Menyoal Modul Pembelajaran PAI Berbasis 'Islam Damai'

8/22/2015

Menyoal Modul Pembelajaran PAI Berbasis 'Islam Damai'

Tags

Beberapa waktu lalu, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan pemblokiran beberapa situs Islam yang dilakukan sepihak oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika (Menkominfo).
Media-media Islam tersebut dianggap telah menyebarkan paham radikalisme melalui pemberitaan mereka. Meski akhirnya simpul pemblokiran dibuka kembali namun tetap saja asumsi “media radikal” terlanjur memasung pemikiran sebagian masyarakat Indonesia.
Meski definisi radikalisme agama masih dipertanyakan keabsahan dan penggunaannya, namun stigma negatif tersebut kadung melekat dan ditujukan kepada umat Islam.
Kini ibarat bola liar,  cap buruk itu terus menggelinding tanpa arah yang jelas. Bahkan jika mengurut dari sejarah, sejak dulu umat Islam telah beroleh cap tersebut. Mulai dari istilah Islam Pemberontak, Islam Fundamental, Islam Garis Kanan, Islam Radikal hingga kepada stigma teroris yang ditimpakan kepada umat Islam.
Baru-baru ini Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia juga meluncurkan standarisasi modul pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang disebutnya berbasis Islam Damai atau Islam Rahmatan lil Alamin. Dalam keterangan yang dilansir Harian Republika (Rabu, 12/08/2015), Menteri Agama Lukman Halim Saifuddin menyatakan harapannya agar dengan modul tersebut, paradigma terkait substansi materi ajar dan metodologi penyampaian akan diseragamkan.
“Ini salah satu cara Kemenag menyikapi paham yang cukup ekstrem yang sesungguhnya bukan merupakan cermin ajaran Islam,” demikian Lukman usai membuka kegiatan pentas seni PAI di Bekasi, seperti yang dimuat Republika lalu.
Menurut Lukman, setidaknya ada 47 juta anak Indonesia yang belajar agama Islam di sekolah. Diharapkan, dengan modul seragam ala Islam Damai tersebut, para siswa tersebut bisa mendapatkan materi tentang Islam yang menghargai perbedaan, damai, dan toleran.
Senada, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Kamaruddin Amin menguatkan, proses penyusunan modul ini telah dilakoni sejak tahun 2014.
Sebanyak 30 guru terbaik dari seluruh Indonesia lalu dikirim mengikuti Religius Education, Oxford University, Inggris. Tak hanya sampai di situ, lanjut Kamaruddin, sebab sekembali dari Oxford, masih terdapat sejulah workshop untuk menyempurnakan modul pelajaran PAI tersebut.
Bagi seluruh masyarakat Indonesia, terkhusus umat Islam, pendidikan yang mengajarkan kekerasan apalagi berbuat dzalim tentu saja tak diperbolehkan. Islam adalah agamawasathiwatermainah (pertengahan) yang mengedepankan perilaku adab dan berbuat adil. Hal itu ditegaskan dalam sejumlah tujuan pendidikan Islam yang dirumuskan oleh para ulama dan tokoh pendidikan Islam.
Syed Muhammad Naquib al-Attas mengatakan, bahwa tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan manusia yang beradab atau manusia yang baik (a good man). Manusia beradab atau insan adabiy adalah manusia yang mengenal Tuhannya, mengenal dan mencintai Nabinya, menjadikan Nabi sebagai uswatun hasanah, menghormati para ulama sebagai pewaris Nabi, memahami dan meletakkan ilmu pada tempat yang terhormat.
Ia juga bisa memilah dan memahami antara ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, antara ilmu yang bermanfaat dan yang merusak, serta sanggup menjalankan fungsi sebagai abdullah dan khalifah di muka bumi. (Lihat buku Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam, Depok: Gema Insani, 2013).
Untuk itu, penulis berharap ada keadilan dalam menerapkan modul pembelajaran PAI tersebut, khawatir jika yang terjadi justru penggerusan nilai-nilai dan ajaran Islam. Alih-alih menjelaskan makna Islam dengan benar, nyatanya malah mengaburkan dan menjauhkan anak-anak dari pendidikan agama.
Terakhir, fakta di lapangan menyebutkan, tak sedikit umat Islam menjadi korban penganiayaan dan kedzaliman atas nama “cap teroris”. Padahal oleh aparat kepolisian,  ia masih berstatus dan dianggap sebagai “terduga” saja. Di saat yang sama, para pelaku kerusuhan yang menganiaya umat Islam terkesan didiamkan dan dibiarkan begitu saja oleh aparat terkait. Lalu kemana ajaran toleransi dan damai itu?

Oleh: Masykur, Mahasiswa Magister Pendidikan Islam UIKA Bogor, peserta Kaderisasi Seribu Ulama Baznas