Muhammadiyah tidak Anti Budaya Lokal

6/16/2015

Muhammadiyah tidak Anti Budaya Lokal

Sahabat Pustama.
Salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia adalah Muhammadiyah. Ormas ini telah lahir sebelum ormas NU. Hal yang tidak bisa ditampik, bahwa tiap ormas memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Hal ini tentu akan memiliki pendekatan yang berbeda saat menyebarkan dakwahnya.
Ada salah satu 'cletukan' bahwa jika NU terkenal lekat dengan budaya, maka Muhammadiyah terkenal dengan modernitas. Akibat anggapan ini, maka banyak orang mengira bahwa Muhammadiyah itu anti budaya lokal. 
Maka pada kesempatan ini, Pustaka Madrasah sebagai media belajar bersama akan menyuguhkan salah satu data yang dikumpulkan oleh Khabib M Ajiwidodo (anggota PDPM Kota Blitar) sebagai bukti bahwa Muhammadiyah tidak anti budaya jawa. Mengutip dari sangpencerah, berikut bukti-bukti Muhammadiyah dengan identitas kejawaannya:
1.        Muhammadiyah lahir di Kauman Yogjakarta, daerah yang berkarakteristik Islam-Jawa sangat kental. Para priyayi kesultanan urusan agama yang disebut Abdi Dalem Pamethaan kebanyakan adalah pimpinan Muhammadiyah. (Darban.2011)
2.        Muhammadiyah dibangun dengan insprirasi dan kesadaran seorang Islam-Jawa tulen. Menurut G.B.P.H Joyokusumo sebutan untuk gelar KH. Ahmad Dahlan adalah " Raden Ngabehi (R. Ng) Ahmad Dahlan". Gelar khusus untuk keluarga kiai-priyayi. (Burhani 2010 dan Djarnawi. cetakan ke 2. 2010)
3.        Pada abad 20. Bila NU adalah organisasi para santri maka Muhammadiyah adalah gerakan para priyayi muslim. (Clifford gerrtz 1960)
4.        Pendiri dan pengurus Muhammadiyah awal adalah para priyayi kraton yogyakarta. seperti Raden Tjandana haji ahmat dan raden Sosrosugondo. (burhani. 2019)
5.        Cara berpakaian para pemimpin muhammadiyah mendekati cara berpakaian budaya jawa dengan blangkon dan sarung jarit. (lihat GOOGLE foto2 pengurus muhammadiyah masa awal)
6.        Pada muktamar di solo th 1929 diserukan untuk memakai pakaian tradisional cara negerinya/daerahnya masing masing yang tidak melanggar syara' masuk dalam salah satu aturan bagi peserta muktamar. (keputusan resmi, Conggres Muhammadijah ke XVIII di Solo 1929)
7.        Bahasa jawa adalah bahasa resmi Muhammadiyah sebelum diganti oleh bahasa Indonesia. (Burhani. 2010)
8.        Muhammadiyah adalah organisasi pertama di Indonesia yang memperkenalkan khutbah jumat dalam bahasa masyarakat setempat. (hefner dkk, 2008)
9.        Menurut salah satu murid kiai Ahmad dahlan di kweekschool Jetis, Prof. Sugarda purakatwaja, Kiai Dahlan pernah mengizinkan murid-muridnya untuk shalat dengan menggunakan bahasa jawa jika mereka benar-benar* tidak mengerti/bisa mengucapkan* bahasa Arab (*red). (burhani. 2010)
10.      Muhammadiyah memiliki ikatan cukup erat dengan Boedi Oetomo, sebuah organisasi yang ingin membangun kembali budaya jawa. Seluruh pendiri Muhammadiyah merupakan anggota Boedi Oetomo. (burhani 2010)
11.      Muhammadiyah tidak pernah menolak upacara grebek yang diselenggarakan Kraton Yogyakarta dengan meninggalkan/menolak sifat tahayulnya. (burhani . 2010). Biasanya Muhammadiyah sendiri juga melakukan grebek/perayaan agama Islam dengan acara tabligh akbar. (Hefner, dkk 2008)
12.      Sampai wafatnya kiai Dahlan tidak pernah melepaskan statusnya sebagai abdi dalem pamethakan. (Burhani.2010)
13.      Muhammadiyah pada masa awal menggunakan penanggalan kalender saka dan hari pasaran jawa dalam aktifitas kesehariannya. Muhammadiyah baru merekomendasikan menggunakan kalender hijriyah pada waktu konggres ke 26 di Surabaya tahun 1926. (edisi 2, Hoofdcomite conggres Muhammadijah 1938)
14.      Muhammadiyah menerbitkan terjemah Al Quran, 2 edisi bahasa jawa dan beraksara jawa. (Verslag Muhammadijah 1940)
15.      Muhammadiyah juga berpartisipasi dalam Jong-Java dan konggresnya di Yogyakarta. (Burhani. 2010)
16.      Saat ini banyak dalang-dalang wayang kulit yang juga aktif di Muhammadiyah. Hal tersebut bisa dilihat di Muhammadiyah Tulungagung, Muhammadiyah Ponorogo dan Muhammadiyah Jawa tengah. Pementasan wayang kulit juga sering digelar di wilayah Muhammadiyah tersebut. Wayangan dilaksanakan dengan meninggalkan unsur syirik. (hasil pengamatan pribadi)
Akhirnya kita bisa mengatakan bahwa bagi muhammadiyah, Islam secara kultural dijawakan, dan Jawa secara substansi diislamkan. Jawa sebagai ISME DITOLAK, jawa sebagai BUDAYA DITERIMA. (Burhani. 2010)

Demikian sahabat Pustama, salah satu bukti bahwa Muhammadiyah tidak menolak budaya lokal, khususnya budaya jawa (daerah lahirnya) sebagaimana anggapan orang yang belum mengetahui karakteristiknya. Akhirnya, semoga ormas-ormas Islam di Indonesia baik Muhammadiyah, NU, atau lainnya bisa berjalan beriringan memancarkan dengung dakwah di negeri tercinta ini dengan harmoni.