Pecahan-Pecahan Kelompok Syi'ah

6/04/2015

Pecahan-Pecahan Kelompok Syi'ah

Tags

pecahan-pecahan kelompok syi'ah
Pembaca Pustama
Pada kesempatan ini, Pustaka Madrasah akan membahas sedikit tentang syi’ah. Perlu diketahui bahwa munculnya syi’ah adalah karena faktor politik, bukan keagamaan. Namun dalam sejarah kelanjutannya, sikap politik ini terbawa juga pada ranah keagamaan. Namun pada pembahasan ini tidak akan dibahas tentang keagamaan kelompok syi’ah, tetapi dititikberatkan pada golongan-golongan yang ada di dalamnya.

Munculnya kelompok Syi’ah oleh para ulama diperdebatkan. Namun pendapat yang paling kuat adalah ketika masa khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Adapun yang berpendapat bahwa kemunculannya adalah sejak meninggalnya Rasulullah saw, itu sebenarnya hanya bibit-bibit saja, bukan awal munculnya.

Faktor yang memantik kemunculan kelompok syi’ah adalah perselisihan Ali bin Abi Thalib ra dan Muawiyah bin Abi Sufyan ra pada perang Shiffin yang mengakibatkan peristiwa tahkim. Bermula dari peristiwa inilah, pengikut Ali terpecah. Sebagian masih setia dengan keputusan Ali dan sebagian lagi menolaknya. Kelompok yang setia inilah disebut Syi’ah dan yang menolak tahkim disebut khawarij.

Namun dalam perkembangannya, kelompok syi’ah ternyata terpecah menjadi dua. Pertama, golongan yang berdalil dengan nas-nas yang nyata menunjukkan keimamahan Ali. Mereka berpendapat bahwa mengetahui imam adalah syarat menyempurnakan iman. Oleh karena itu, mereka amat fanatik dalam masalah imamah ini. Maka dinamakanlah mereka dengan Imamah.

Kedua, golongan yang berpendapat bahwa tidak ada nas yang qath’i yang menunjukkan kepada imamah Ali sendiri, yang ada hanyalah dalil-dalil yang menunjukkan kepada sifat-sifat imam yang harus diangkat. Mereka inilah golongan Zaidiyah, pengikut Zaid bin Ali Zainal Abidin.

Golongan Imamah


Golongan Imamah sendiri bukanlah satu kelompok yang satu. Golongan Imamah ada yang mengakui Ali sendiri saja yang harus menjadi imam, sedangkan keturunannya tidak lagi, yaitu GOLONGAN SABA'IYAH (pengikut Abdullah bin Saba’). Namun kebanyakan dari mereka menetapkan imamah itu hak Ali dan kedua puteranya, Hasan dan Husein.

Kemudian dari situ, mereka yang menetapkan imamah pada Ali dan kedua puteranya pun pecah menjadi dua sesudah Hasan dan Husein. Pertama, golongan yang tidak membatasi imamah dalam kalangan putera-puteri Ali dari Fatimah saja. Kedua, golongan yang membatasi imamah dalam dari keturunan Fatimah saja.

Golongan pertama ini mengangkat Muhammad bin Hanafiyah sebagai penerus setelah Husein. Golongan ini adalah GOLONGAN KAISANIYAH, pengikut Kaisan Maula Ali. Selanjutanya, mereka pun mengalami perpecahan. Sebagian mereka ini membatasi diri pada Muhammad bin Hanafiyah saja, tidak pada puteranya. Sedang sebagian lain mengangkat anak Muhammad sesudah wafatnya, yaitu Abu Hasyim. Karenanya golongan ini dinamakan GOLONGAN HASYIMIYAH.

Bahkan setelah itu, golongan syi’ah Hasyimiyah ini pun pecah menjadi lima bagian. Diantaranya ada yang berpendapat bahwa imamah dengan jalan wasiat berpindah dari Abu Hasyim kepada Ali bin Abdullah bin Abbas, kemudian kepada puteranya Muhammad, kemudian kepada puteranya Abul Abbas as-Saffah, pendiri Daulah Abbasiyah.

Adapun golongan yang membatasi pada keturunan Hasan dan Husein saja (keturunan Fatimah), mereka mengangkat putera Husein yaitu Zainal Abidin, kemudian puteranya Abu Ja’far Muhammad al-Baqir, kemudian mengangkat puteranya yaitu Ja’far as-Sadiq.

Dalam sejarah, golongan ini pun lagi-lagi pecah menjadi dua. Sebagian mengangkat putera Ja’far as-Sadiq, Musa al-Kadzim sebagai penerus, kemudian Abul Hasan Ali ar-Ridha, kemudian puteranya Ja’far Muhammad al-Jawad, kemudian puteranya Ali al-Hadi, kemudian puteranya Muhammad al-Hasan al-Askari, kemudian puteranya Muhammad al-Mahdi al-Muntadzar yang bersembunyi pada tahun 260 M. Mereka inilah yang dikatakan golongan Itsna ‘Asyriyah. Mereka mengaku hanya 12 khalifah saja. Mereka juga kadang dinamakan GOLONGAN IMAMIYAH.

Sedangkan sebagian lagi mengangkat sesudah Ja’far as-Sadiq, puteranya Ismail. Karenanya, mereka dinamakan GOLONGAN ISMAILIYAH. Sesudah Ismail, puteranya Muhammad menjadi penerusnya. Selanjutnya, Ahmad menjadi pemimpin, sesudahnya puteranya Husein dan kemudian berpindah kepada Ubaidullah al-Mahdi, pemimpin Daulah Fathimiyah. Kepemimpinan selanjutnya pun diserahkan kepada anak-anak keturunannya.

Golongan Ismailiyah ini dinamakan pula dengan golongan Bathiniyah, karena kepala-kepala Negara mereka sesudah wafat Ismail tidak lagi menampakkan diri lantaran tidak ada kemampuan untuk menantang penguasa saat itu hingga masa Ubaidillah al-Mahdi yang memproklamirkan Daulah Fathimiyah.

Golongan Zaidiyah


GOLONGAN ZAIDIYAH dalam masalah kepemimpinan mengharuskan imamah pada putera Ali dari Fatimah, namun bukan dengan jalan wasiat. Tetapi, pengangkatannya harus lewat Ahlul Halli wal ‘Aqdi (semacam majelis syura). Semua Fatimi bisa diangkat selama berilmu luas, pemurah, pemberani, dan jauh dari kemewahan dunia. Bahkan, mereka berpendapat adanya dua kepala Negara di dalam dua benua itu diperbolehkan dan wajib ditaati.
Mereka mengangkat sesudah Husein, puteranya Zainal Abidin, kemudian puteranya Zaid, kemudian puteranya Yahya, kemudian Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Hasan atau biasa dikenal dengan an-Nafsu az-Zakiyah. Sesudah itu, mereka terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
  1. Jarudiyah, pengikut Abu Jarud
  2. Sulaimaniyah, pengikut Sulaiman bin Jarir
  3. Shalihiyah dan Batriyah, pengikut Hasan bin Shalih dan Katsir bin Abtar.

Demikianlah pembaca Pustama pecahan-pecahan yang ada pada kelompok Syi’ah. Jika kita amati, ternyata banyak sekali perpecahan di dalamnya serta hampir mayoritas perpecahannya diakibatkan oleh faktor politik, khususnya kepemimpinan dari generasi ke generasi.