#3 Nasehat bagi yang Menjumpai Ramadan

6/20/2015

#3 Nasehat bagi yang Menjumpai Ramadan

Tags

Alhamdulillah, kita diberikan kesempatan kembali oleh Allah Ta’ala untuk bertemu dengan bulan Ramadhan yang mulia dan melakukan ibadah padanya.
Berikut adalah beberapa pesan singkat bagi kita semua. Inilah pesan yang mampu menjaga hati, mengingatkan jiwa, dan menguatkan tekad.
Pertama: Ingatlah asal penciptaan Anda. Sungguh Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan  agar mereka  beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat: 56)
Imam An-Nawawi menjelaskan, “Ini adalah pernyataan yang sharih (jelas) mereka semua diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Sangat pantas bagi mereka untuk memperhatikan tujuan penciptaan, dan berpaling dari kenikmatan dunia dengan mengedepankan sikap zuhud. Sebab, dunia adalah negeri tempat menjalankan tugas, bukan negeri tempat keabadian, dunia hanyalah jembatan sarana penyeberangan, bukan rumah tempat berdiam.
Renungkanlah keagungan karunia Allah atas diri Anda. Firman Allah Ta’ala,
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18)
Nikmat teragung ialah nikmat Islam. Betapa banyak bangsa di muka bumi ini yang terhalang mengucapkan kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah.
Islam merupakan karunia yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Pujilah AllahTa’ala sebagai wujud rasa syukur atas nikmat hidayah dan petunjuk-Nya. Sebab, betapa banyak orang yang berafiliasi kepada Islam, tetapi mereka melanggar ajaran-ajrannya yang zhahir maupun yang batin, mereka lalai dalam menunaikan kewajiban, dan tenggelam dalam kemaksiatan dan dosa.
Anda –wahai muslim- tidak pernah terlepas dari nikmat Allah Ta’ala: negara yang aman sentosa, rezeki yang lapang, dan kesehatan badan. Sudah menjadi kewajiban Anda untuk bersyukur, baik dengan ucapan maupun perbuatan.
Bentuk sikap syukur teragung ialah ketaatan kepada Allah Ta’ala, dan menjauhi larangan-Nya. Bahwasanya nikmat itu menjadi kekal karena sikap syukur. FirmanAllah Ta’ala,
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Kedua: Di antara nikmat Allah atas diri Anda adalah dipanjangkannya umur Anda, sehingga Anda kembali bertemu dengan bulan mulia ini. Betapa banyak kematian memisahkan kita dari sahabat, betapa banyak tanah menelan kekasih kita.
Panjang usia dan kelangsungan hidup adalah kesempatan untuk memperbanyak bekal, berupa ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah dengan amal shalih. Modal seorang muslim adalah umurnya. Karenanya, pergunakan waktu dan kesempatan Anda dengan sebaik-baiknya, hingga tidak terbuang sia-sia.
Ingatlah orang-orang yang menjalankan puasa dan shalat idul fitri bersama kita tahun lalu, di mana dia sekarang setelah kematian menghampirinya? Terapkanlah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
اِغْتَنِمْ خَمْساً قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Pergunakanlah yang lima sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani)[1]
Berusahalah agar Anda termasuk golongan manusia terbaik, seperti yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Diriwayatkan dari Abu Bakrah Radhiyallahu Anhu, dari ayahnya, ia berkata, “Seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya.” Orang itu kembali bertanya, “Lantas siapakah manusia terburuk?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang usianya dan buruk amal perbuatannya.” (HR. At-Tirmidzi)[2]
Ketiga: Wajib mengikhlaskan niat dan meluruskan sikap kepada Allah Ta’ala. Ketika menjalankan ketaatan, berhatilah-hatilah terhadap pintu masuk riya` (ingin dilihat) dan sum’ah (ingin didengar), sebab keduanya adalah penyakit berbahaya yang bisa merusak amal. Simpan dan tutupi amal kebaikan Anda, sebagaimana Anda menyimpan dan menutupi segala keburukan dan aib Anda.
Milikilah simpanan amal shalih yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala semata, berupa shalat sunnahlinangan air mata di gelap malam, sedekah dengan sembunyi-sembunyi, dan seterusnya.
Ketahuilah, bahwa Allah Ta’ala tidak menerima amal kecuali dari orang-orang bertakwa, maka berusahalah untuk menggapai tingkatan takwa, Firman Allah Ta’ala,
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maa`idah: 27)
Jangan sampai Anda termasuk golongan orang yang enggan masuk surga, seperti yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di dalam sabdanya,
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
 “Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang taat kepadaku akan masuk surga dan orang yang mendurhakaiku dialah yang enggan.” (HR. Al-Bukhari)[3]

__________________________
[1] HR. Al-Hakim, juz 4, hlm 341. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani, Shahih Al-Jami’, hadits nomor 1077.
[2] HR. At-Tirmidzi, Kitab Zuhud, Bab Ma Ja`a fi Thul Al-Umr Li Al-Mu`min. Ia berkata, “Ini hadits hasan shahih, Tuhfah Al-Ahwadzi, hadits nomor 2432.
[3] HR. Al-Bukhari, Kitab Al-I’tisham bi Al-Kitab wa As-Sunnah, Bab Al-Iqtida` bi Sunnah Rasulillah, nomor 7280.