perhatikan sabda Nabi Saw, “Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham”. Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?”, Beliau pun menjelaskan,“Seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan. Dan seorang yang memiliki dua dirham, lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan.” (HR. Imam Ahmad)

Seorang lelaki fakir dari Anshar bernama Abu Uqail pernah menceritakan dirinya sendiri pada Perang Tabuk, “Sungguh aku bekerja sepanjang malam untuk mengambil air untuk ditukar dengan dua sha’ kurma. Satu sha’ kuberikan kepada orang lain untuk bertaqarrub.” Rasululah Saw menyuruhnya untuk mengeluarkan sedekah dari hasil kerjanya itu. Akan tetapi orang-orang munafik mencelanya karena sedikit jumlah uang yang disedekahkan, bahkan mereka mengatakan, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan satu sha’-nya Abu Uqail.” Allah Swt kemudian menurunkan firman-Nya: 

“(orang-orang munafik itu) Yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.”
 (QS. At Taubah : 79)

Tingkat kemurahan hati yang paling tinggi adalah sikap mengutamakan orang lain.Sebab, memang tidak ada yang melebihi sikap mengutamakan orang lain, dalam hal ini kedermawanan. Allah Swt telah memuji sikap para sahabat Rasulullah Saw yang telah mengutamakan orang lain dengan firman-Nya: 

“dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.
” (QS. Al Hasyr : 9)

Sebab turunnya ayat ini adalah kisah Abu Thalhah yang mengutamakan seorang lelaki yang sedang kelelahan dengan menjamunya dari jatah makannya dan jatah makan anak-anaknya.

Ikrimah bin Abi Jahal, Suhail bin Amru, Al Harits bin Hisyam dan sekelompok dari Bani Mughirah telah menemui ajalnya sebagai syuhada’ pada medan perang Yarmuk. Ketika disodorkan air pada mereka yang semua terluka, mereka semua menolak meminumnya hanya karena ingin mengutamakan saudaranya, hingga akhirnya semua menemui ajalnya sebagai syuhada sebelum merasakan air tersebut. Subhanallah, semoga kita mampu meneladani mereka. Insya Allah.