Teknologi lebih Hebat dari Mukjizat?

8/24/2015

Teknologi lebih Hebat dari Mukjizat?

Tags

Tidak sedikit orang zaman sekarang terkagum-kagum dengan penemuan-penemuan teknologi yang selalu berkembang. Keterkaguman ini adalah wajar karena itu merupakan fitrah manusia yang memiliki akal. Namun menjadi tidak wajar, ketika dia terkagum-kagum sehingga membanding-bandingkannya dengan mukjizat para nabi. Terlebih meyakini bahwa revolusi teknologi lebih hebat dari mukjizat manapun.

Tentu saja asumsi orang bahwa teknologi lebih hebat dari mukjizat, sulit diterima akal yang jernih. Karena antara mukjizat memiliki banyak perbedaan dengan temuan modern seperti pesawat terbang, internet, televisi dan lainnya.

Berbicara mengenail mukjizat, Imam Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri rahimahullah berkata:

اَلْمُعْجِزَةُ هِيَ اْلأُمُوْرُ الْخَارِقَةٌ لِلْعَادَةِ الظَّاهِرَةُ عَلَى يَدِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوَاءٌ كَانَتْ مَقْرُوْنَةً بِالتَّحَدِّيْ أَمْ لاَ

Mukjizat adalah peristiwa yang bersifat supranatural (keluar dari hukum alam) yang terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, baik bersamaan dengan tantangan atau tidak. (Tuhfah al-Murid Syarh Jauharah al-Tauhid, hlm 229).

Dari definisi di atas, dapat dipahami beberapa perbedaan mukjizat dengan temuan ilmiah:
Pertama, mukjizat adalah peristiwa yang bersifat supranatural atau keluar dari hukum alam, sedangkan temuan ilmiah dan teknologi modern masih bersifat natural atau dalam lingkup hukum alam. Oleh karena itu, mukjizat tidak dapat terjadi kepada semua orang, akan tetapi khusus kepada para nabi atau sebagian wali sebagai karomah. Sedangkan temuan ilmiah dapat ditiru oleh siapapun yang mempunyai kemauan, karena sifatnya masih natural dan alamiah.

Kedua, mukjizat sebagai peristiwa yang keluar dari batas hukum alam, tentu terjadi secara spontan dan bukan hasil usaha. Sementara temuan ilmiah modern adalah hasil usaha, eksperimen dan penelitian yang memakan waktu tidak sebentar. Mengapa demikian, karena mukjizat identik dengan kenabian yang memang tidak dapat dicapai dengan usaha, akan tetapi murni anugerah dari Allah.

Ketiga, mukjizat hanya terjadi pada seorang nabi, yaitu orang-orang yang diberi anugerah sekian banyak sifat kepribadian yang luar biasa, baik zhahir maupun batin. Sementara temuan ilmiah modern dapat dilakukan oleh siapa saja dan bahkan bisa dilakukan oleh orang yang kemampuan otaknya tidak begitu istimewa. Ketika di pesantren dulu, ada kawan yang kemampuan otaknya biasa, tetapi punya keahlian dalam memperbaiki listrik dan mesin.

Keempat, mukjizat kadang terjadi ketika seorang nabi menghadapi tantangan dari kaumnya yang tidak beriman, sebagai bukti kenabiannya. Kadang terjadi tanpa ada tantangan, sebagai pemantapan terhadap keimanan kaumnya. Sementara temuan ilmiah tidak demikian adanya. Seseorang tidak akan mantap bahwa si penemu sebagai wali atau nabi karena temuannya, karena masih bisa ditiru oleh orang lain.

Walhasil, membandingkan temuan ilmiah modern dengan mukjizat para nabi tidak proporsional, apalagi berasumsi bahwa temuan ilmiah modern melebihi mukjizat.

Disarikan dari: tulisan Muhammad Idrus Romli tentang hakikat mukjizat