Arti Allah Bersemayam di Arsy - Fatwa Tarjih Muhammadiyah

6/08/2015

Arti Allah Bersemayam di Arsy - Fatwa Tarjih Muhammadiyah


ALLAH BERSEMAYAM DI ARSY


Pertanyaan dari Sujarwo, Batang

Tanya:
Ada seorang muballigh dari luar Batang menjelaskan bahwa Allah tidak beada di atas, berdasarkan surah Qaf ayat 16. Kami masih ragu-ragu, sebab selama ini kami pahami bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy. Apa pemahaman kami ini yang keliru? Mohon penjelasannya!

Jawab:
Sebelum kami jelaskan masalah yang anda tanyakan kami kutipkan terlebih dahulu ayat-ayat yang menyatakan Allah bersemayam di atas ‘Arsy dan ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah adalah sangat dekat dengan kita:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِىْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِىْ سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
“Sesungguhnya Tuhan kami ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy…” (al-A’raf: 54)
Ayat-ayat yang menyebutkan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy diulang sebanyak 8 kali, pada surah Yunus: 3, ar-Ra’d: 2, Thaha: 5, al-Furqan: 59, al-Qasas: 14, as-Sajdah: 4, Fushilat: 11, an-Najm: 6, dan al-Hadid: 4
Ayat-ayat tersebut semuanya menjelaskan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy.

Adapun ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah adalah dekat disebutkan dalam al-Qur’an sebanak 5 kali, antara lain ialah:

... وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ ...

“… dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya…” (Qaf: 16)
Kemudian disebutkan pada surah al-Baqarah: 186, Hud: 61, Saba’: 50, dan al-Waqi’ah: 85.
Ayat-ayat tersebut memberikan pengertian bahwa Allah sangat dekat kepada kita. Jika dilihat secara sepintas, seakan-akan ayat-ayat tersebut bertentangan, antara ayat yang menyatakan bahwa Allah adalah jauh, dan ayat yang menyatakan bahwa Allah adalah dekat. Sebenarnya ayat-ayat tersebut tidaklah bertentangan, sebab dapat dikompromikan antara satu ayat dengan ayat lainnya.

Pengertian ‘Arsy
‘Arsy, para ahli bahasa mengartikan ‘Arsy sebagai singgasana, bangunan, istana, atau tahta. Kata tersebut berasal dari ‘arasya – ya’rusyu, yang berarti membangun.
Para ulama berbeda pendapat mengenai makna ‘Arsy; Rasyid Ridha dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ‘arsy adalah pusat pengendalian segala persoalansemua makhluk Allah swt di alam semesta, sebagaimana dijelaskan firman Allah pada surah Yunus: 3 (ثم استوى على العرش) “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Asyd”
Gambaran fisik ‘Arsy, merupakan hal gaib yang tiada seorang pun dapat mengetahuinya, kecuali Allah, dimana letaknya dan berapa besarnya. Masalah ‘Arsy telah lama menjadi topic pembicaraan yang kontroversial, apakah ‘Arsy itu bersifat material ataukah bersifat immaterial.
Hal ini terjadi karena tidak ada penjelasan rinci baik dalam al-Qur’an maupun dalam hadis. Al-Qur’an hanya menjelaskan bahwa al-‘Arsy adalah singgasana. Maka kami berpendapat bahwa kita wajib meyakini keberadaannya, yang hakikatnya hanya diketahui Allah swt, kita tidak perlu mencari-cari seberapa besarnya dan seberapa jauhnya atau tingginya.
Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah beristiwa’ atau bersemayam di atas ‘Arsy, dan kita wajib beriman kepadaNya dengan tidak perlu bertanya-tanya bagaimana dan dimana.
Adapun yang dimaksud dengan qarib (dekat) ialah: bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, Dia mendengar perkataan manusia, dan melihat segalam macam perbuatannya, tidak ada hijab antara Allah dan manusia, tiada perantara atau wali yang menyampaikan doa mereka kepada Allah, tiada yang membantuNya dalam mengabulkan permohonan manusia kepadaNya, Allah akan mengabulkan doa manusia tanpa perantara seorangpun, apabila seseorang berdoa kepadaNya, sebab Allah-lah yang menciptakannya, Dia Maha Mengetahui segala apa yang ada dalam hati setiap orang. Demikianlah yang dimaksud dengan ‘aqrabu ilaihi min hablil warid’ (lebih dekat kepadaNya daripada urat leher) yang disebutkan dalam surah Qaf: 16.
Maka jelaslah, bahwa ayat-ayat tersebut tidak bertentangan antara ayat yang menyatakan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy, dengan ayat yang menyatakan bahwa Allah swt sangat dekat denga kita.

Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid

Pimpinan Pusat Muhammadiyah