Puasa Membentuk Karakter Berkualitas

7/07/2015

Puasa Membentuk Karakter Berkualitas

Bulan Ramadhan bagi kaum muslimin adalah melaksanakan puasa sebagai perwujudan keimanan. Makna puasa (shiyam) secara harfiah : al-imsak artinya berpantang atau menahan diri daripada melakukan sesuatu. Dalam istilah syara’ al-shiyam diartikansebagai menahan diri daripada makan, minum, berhubungan seksual sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.
 
Inti pokok kandungan pengertian al-shiyam sebenarnya pada “proses menunda kesenangan sesaat” untuk mendapatkan“kepuasan/keberhasilan yang maksimal di masa datang”. Kemampuan menunda kesenangan sesaat berkaitan dengan “pengendalian diri” atau “sabar”. Itulah sebabnya ada hadist mengatakan bahwa al-Shiyam nisfu shabr, al-shabr nisfu al- Iman artinya Puasa adalah sebagian dari sabar; dan sabar adalah sebagian dari iman.

Tradisi puasa adalah gejala universal. Artinya telah dilakukan oleh berbagai orang, berbagai agama, berbagai suku/bangsa dalam berbagai peradaban. Sebagaimana Al Quran menjelaskan  :“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimanadiwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(QS. al-Baqarah: 183). Pada ayat tersebut al-Qur’an suci menjelaskan bahwa tujuan puasa adalah agar manusia menjadi taqwa yakni menjaga diri dari berbuat kejahatan.

Taqwa (Tattaqun) berasal dari ittaqa artinya“menjaga sesuatu dari apa yang membahayakan dan melukai” atau “menjaga diri dari apa yang dikhawatirkan akan berakibat buruk pada dirinya.” Artinya dalam altar syari’ah Islam; tradisi puasa telah dielaborasi kepada ketinggian moralitas dan keluhuran budi manusia. Itulah yang disebut manusia yang mencapai maqamatmuttaqin.

Puasa adalah sarana pendidikan bagi pembentukan ahlak manusia. Bulan puasa sering juga di sebut madrasat al-shaum (sekolah puasa). Karena pada bulan tersebut seorang muslim ditempa dalam latihan-latihan spiritual (riadhah) dengan menjalankan wajib puasa dan sunah-sunah puasa seperti memperbanyak baca Al Quran, solat/doa dzikir dsb. Inti pokok pertalian antara puasa dan pendidikan adalah pada tujuannya yaitu: takwa.

Dalam Islam, pendikan dikenal dalam tiga konsep kunci yang meliput pengertian pendidikan Islam secara simultan. Artinya substansi pendidikan Islam meliputi kegiatan ta’lim, tarbiyah dan ta’dzib. Ini disetarakan dengan konsep phaedagogiek dalam pendidikan umum. Oleh karena itu sarana untuk mewujudkan tujuan akhir pendidikan Islam( ultimate goal  ) dilakukan dengan mewujudkan tujuan antara (intermediate goal ) yaitudengan mencapai empat ahdaf  yakni: (1). Ahdaf al- Jismiyyah (fisik manusia); (2).Ahdaf al-Aqliyyah (akal manusia); (3). Ahdaf al-Ruhaniyyah (spritualitas manusia);(4). Ahdaf al-Ijtimaiyyah (sosial manusia); Ahdaf disini dapat diartikan dengantujuan pengembangan matra/dimensi manusia. Maksud ahdaf-ahdaf tersebut adalah pendidikan harus mampu mengembangkan potensi fisik/tubuh manusia; potensi akalmanusia/ kecerdasan intelelektual; potensi kecerdasan spiritual/emosional manusia; dan kecerdasan sosial manusia agar berkembang menjadi manusia paripurna (insankamil).

Untuk melatih manusia mencapai keempat ahdaf tersebut, sarana puasa ( shiyam)adalah wahana terbaik. Karena dalam ibadah puasa akan terkandung empat nilai yang berguna bagi manusia dalam membentuk karakter.

Pertama: Nilai Puasa Bagi Jasmani

Pemberian istirahat selama satu bulan kepada alat pencernaan, akan menambahkuatnya alat itu. Seperti tanah jika diberi istirahat, akan menjadi subur dan lebih produktif. Demikian juga anggota badan, apabila diberi istrahat akan menambah besarnya energi. Dan apabila tenaga alat pencernaan bertambah baik, maka semakinsehatlah pertumbuhan badan manusia. Tetapi selain itu puasa mempunyai nilai yanglebih penting lagi bagi jasmani manusia. Orang yang tak dapat menghadapi kesukaranhidup, yaitu orang yang tak dapat hidup tanpa kesenangan sehari-hari, ia tak mampu bertahan hidup (survive). Orang semacam itu jika sewaktu-waktu terlibat dalamkesukaran hidup, ---yang tentu kapan saja pasti datang--- ia akan hilang kekuatannya.Puasa membiasakan orang untuk menghadapai kesukaran hidup, karena puasaadalaha ajaran praktek untuk itu dan untuk memperbesar daya tahan. 

Kedua: Disiplin Rohani

Puasa menurut Islam terutama sekali adalah untuk melatih disiplin rohani. Dalam al-Qur’an pada QS:9:112 dan QS: 66:5 diterangkan bahwa orang berpuasa itu disebut sa’ih (berasal dari kata saha makna aslinya adalah bepergian) jadi orang berpuasasebenarnya adalah musafir rohani. Menurut Imam Raghib al-Isfahani, jika orangmenjauhkan diri bukan saja dari makan dan minum, melainkan pula dari segalamacam kejahatan ia disebut sa’ih. Dalam hadits ditekankan bahwa tujuan puasa ialah untuk mencari ridha Ilahi. Barangsiapa yang berpuasa para bulan Ramadhan karena iman kepadaku….. (Bukhari: 2:28). Nabi suci bersabda: “Puasa adalah perisai, maka dari itu orang sedang berpuasa janganlah berbicara kotor….. dan sesungguhnya bau mulut orang berpuasa itu lebihharum bagi Allah dari minyak kesturi; ia berpantang makan, minum dan syahwatnyahanya untuk untuk mencari ridhaKu; puasa hanyalah untukKu (Bukhari: 30:2).

Tak ada godaan yang lebih besar dari godaan untuk memenuhi gejolak makan danminum apabila makanan dan minuman telah tersedia, namun godaan dapat diatasi bukan hanya sekali atau dua kali, seakan-akan hanya kebetulan saja, melainkan berhari-hari sampai satu bulan lamanya, dengan tiada tujuan lain selain mendekatkandiri kepada Allah. Ia dapat menikmati makanan yang lezat, namun tetap memilihkeadaan lapar; ia mempunyai minuman yang segar, namun tetap mengeringkantenggorokannya karena dahaga; ia tak menyentuh makanan atau minuman hanyakarena ia sadar bahwa itu adalah perintah Tuhan. Di rumah yang sepi , tak ada orang tahu bahwa ia membasahi tenggorokannya dengan segelas minuman yang segar,namun dalam bathinnya telah berkembang perasaan dekat dengan Allah, sehingga ia tidak mau meneteskan setetes air pun ke dalam mulutnya.

Apabila datang lagi godaan baru, ia pasti dapat mengatasi itu, karena di saat-saat kritis tentu terdengar suara bathin: “Allah ada disampingku, dan Allah melihatku”Tak ada ibadah yang dapat memperkembangkan perasaan dekat dengan Allah dan perasaan berada disampingNya, selain ibadah puasa yang dijalankan secara terusmenerus selama satu bulan. Adanya Allah bagi orang lain baru pada tingkat “iman,”tetapi bagi orang yang berpuasa sudah merupakan “realitas.” Dan kenyataan itu hanyadapat dicapai dengan disiplin rohani yang menjadi dasar puasa. Kesadaran akanadanya hidup yang tinggi, lebih tinggi dari pada hidup yang sekedar hanya untuk makan dan minum, telah dihayati oleh dirinya dan hidup itu adalah “kehidupanrohani”.


Ketiga: Disiplin Moral

Puasa menjadi dasar disiplin moral, karena puasa menjadi tempat latihan manusia,dan tempat diajarkannya ahlak yang tinggi. Yaitu ajaran supaya manusia siapmenghadapi penderitaan yang amat berat, cobaan yang besar, pantang menyerahkepada sesuatu yang terlarang baginya oleh Allah. Ajaran itu diulang tiap-tiap hariselama satu bulan lamanya dan sebagaiman latihan jasmani dapat memperkuat tubuhmanusia, demikian pula melatih ahlak dengan dengan puasa, yaitu menjauhkan diridari segala sesuatu yang terlarang, akan memperkuat moral bagi hidupnya.Pengertian bahwa segala sesuatu yang terlarang harus disingkiri, dan segala sesuatuyang buruk harus dibenci, ini hanya dapat diperkembangkan melalui puasa.
 
Dengan jalan puasa dapat dicapai pula aspek lain bagi perkembangan ahlak manusia, yaitumenaklukan hawa nafsu jasmaniahnya. Manusia mengatur waktu makan berselang-seling, dan ini memang aturan hidup yang baik; tetapi puasa selama sebulanmengajarkan kepada orang berpuasa ajaran yang tinggi. Yaitu ia bukan lagi manjadi budak nafsu makan dan nafsu jasmaninya, melainkan menjadi majikannya, karena iadapat mengubah haluan hidupnya sesuai kemauannya. Manusia yang dapatmenguasai nafsunya, yaitu mengendalikan nafsu itu sesuai keinginannya, bahkankekuatan bathinnya bagitu kuat sehingga ia dapat memerintah nafsunya, ia adalahmanusia yang telah mencapai derajat ahlak paling tinggi.

Kempat: Nilai Sosial

Sebagaimana diuraikan dalam al-Qur’an, puasa selain mempunyai nilai-nilai moraldan rohani, mempunyai pula nilai sosial yang efektif dari pada nilai sosialsembahyang. Pada waktu sembahyang semua penduduk disekeliling mesjid, baik kaya maupun miskin, besar mupun kecil shalat berjama’ah lima kali dalam sehari dimesjid dalam kedudukan yang sama. Dengan demikian, pergaulan masyarakat yang sehat dapat dicapai melalui shalat. 
Tetapi dengan tibanya bulan Ramadhan, maka gerakan massa menuju persamaan derajat bukan saja terbatas disekeliling mesjid ataudi seluruh negeri, melainkan mencakup seluruh kaum muslimin di dunia. Mungkinorang kaya dan orang miskin berdiri bahu-membahu di mesjid, tetapi di rumah,mereka hidup dalam lingkungan keluarga yang jauh berbeda. Si kaya duduk menghadap meja yang penuh makanan enak. Dengan makanan yang lezat ini merekadapat mengisi perut empat bahkan enam kali sehari, tetapi si miskin tak kecukupanuntuk makan dua kali sehari. Bagi si miskin kerap kali merasakan lapar berhari-hari,sedangkan perasaan semacam ini tak pernah dirasai oleh si kaya. Lalu bagaima naagar si kaya ikut merasakan rasanya orang miskin yang lapar dan menaruh simpatikepadanya?.
  
Jadi dalam rumah tangga terdapat perbedaan sosial yang besar antaradua golongan masyarakat, dan rintangan ini hanya dapat disingkirkan denganmembuat orang kaya ikut merasakan rasanya orang lapar seperti saudara-saudaranyayang miskin melalui puasa. 

Dalam bulan Ramadhan para musafir rohani (orang berpuasa) diperintahkan untuk merasakan nasib orang miskin ---yang kadangkalatidak makan dalam sehari penuh--- dan pengalaman semacam itu mereka harusmerasakan terus-menerus, bukan satu atau dua hari saja, melainkan satu bulan penuh.

Dengan demikian, orang kaya dan orang miskin di seluruh dunia Islam, menjadi sama kedudukan mereka, yaitu hanya diperbolehkan makan dua kali sehari (buka dansahur), dan walaupun makanan si kaya jauh berlebihan dengan makanan si miskin,tetapi si kaya telah dipaksa untuk mengurangi menunya dan dipaksa makan yanglebih sederhana, sehingga si kaya semakin dekat dengan saudara-saudaranya yangmiskin. Sudah tentu laku-laku semacam itu akan menimbulkan rasa simpati danempati terhadap kaum miskin; oleh sebab itu khusus dalam bulan Ramadhan orangdiperintahkan banyak mengeluarkan sedekah terutama sedekah fitrah, guna menolong kaum miskin. (TeropongSenayan.com)