12/08/2017

Nasehat Kibarul Ulama Saudi untuk Para 'Salafi'

Nasehat Kibarul Ulama Saudi untuk Para 'Salafi'
Berikut akan kita kutip beberapa fatwa sekaligus nasehat para ulama besar di Kerajaan Saudi Arabia untuk mereka yang menamakan dirinya 'salafi'. Fatwa ini lahir karena kegelisahan dan keprihatinan para ulama tersebut atas realita yang menodai citra da’wah Islamiyah yang seharusnya rahmah. Anda akan temukan bahwa para ulama ini amat mengingkari sikap keras, gampang menuduh, memfitnah, dan memberikan gelar-gelar buruk kepada sesama umat Islam, apalagi para da’i dan ulamanya.

1. Nasihat Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz –ra. (hal.3-4)


Wajib bagi setiap penuntut ilmu dan ahli ilmu untuk mengetahui kewajiban para ulama. Wajib atas mereka, untuk berprasangka baik, berbicara yang baik, dan menjauhi pembicaraan yang buruk, sebab para da’i ilallah  memiliki hak yang besar di dalam masyarakat. Maka, wajib bagi mereka untuk membantu tugas mereka (para da’i) dengan perkataan yang baik, metode yang bagus, dan prasangka yang baik pula. Bukan dengan sikap kekerasan, bukan dengan mengorek kesalahan-kesalahan  agar orang lari dari fulan dan fulan.

Adalah wajib untuk menjadi penuntut ilmu, menuntut yang baik dan bermanfaat, lalu bertanya tentang masalah-masalah ini. Jika terdapat kesalahan atau musykil hendaknya bertanya dengan hikmah dan niat yang baik, setiap manusia pernah berbuat salah dan benar, tidak ada yang ma’shum kecuali para rasul –‘alaihimus shalatu was salam, mereka terjaga dari kesalahan dalam apa-apa yang mereka sampaikan dari Rabb mereka. Para sahabat nabi dan setiap orang selain mereka pasti pernah berbuat salah dan benar, begitu pula orang-orang setelah mereka, dan ucapan para ulama dalam urusan ini sudah diketahui dengan baik (ma’ruf).

Ini bukan berarti, para da’i, ulama, pengajar, atau khathib, adalah ma’shum, tidak. Mereka telah berbuat salah, maka wajib memberinya peringatan, juga atas hal yang musykil darinya hendaknya bertanya dengan ucapan yang baik, maksud yang mulia, sampai diperoleh faedah dan clearnya musykil tersebut, dengan tanpa berpaling dari si fulan atau menjauhinya.

Para ulama, mereka adalah pewaris para nabi. Tetapi bukan berarti selamanya mereka tidak punya salah.  Jika  salah, mereka mendapatkan satu pahala, jika benar, mendapatkan dua pahala.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika seorang hakim menentukan hukum, ia berijtihad, kemudian ia benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Jika ijtihadnya salah maka satu pahala. “ (HR. Bukhari, 9/193. Muslim, 33/1342)

Saudara-saudara kami para da’i ilallah ‘Azza wa Jalla di negeri ini, hak mereka atas masyarakatnya adalah mendapatkan bantuan dalam kebaikan, berprasangka baik dengan mereka, dan menjelaskan kesalahannya dengan uslub (cara) yang bagus, bukan bertujuan mencari ketenaran dan aib.

Sebagian manusia ada yang menulis selebaran-selebaran tentang sebagian para da’i, berupa selebaran-selebaran yang buruk, yang tidak sepantasnya ditulis oleh para penuntut ilmu, dan tidak sepantasnya dengan cara demikian … (Kibarul ‘Ulama yatakallamuna ‘an ad Du’at, Hajar al Qarny, hal. 8)

2. Nasihat Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin –ra. (hal.5)


Beliau berkata: Jika telah banyak golongan-golongan (al Ahzab) dalam tubuh umat Islam maka janganlah fanatik pada kelompok. Telah nampak golongan-golongan sejak zaman dahulu seperti khawarij, mu’tazilah, jahmiyah, rafidhah, kemudian nampak saat ini ikhwaniyyun, salafiyyun, tablighiyyun, dan yang sepertinya. Maka, hendaklah setiap kelompok-kelompok dicampakan ke sebelah kiri dan hendaklah kalian bersama imam, dan demikian itu merupakan apa-apa yang diarahkan oleh Nabi dalam sabdanya: “Hendaklah kalian memegang sunahku, dan sunah para khulafa’ ur rasyidin.”

Tidak ragu lagi, bahwa wajib atas seluruh kaum muslimin menjadikan madzhab mereka adalah madzhab salaf, bukan untuk ber-intima (berkomitmen) pada kelompok tertentu yang dinamakan  salafiyyun.

Wajib bagi umat Islam menjadikan madzhab mereka adalah madzhab salafus shalih, bukan bertahazzub (berkelompok) kepada apa-apa yang dinamakan  salafiyyun. Maka, ada thariiq (jalan-metode) as salaf (umat terdahulu), dan  ada juga hizb (kelompok) yang dinamakan  salafiyyun, padahal yang dituntut adalah ittiba’ (mengikuti) salaf (umat terdahulu). (Syarah al Arba’iin an Nawawiyah. Hadits ke 28: “Aku wasiatkan kalian untuk taqwa kepada Allah, dengar dan taat,” hal. 308-309) (dalam kitab aslinya paragrap dua dan tiga juga ditebalkan)

3. Nasihat Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan –hafizhahullah (hal. 15-16)


“Ada  orang yang mengklaim bahwa dirinya  di atas madzhab salaf, tetapi mereka menyelisihinya, mereka melampaui batas (ghuluw) dan menambah-nambahkan, dan keluar dari metode As Salaf. Di antara mereka juga ada yang mengaku bahwa dirinya di atas madzhab salaf, tetapi mereka menggampangkan dan meremehkan, hanya cukup menyandarkan diri (intisab).

Orang yang di atas manhaj salaf itu adalah lurus dan pertengahan antara melampaui batas (ifrath) dan meremehkan (tafrith), demikianlah thariqah salaf, tidak melampaui batas atau meremehkan. Untuk itulah Allah Ta’ala berfirman: “ …dan prang-orang yang mengikuti mereka dengan baik ….”

Maka, jika engkau hendak mengikuti jejak salaf, maka engkau harus mengenal jalan (thariqah) mereka, tidak mungkin mengikuti mereka kecuali jika engkau telah mengenal jalan mereka, dan itqan dengan manhaj mereka lantaran engkau berjalan di atasnya. Adapun bersama orang bodoh, engkau tidak mungkin berjalan di atas thariqah mereka (salaf), dan engkau menjadi bodoh dan tidak mengenalnya, atau menyandarkan kepada mereka apa-apa yang tidak pernah mereka katakan atau yakini. Engkau berkata: ‘Ini madzhab salaf,’ sebagaimana yang dihasilkan oleh sebagian orang bodoh saat ini, orang-orang yang menamakan diri mereka dengan salafiyyin, kemudian mereka menyelisihi kaum salaf, mereka amat keras, mudah mengkafirkan, memfasiq-kan, dan membid’ahkan.

Kaum salaf, mereka tidaklah membid’ahkan, mengkafirkan, dan memfasiq-kan kecuali dengan dalil dan bukti, bukan dengan hawa nafsu dan kebodohan. Sesungguhnya engkau menggariskan sebuah ketetapan: “Barangsiapa yang menyelisihinya, maka dia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah) dan sesat,” Tidak  yaa akhi, ini bukanlah manhaj salaf.

Manhaj salaf adalah ilmu dan amal, ilmu adalah yang pertama, kemudian beramal di atas petunjuk. Jika engkau ingin menjadi salafi sejati (salafiyan haqqan), maka wajib bagimu mengkaji madzhab salaf secara itqan (benar, profesional), mengenal dengan bashirah (mata hati), kemudian mengamalkannya dengan tanpa melampau batas dan tanpa meremehkan. Inilah manhaj salaf yang benar, adapun mengklaim dan sekedar menyandarkan dengan tanpa kebenaran, maka itu merusak dan tidak bermanfaat”

(dikutip dari jawaban Syaikh Shalih Fauzan atas pertanyaan dalam kajian kitab Syarh al Adidah Ath Thahawiyah tahun 1425H, direkam dalam kaset seputar tema ini)   

Pada hal. 17 – 18, Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan juga ditanya, tentang orang yang menyematkan di belakang namanya dengan sebutan As Salafy atau Al Atsary, apakah hal tersebut merupakan mensucikan diri sendiri? Ataukah sesuai dengan syariat? 

Syaikh Shalih Fauzan menjawab:

“Yang dituntut adalah agar manusia mengikuti kebenaran, dituntut mencari kebenaran, dan beramal dengannya. Adapun, bahwa ada yang mengaku bahwa dirinya salafy atau atsary atau apa saja yang seperti itu, maka janganlah mengklaim seperti itu. Allah Subahanahu wa Ta’ala yang Mengetahui, telah berfirman:

Katakanlah: “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?”(QS.AlHujurat: 16)

Menggunakan nama salafy atau atsary, atau yang serupa dengannya, hal ini tidak ada dasarnya (dalam syariat, pent). Kita melihat pada esensinya, tidak melihat pada perkataan, penamaan, atau klaim semata, ia berkata bahwa dirinya salafy padahal ia bukan salafy, atau atsary padahal ia bukan atsary. Namun, ada orang yang sebenarnya salafy dan atsary walau tanpa mengaku dirinya adalah salafy atau atsary.

Kita melihat pada hakikatnya, bukan pada penamaan, atau klaim semata, dan hendaknya seorang muslim komitmen terhadap adab bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika orang Badui berkata: ‘Kami telah beriman’, Allah mengingkari mereka (Berkatalah orang-orang Badui ‘Kami telah beriman’, katakanlah (wahai Muhammad): ‘Kalian belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah berserah diri-Islam.’) Jadi, Allah mengingkari penamaan mereka.dan penyifatan diri mereka dengan iman, dan mereka belum sampai pada martabat itu. Orang-orang Badui itu datang dari pedalaman dan mereka mendakwakan bahwa mereka sudah beriman sejak lama, tidak. Mereka telah berserah diri dan masuk Islam, dan jika mereka terus-menerus seperti itu dan mereka mempelajarinya, maka iman masuk ke dalam hati mereka. (Dan iman belum (lamma) masuk ke dalam hati mereka), kata lamma (belum) digunakan untuk sesuatu yang belum terjadi, artinya iman itu akan masuk, tetapi sejak awal kalian sudah mengklaim. Inilah bentuk pensucian diri (maksudnya menganggap diri bersih dan lebih dari yang lain, pent)

Maka, engkau tidak perlu berkata ‘Saya salafy’, ‘Saya atsary’, saya begini begitu. Wajib bagimu mencari kebenaran dan beramal dengannya dan meluruskan niat. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui keadaan sebenarnya dari hamba-hambaNya.

(Diterjemahkan  dari kitab Kasyfu al Haqaa-iq al Khafiyah ‘inda Mudda’iy as Salafiyyah/Menyingkap Realita Tersembunyi pada kelompok Yang mengaku sebagai Salafiyah, karya Syaikh Mut’ib bin Sarayan al ‘Ashimiy. Penerbit Maktabah al Malik Fahd al Wathaniyah, Mekkah al Mukarramah 1425H)

12/05/2017

Al-Quran Era Ottoman Ditemukan di Sebuah Kota di Palestina

Al-Quran Era Ottoman Ditemukan di Sebuah Kota di Palestina
Kabar mengejutkan datang dari kota Palestina. Tiga Alquran yang diterbitkan pada masa pemerintahan Ottoman Sultan Abdul Hamid II (1876-1908) telah ditemukan di sebuah masjid di kota bersejarah Tabiye, di wilayah Tepi Barat Palestina. Aziz, muazzin masjid tersebut, mengatakan kepada kantor berita Turki Anadolu Agency pada Senin (4/12) yang dikutip republika, bahwa Alquran tersebut ditemukan saat tengah dilakukan renovasi di Masjid Omar bin al-Khattab. Masjid tersebut dibangun pada masa pemerintahan Abdul Hamid II.

"Kami tidak tahu mereka ada di sana. Alquran itu berada di antara deretan buku lainnya. Kami menemukannya saat renovasi," kata Aziz, dilansir dari World Bulletin, Selasa (5/12).

Menurut kata pengantar dari buku berbahasa Arab tersebut, Alquran itu ditulis tangan oleh seorang juru tulis bernama Seyyid Mustafa Nazif Effendi pada 1887. Sebelum akhirnya diterbitkan oleh sebuah rumah cetak di Istanbul dan dikirim ke pembeli di Palestina.

"Saya terkejut saat pertama kali melihat barang berharga ini. Alquran ini pasti akan memberi kontribusi pada masjid kita, dan kepentingan sejarah kota kita," lanjut Aziz.

Aziz mengatakan, kitab-kitab tersebut akan segera dipajang dalam sebuah pameran. Ia lantas berspekulasi tentang kemungkinan ditemukannya teks antik lainnya di masjid-masjid lain yang dibangun di era Ottoman di wilayah Tepi Barat.

Menilik sejarah di masa lalu, saat Theodor Herzl, pendiri Zionisme modern, gagal meyakinkan Sultan Abdul Hamid II untuk mengizinkan imigran Yahudi mendirikan sebuah 'tanah air' Yahudi di Palestina. Saat itu, wilayah Palestina merupakan wilayah kekuasaan Ottoman.

Namun, Herzl akhirnya berhasil mendapatkan dukungan dari Kerajaan Inggris melalui Deklarasi Balfour pada 1917. Dalam hal ini, sultan diketahui memiliki kata-kata pesan terkait wilayah Palestina.

"Saya tidak akan menjual apapun, tidak ada satu inci pun dari wilayah ini, karena negara ini bukan milik saya, melainkan untuk umat-Ku. Umat saya akan menjual tanah ini dengan harga yang sama dengan yang mereka bayar untuk penaklukannya: darah."

8/01/2017

Memahami Perintah Rasul untuk Belajar Memanah

Memahami Perintah Rasul untuk Belajar Memanah
Seorang muslim pasti senang mentaati dan meneladani Rasulullah Saw.. Terlebih, Rasulullah Saw. sendiri telah berpesan bahwa mengikuti beliau berarti mengikuti Allah Swt.. Untuk mengetahui perintah Rasulullah, tiada jalan lain kecuali melihat hadis-hadis yang ada. Namun apakah itu cukup? Ternyata tidak. Untuk melihat hadis, ternyata perlu pemahaman yang utuh sehingga kita dapat mengetahui inti daripada perintah Rasulullah Saw. tersebut. Maka menarik untuk kita pelajari salah satu perintah Rasulullah Saw. dalam hadis, yaitu belajar memanah. Bagaimanakah pemahaman yang benar tentang perintah Rasulullah untuk belajar memanah tersebut? Berikut uraian lengkap yang ditulis M Alvin Nur Choironi dalam nu.or.id dengan judul asli 'Benarkah Hukum Memanah Sunah?'.

Memahami Perintah Rasulullah untuk Belajar Memanah


Akhir-akhir ini banyak orang yang berlomba-lomba mengamalkan hal-hal yang dianggap sebagai sunah Rasulullah SAW. Semua hal yang mereka baca dari hadits-hadits Rasul seketika langsung diamalkan dengan anggapan bahwa hal tersebut merupakan sunah Rasul SAW.

Sebut saja memanah dan berkuda. Dua hal ini menjadi hal yang sering digaungkan lewat medsos-medsos terkait dengan anjuran dan kesunahan memanah. Tentu hal ini menjadi pertanyaan besar di benak kita: benarkah memanah atau berkuda itu sunah? Sehingga sangat dianjurkan untuk dipelajari bahkan sampai dilakukan di dalam masjid.

Hanya ada beberapa literatur hadits yang menunjukkan keutamaan memanah. Salah satunya yang diriwayatkan merupakan tafsir Rasulullah atas surat Al-Anfal ayat 60.
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Artinya, “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.”

Setelah mengucapkan ayat itu kemudian Nabi mengulang-ulang sebuah kalimat sebanyak tiga kali untuk menafsirkan ayat dari Al-Anfal yang dibacanya.
ألا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ

Artinya, “Ketahuilah, sesungguhnya yang dimaksud dengan kekuatan itu adalah memanah.”

Dalam hadits lain sebagaimana ditulis Ibnu Hajar dalam Fathul Bari-nya juga dijelaskan terkait keutamaan seorang pemanah yang masuk surga karena anak panahnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir. Juga ada satu hadis lagi yang menjelaskan kerugian bagi orang yang mampu memanah tapi tidak mengamalkan kemampuannya, bahkan dalam riwayat Ibnu Majah orang yang tidak mengamalkan kemampuannya dalam memanah dikatakan sebagai orang yang durhaka kepada Rasul (maksiat dan berdosa).

Tampaknya, hadits-hadits tersebutlah yang dijadikan landasan kesunahan memanah sehingga sebagian dari kita gencar sekali mengampanyekan memanah hingga menjadikan masjid sebagai tempat memanah.

Tentunya, masyarakat harus mengetahui bagaimana kategori sebuah tindakan rasul itu sebagai sunah atau tidak. Atau dalam bahasa Kiai Ali Mustafa Yaqub, kita harus membedakan antara sunah atau agama dan budaya dalam membaca hadits.

Membaca hadits di atas, pensyarah Sunan Abu Dawud, Abdul Muhsin bin Hammad Al-Abbad mengatakan, hadits di atas diungkapkan kepada para sahabat pada masa perang kekurangan pasukan sehingga senjata yang paling efektif untuk menunjang peperangan saat itu adalah panah mengingat panah adalah satu-satunya senjata yang ada saat itu.

Ibnu Hajar juga menekankan bahwa poin penting dalam hadits-hadits di atas adalah kemampuan untuk mengalahkan musuh yang lebih efektif. Maka Rasul pada saat itu melihat bahwa panah adalah senjata yang paling efektif. Rasul akan sangat kesal sekali pada saat itu jika ada seorang pemanah jitu tapi menyia-siakan kemampuannya.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan senjata sekarang yang sudah semakin berkembang dan dinamis. Bahkan saat ini juga bukan masa-masa perang sebagaimana anjuran menguasai memanah yang dikatakan Rasul pada saat itu.

Dalam metode memahami hadits, kita diharuskan untuk bisa membedakan antara sarana yang berubah dan tujuan yang tetap. Dalam hal ini, panah adalah sebuah sarana, bukan tujuan. Sedangkan tujuannya adalah mampu mengalahkan lawan.

Sehingga dari penjelasan beberapa ahli di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa panah adalah hanya sarana yang bisa digunakan pada saat itu. Jika pada masa sekarang, ketika musuh menyerang kita dari berbagai hal mulai persenjataan, siber, kecerdasan dan keilmuan yang lain, maka sunahnya adalah menguasai sarana-sarana yang digunakan oleh pihak lawan itu, tentunya bukan hanya memanah.

Jika berlatih memanah dan ingin ahli menjadi pemanah, hukumnya hanya mubah. Tetapi menganggap pemanah menjadi sebuah kesunahan yang akhirnya menimbulkan perilaku tidak etis seperti berlatih di masjid dan sebagainya apalagi sampai menyalahkan orang yang tidak mampu memanah adalah sebuah kesalahan. Wallahu alam.

7/07/2017

Quba; Masjid Pertama yang Dibangun Nabi Muhammad

Quba; Masjid Pertama yang Dibangun Nabi Muhammad
Tak sedikit orang Islam mengira bahwa masjid Nabawi adalah masjid yang dibangun pertama kali oleh Rasulullah Saw.. Padahal anggapan itu keliru. Sesungguhnya, masjid Nabawi merupakan masjid kedua yang dibangun langsung oleh Rasulullah setelah masjid Quba. Masjid inilah yang pertama kali didirikan Rasulullah SAW, saat beliau hijrah dari Makkah ke Madinah. Beberapa kilometer sebelum memasuki Madinah, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar membangun masjid di daerah Quba, yang sekarang dinamakan dengan Masjid Quba.

Saat kita berkunjung ke Madinah, ada satu masjid yang sering disinggahi jamaah haji dan umroh. Inilah Masjid Quba yang beralamat di Al Hijrah Road, jaraknya hanya 5 km sebelah selatan Masjid Nabawi di Madinah.

Dari berbagai catatan sejarah, Masjid Quba dibangun oleh Nabi Muhammad kala dirinya sedang hijrah dari Makkah ke Madinah di tahun pertama Hijriah. Nabi Muhammad bahkan meletakkan batu pertama pembuatan masjid ini. Kemudian para sahabat menyelesaikan Masjid Quba perlahan-lahan. Rasulullah pernah tinggal 14 hari saat hijrah untuk menunggu Ali Bin Abi Thalib dari Makkah. Bahkan setelah tinggal di Madinah, Nabi Muhammad selalu mengunjungi Masjid Quba setiap hari Sabtu.

Masjid ini dianggap sebagai masjid suci keempat setelah Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsa di Palestina. Ada sebuah hadits Nabi yang menyebutkan berwudhu di rumah dan lalu salat 2 rakaat di Masjid Quba, maka pahalanya setara satu kali ibadah umroh.

Saat berada di sana, terasa betul kalau masjid ini cukup luas. Ukurannya 5.860 m2 dengan kapasitas 20 ribu jamaah. 4 Minaret menjulang dengan anggunnya. Area parkirnya cukup besar untuk menampung puluhan bus jamaah umroh.

Masjid yang besar ini bukanlah masjid yang asli. Renovasi besar dilakukan tahun 1986 oleh arsitek terkemuka Abdel Wahed El Wakil. Namun bangunan lama memang dihancurkan dan diganti dengan yang baru. Renovasi terakhir dilakukan tahun 2012 dengan ongkos SR 100 juta (Rp 354 miliar).

Suasana di dalam Masjid Quba (Fitraya/detikTravel)Suasana di dalam Masjid Quba (Fitraya/detikTravel)
Masuk ke dalam, kita bisa melihat area salat yang cukup luas. Dekorasi interior, lampu gantung dan kaligrafi menghias langit-langit masjid.

Masjid Quba juga punya area terbuka di tengah masjid tanpa atap. Jamaah juga bisa salat di bawah langit terbuka. Kalau haus, Masjid Quba juga menyediakan air zamzam yang dibawa dari Masjidil Haram.

Masjid Quba adalah bangunan bersejarah yang tak ternilai harganya bagi umat Muslim. Umurnya kini 1438 tahun. Masjid Quba adalah satu destinasi yang bikin kita rindu Tanah Suci.

Lebih Dulu Mana, Ayam atau Telur? Begini Penjelasan Dari Al-Qur’an

Lebih Dulu Mana, Ayam atau Telur? Begini Penjelasan Dari Al-Qur’an
Pertanyaan di atas seringkali kita jumpai di saat sedang bersenda gurau bersama teman-teman. Pertanyaan yang serupa pun ada dalam kisah Abu Nawas saat mendapatkan tantangan dari sang raja hingga ia mendapatkan hadiah emas karena dapat menjawabnya dengan logis. Temukan kisahnya dalam situs PELITA yang concern dalam kisah-kisah islami disini.

Namun bagaimanakah jawaban dari pertanyaan di atas yang sesuai dengan akidah Islam? Ternyata ayamlah yang lebih dulu ada sebelum telur. Bagaimana penjelasannya? Berikut penjelasan dari Al-Qur'an tentang lebih dulu mana, ayam atau telur sebagaimana diuraikan dalam tribunnews.COM, edisi 21/6/17.

Lebih Dulu Mana, Ayam atau Telur? Begini Penjelasan Dari Al-Qur’an


Ini jelas karena Allah berfirman telah menciptakan makhluk hidup termasuk hewan berpasang-pasangan. Jadi yang diciptakan adalah ayam baru kemudian telur.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِن كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasang supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS. Az-Dzariyat : 49).

Allah mempertegas lagi dalam ayat-Nya,

خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ ۚ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِّن بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

“Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (QS. Az-Zumar 6).

Keyakinan telur dulu baru ayam awalnya merupakan faham dari ahli filsafat yang banyak merenungi hakikat kehidupan dengan menggunakan akal dan logika saja.

Pertanyaan ini bisa muncul dari ahli filsafat yang hanya memakai akal logika saja dalam berpikir. Mereka mengira dunia ini bisa terjadi secara kebetulan saja. Sehingga perlu diselidiki mana yang lebih dahulu, ayam ataukah telur.

Syaikh Abdullah Al-Mani’ berkata:

“Penemuan (pernyataan telur dahulu dari ayam) adalah dukungan untuk teori Darwin mengenai penciptaan dan evolusi. Teori ini bersandar pada teori “pengingkaran terhadap Tuhan”. Mereka mengira ini terjadi secara kebetulan.”

Baru-baru ini “Discovery Science” menemukan fakta ilmiah mana yang lebih dahulu ada. Menurutnya, ayam lah yang pertama ada. Hal ini karena telur membutuhkan struktur berupa protein tertentu yang hanya diproduksi oleh ayam betina.

Ini menjelaskan bahwa tidak mungkin telur ada lebih dahulu, sedangkan telur itu membutuhkan protein yang hanya ada pada ayam betina. Wallahu a'lam

7/05/2017

Dosakah Kita Bila Tidak Mengamalkan Hadits Shahih?

Dosakah Kita Bila Tidak Mengamalkan Hadits Shahih?
Al-Qur'an dan Sunah atau hadits merupakan dua sumber utama umat Islam dalam menyelesaikan semua permasalahannya selain ijmak dan qiyas. Semua tingkah laku orang beriman harus sesuai dengan tuntunan al-Qur'an dan hadits. Oleh karenanya, Al-Qur'an menyebut bila ada dua orang muslim yang berselisih, maka mereka harus mengembalikan perselisihan tersebut kepada dua sumber pokok itu.

Jika isi al-Qur'an tidak perlu disanksikan lagu orisinalitasnya, namun berbeda dengan hadist yang perlu diseleksi keshahihannya. Lalu, jika ada hadits yang shahih  dan telah disepakati keshahihannya oleh para ulama ahli hadits, tetapi hadits itu malah tidak kita amalkan, apakah kita jadi berdosa karena meninggalkan hadits yang shahih tersebut?

Berdosakah Kita Bila Tidak Mengamalkan Hadits Shahih?


Pertanyaan ini cukup unik sekaligus menjebak, yaitu berdosakah kita bila tidak mengamalkan hadits shahih?

Kita yang awam dan kurang belajar ilmu hadits secara mendalam biasanya sering 'terjebak' dengan pertanyaan model ini. Dan cenderung akan menjawab secara gegabah bahwa berdosa bila tidak mengamalkan hadits shahih.

Sebenarnya bila dibilang berdosa memang tidak salah, hanya saja belum benar seratus persen. Jawaban semacam itu agak kurang teliti dan masih belum terlalu kritis dalam menjawab.

Yang benar bahwa ada sebagian dari hadits shahih yang memang wajib dijalankan dan berdosa bila ditinggalkan. Tetapi ketentuan itu tidak berlaku pada semua hadits shahih. Mengapa demikian?

Sebab kita juga menemukan banyak sekali hadits shahih yang ternyata hukumnya tidak wajib untuk dikerjakan, tetapi hanya sebatas sunnah atau mubah saja, tidak sampai menjadi kewajiban.Maka meninggalkannya tidak lantas membuat kita berdosa.

Bahkan beberapa hadits shahih itu ada yang hukumnya justru makruh kalau dikerjakan, hingga sampai batas diharamkan. Alih-alih berdosa, jusutru hukumnya wajib ditinggalkan.

A. Contoh Hadits Shahih Yang Boleh Ditinggalkan dan Tidak Berdosa


Kita menemukan banyak sekali hadits shahih yang mana secara hukum boleh kita tinggalkan dan tidak mengapa bila kita tidak mengerjakannya. Dan kita tidak berdosa bila meninggalkannya.

1. Shalat Memakai Sepatu dan Sandal

Hadits-hadits tentang Nabi SAW dan para shahabat shalat memakai sepatu cukup banyak yang shahih, diantaranya hadits berikut ini :

Abu Maslamah Said bin Yazid Al-Azdi bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallahuanhu :
أكان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في نعليه قال نعم

"Apa benar bahwa Rasulullah SAW shalat dengan mengenakan kedua sandalnya?". Beliau (Anas bin Malik) menjawab,"Ya". (HR. Bukhari) [1]

Coba kita perhatikan sekeliling kita, siapa diantara kita yang mengamalkan hadits shahih di atas? Nyaris tidak ada dan bahkan kalau sampai kita kerjakan, yaitu shalat pakai sepatu di dalam masjid, pasti habislah kita dibantai orang semasjid.

Padahal kalau dipikir-pikir, ketika Beliau SAW shalat dengan mengenakan sepatu, bukan hal yang terjadi sesekali dua kali, melainkan perbuatan yang bersifat standar, dimana beliau selalu bersepatu ketika mengerjakan shalat.

Bahkan kita juga menemukan hadits lain yang menyebutkan bahwa ada penekanan khusus dari Nabi SAW kepada para shahabat untuk shalat mengenakan sepatu, sebagaimana hadits berikut :
  خَالِفُوااليَهُودَ فَإِنَّهُمْ لاَ يُصَلُّونَ فيِ نِعَالِهِمْ وَلاَ خِفَافِهِمْ

Dari Syaddan bin Aus radhiyallahuanhu (marfu') bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Berbedalah kalian dari Yahudi. Mereka tidak shalat memakai sandal atau sepatu. (HR. Abu Daud) [2]

Namun meski demikian, seluruh ulama sepakat bahwa shalat tidak wajib pakai sepatu. Tidak ada satu pun ulama yang menjadikan sepatu sebagai rukun shalat yang bila tidak dipakai lantas membuat shalat menjadi tidak sah.

2. Adzan Shubuh Dua Kali

Adzan Shubuh di masa Rasulullah SAW dilantunkan dua kali, yang pertama sebelum masuk waktu shubuh dan yang kedua tepat ketika terbit fajar dan masuk waktu Shubuh. Hal itu bisa kita baca dalam hadits Bukhari berikut ini :
لاَ يَمْنَعُنَّ أَحَدَكُمْ أَوْ أَحَدًا مِنْكُمْ أَذَانُ بِلاَلٍ مِنْ سَحُورِهِ فَإِنَّهُ يُؤَذِّنُ أَوْ يُنَادِي بِلَيْلٍ لِيَرْجِعَ قَائِمُكُمْ وَلِيَنِّبَهُ نَائِمَكُمْ

Dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Jangan sampai adzan Bilal menghentikan makan sahur kalian, karena dia adzan untuk mengingatkan orang yang shalat malam di masjid agar kembali ke rumah, dan untuk membangunkan orang yang tidur”. (HR. Bukhari) [3]

Dinukilkan oleh Ibnu Jarir bahwa para ulama telah berijma menetapkan adzan sebelum waktu tidaklah sah. Hendaklah adzan itu dilakukan apabila telah masuk waktu, kecuali untuk shalat shubuh. Untuknya sah dilakukan adzan sebelum waktunya. Demikianlah pendapat Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Al Auzai, Abu Yusuf, Abu Tsaur, Ishaq dan Daud.

Imam Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Al Auzai, Abu Yusuf, Abu Tsaur, Ishaq, Daud dan jumhur ulama menetapkan : Dua Adzan untuk shalat shubuh.

Tetapi coba kita perhatikan ke sekeliling kita, dimana ada adzan shubuh yang dilantunkan dua kali? Agak jarang kita temukan, kecuali hanya di tempat-tempat tertentu saja, seperti di Madinah Al-Munawwarah sekarang ini.

Lantas apakah kita semua umat Islam jadi berdosa gara-gara tidak melantunkan adzan Shubuh dua kali? Tidak seorang pun dari ulama yang mengatakan hal itu. Mereka hanya sebatas mengatakan bahwa disunnahkan untuk mengamalkannya, tetapi bila ditinggalkan pun tidak berdosa, meskipun haditsnya shahih.

3. Makan Dulu Sebelum Shalat Idul Fithr

Hadits Shahih disebutkan dalam Shahih Bukhari bahwa Rasulullah SAW tidak keluar rumah untuk mengerjakan shalat Idul Fithr kecuali Beliau SAW memakan beberapa butir kurma.
عَنْ أَنَسٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ

Dari Anas bin Malik radliyallahuanhu berkata, “Rasulullah tidak berangkat pada Idul Fithri hingga beliau memakan beberapa kurma. (HR. Bukhari) [4]

Lantas bolehkah kita berangkat shalat Idul Fithr tanpa makan kurma terlebih dahulu? Apakah kita jadi berdosa bila meninggalkannya? Dan apakah shalat yang kita lakukan menjadi tidak sah?

Ternyata para ulama umumnya hanya sekedar menyunnahkan saja untuk makan sebelum shalat Idul Fithr, sama sekali tidak ada satu pun yang mewajibkannya. Padahal haditsnya shahih dimuat dalam kitab Shahih Bukhari.

Dan masih banyak lagi hadits-hadits shahih namun ternyata dari segi hukum tidak lantas menjadi kewajiban bagi kita untuk melaksanakannnya. Bila ditinggalkan pun juga tidak sampai membuat kita berdosa.

B. Contoh Hadits Shahih Yang Wajib Kita Tinggalkan


Malah kadang ada hadits yang shahih tetapi justru wajib kita tinggalkan, misalnya

1. Puasa Wishal

Ada hadits shahih yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan puasa wishal, yaitu puasa siang malam beberapa hari berturut-turut tanpa berbuka dan makan sahur.

Dalam urusan puasa wishal ini, Rasulullah SAW mempunyai kekhususan tersendiri, dimana beliau diberi fasilitas khusus yang tidak diberikan kepada umatnya. Sehingga beliau secara pribadi justru berpuasa wishal.
نَهَاهُم النَّبِيُّ  عَنِ الوِصاَلَ رَحْمَةً لَهُمْ فَقَالُوا: إِنَّكَ تُوَاصِلْ؟ قَالَ: إِنِّي لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ إِنِّي يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِيْنِي

Rasulullah SAW melarang para shahabat berpuasa wishal sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka. Para shahabat bertanya, "Anda sendiri berpuasa wishal?". Beliau SAW menjawab, "Aku tidak seperti kalian. Sesungguhnya Allah memberiku makan dan minum". (HR. Bukhari) [5]

2. Menikah Lebih Dari Empat Istri

Di dalam kitab Shahih Bukhari ada disebutkan hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah menggilir para istri Beliau SAW dalam satu malam, padahal jumlah istri Beliau SAW saat itu ada sembilan wanita.
أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ «يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ، فِي اللَّيْلَةِ الوَاحِدَةِ، وَلَهُ يَوْمَئِذٍ تِسْعُ نِسْوَةٍ

Nabi SAW menggilir para istrinya dalam satu malam dan saat itu Beliau SAW memiliki 9 orang istri. (HR. Bukhari) [6]

Catatan Penting :

  • Keshahihan hadits itu bukan syarat satu-satunya dasar penentu hukum atas kewajiban melaksanakannya.
  • Meskipun status suatu hadits itu shahih, hukumnya bisa wajib dikerjakan, tapi juga bisa sunnah, mubah, makruh bahkan haram.
  • Dibutuhkan ilmu istimbath hukum seperti Ilmu Fiqih dan Ilmu Ushul Fiqih dan tidak menetukan hukum sekedar dari status keshahihan haditsnya saja.
  • Hakikat keshahihan hadits itu hanya sebatas konfirmasi bahwa kejadian itu memang benar-benar terjadi di masa Nabi SAW. Tetapi apa yang menjadi kesimpulan hukumnya tidak secara otomatis sesuai dengan kejadian itu.
  • Keshahihan suatu hadits sebenarnya tetap tidak bisa dilepaskan dari hasil ijtihad, sehingga bisa saja keshahihannya masih jadi perddebatan ulama hadits. Sebagian bilang shahih tapi boleh jadi sebagian bilang tidak shahih.

Wallahu a'lam bishshawab

Ahmad Sarwat, Lc.,MA dalam rumahfiqih.com

[1] Al-Bukhari, Shahih Bukhari, jilid 1 hal. 86
[2] Abu Daud, Sunan Abu Daud, jilid 1 hal. 176
[3] Al-Bukhari, Shahih Bukhari, jilid 9 hal. 87
[4] Al-Bukhari, Shahih Bukhari, jilid 2 hal. 17
[5] Al-Bukhari, Shahih Bukhari, jilid 3 hal. 37
[6] Al-Bukhari, Shahih Bukhari, jilid 1 hal. 65

6/14/2017

Kemendikbud tak Hapus Pendidikan Agama, Tapi Justru Memperkuatnya

Banyak sekali isu berseliweran di media bahwa Kemdikbud akan menghapus pendidikan agama di lingkungan sekolah. Sontak saja, kabar ini menimbulkan pro-kontra khususnya masyarakat. Namun benarkah isu tersebut dan bagaimana penjelasannya?

Sebagaimana dilansir oleh republika.co.id, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) membantah isu dihapuskannya pendidikan agama di sekolah. Pendidikan agama justru diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler.

"Upaya untuk meniadakan pendidikan agama itu tidak ada di dalam agenda reformasi sekolah sesuai arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)," kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (Ka BKLM), Ari Santoso, dalam keterangannya, Rabu (14/6).

Ari menjelaskan justru pendidikan keagamaan yang selama ini dirasa kurang dalam jam pelajaran pendidikan agama akan semakin diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler. Dia menjelaskan, Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan, dengan tegas bahwa sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017, sekolah dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai karakter utama religiusitas atau keagamaan.

Ari menambahkan, bahwa Mendikbud memberi contoh penerapan penguatan pendidikan karakter yang dilakukan beberapa kabupaten seperti Kabupaten Siak yang memberlakukan pola sekolah sampai pukul 12.00 WIB, dilanjutkan dengan belajar agama bersama para uztad. Siswa diberi makan siang yang dananya diambil dari APBD. "Kemudian Mendikbud menyampaikan pola yang diterapkan Kabupaten Pasuruan. Seusai sekolah, siswa belajar agama di madrasah diniyah. Hal itu sesuai dengan pasal 5 ayat 6 dan ayat 7 Permendikbud tentang Hari Sekolah yang mendorong penguatan karakter religius melalui kegiatan ekstrakurikuler."

6/08/2017

Sesuatu yang Tidak Dilakukan Nabi itu Bid'ah (Tercela)?

Sesuatu yang Tidak Dilakukan Nabi itu Bid'ah (Tercela)?
Sering kita mendengar ungkapan-ungkapan 'itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi', 'Rasulullah tidak pernah melakukan itu', 'Rasulullah, sahabat, dan salafus salih tidak pernah melakukan semua itu' dalam kehidupan sehari-hari. Uniknya lagi, ungkapan-ungkapan itu biasanya bertujuan untuk menyebut bahwa perbuatan itu tercela atau bid'ah yang harus dihindari.

Lalu, benarkah jika sebuah perbuatan yang tidak dilakukan oleh Rasulullah serta merta bid'ah yang tercela? Bagaimanakah kaidah ushul fiqih dalam memandang perbuatan yang tidak dilakukan oleh Nabi? Maka berikut penjelasan lengkap tentang sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi beserta tujuan daripadanya.

Benarkah Sesuatu yang Tidak Dilakukan oleh Nabi itu Bid'ah?


Perlu diketahui, sesuatu yang tidak dilakukan Nabi ﷺ tidak bisa serta merta langsung dihukumi bid’ah yang bermakna haram. Hal itu karena banyak sekali kemungkinan makna atau motivasi daripada ditinggalkannya perbuatan tersebut oleh Rasulullah Saw. Berikut adalah 9 kemungkinan makna daripada sesuatu yang ditinggalkan atau tidak dilakukan oleh Nabi ﷺ:


1. Karena hukumnya tidak wajib


Sesuatu yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah ﷺ bisa karena hukumnya tidak wajib. Misalnya berwudhu setelah memakan makanan yang dimasak api. Rasulullah ﷺ tidak berwudhu setelah memakan makanan yang dimasak oleh api. Wudhu  yang ditinggalkan Rasulullah ﷺ ini bermakna hukum melakukannya tidak wajib. Maksudnya, tidak wajib orang yang memakan makanan yang dimasak dengan api untuk berwudhu sesudahnya. Abu Dawud meriwayatkan;
سنن أبى داود – م (1/ 75)
عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ آخِرُ الأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَرْكَ الْوُضُوءِ مِمَّا غَيَّرَتِ النَّارُ

“Dari Jabir dia berkata; Akhir dari dua perkara dari Rasulullah ﷺ adalah; Beliau tidak berwudhu karena makan sesuatu yang disentuh api (H.R.Abu Dawud)

2. Karena khawatir menjadi wajib


Bisa juga Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu karena khawatir menjadi wajib seperti shalat tarawih berjamaah yang ditinggalkan Rasulullah ﷺ. Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (3/ 459)
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّوْا مَعَهُ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ لَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا

“Dari Ibnu Syihab, ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Urwah bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah ﷺ pada suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid, orang-orang kemudian mengikuti beliau dan shalat dibelakangnya. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan beliau. Dan pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi, lalu Rasulullah ﷺ keluar untuk shalat dan mereka shalat bersama beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jamaah hingga akhirnya beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah beliau selesai shalat Fajar, beliau menghadap kepada orang banyak membaca syahadat lalu bersabda: Amma badu, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut shalat tersebut akan diwajibkan atas kalian, sementara kalian tidak mampu. (H.R.Bukhari)

3. Karena lupa


Bisa juga Rasulullah meninggalkan sesuatu karena lupa, seperti beliau shalat dengan rakaat yang tidak lengkap pada kisah Dzul Yadain. Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (3/ 137)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ انْصَرَفَ مِنْ اثْنَتَيْنِ فَقَالَ لَهُ ذُو الْيَدَيْنِ أَقَصُرَتْ الصَّلَاةُ أَمْ نَسِيتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ أَصَدَقَ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالَ النَّاسُ نَعَمْ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ فَصَلَّى اثْنَتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ

“Dari Abu Hurairah, ketika Rasulullah ﷺ menyelesaikan shalatnya yang baru dua raka’at, Dzul Yadain berkata kepada beliau: “Apakah shalat diqashar ataukah Anda lupa, wahai Rasulullah? Maka Rasulullah ﷺ berkata: Apakah benar yang dikatakan Dzul Yadain? Orang-orang menjawab: Benar. Maka Rasulullah ﷺ berdiri dan mengerjakan shalat dua rakaat yang kurang tadi kemudian memberi salam. Kemudian beliau bertakbir lalu sujud seperti sujudnya (yang biasa) atau lebih lama lagi (H.R.Bukhari)

4. Karena jijik atau tidak terbiasa


Bisa juga Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu karena perasaan jijik/tidak terbiasa saja sementara hukum sebenarnya adalah halal. Misalnya Rasulullah ﷺ tidak mau memakan biawak panggang yang dihidangkan di depan beliau. Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (17/ 6)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ قَالَ
أُتِيَ النَّبِيُّ بِضَبٍّ مَشْوِيٍّ فَأَهْوَى إِلَيْهِ لِيَأْكُلَ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُ ضَبٌّ فَأَمْسَكَ يَدَهُ فَقَالَ خَالِدٌ أَحَرَامٌ هُوَ قَالَ لَا وَلَكِنَّهُ لَا يَكُونُ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ فَأَكَلَ خَالِدٌ وَرَسُولُ اللَّهِ يَنْظُرُ

“Dari Ibnu Abbas dari Khalid bin Al Walid ia berkata; Nabi ( pernah diberi daging biawak yang terpanggang. Maka beliau pun berselera hendak memakannya, lalu dikatakanlah kepada beliau, “Itu adalah daging biawak.” Dengan segera beliau menahan tangannya kembali. Khalid bertanya, Apakah daging itu adalah haram? beliau bersabda: Tidak, akan tetapi daging itu tidak ada di negeri kaumku. Beliau tidak melarang. Maka Khalid pun memakannya sementara Rasulullah ﷺ melihat. (H.R.Bukhari)

5. Karena tidak terpikirkan


Bisa juga Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu hanya karena tidak terpikirkan semata, misalnya Rasulullah ﷺ tidak membuat mimbar untuk khutbah jumat, dan baru membuat mimbar setelah diusulkan salah seorang shahabat. Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (7/ 275)
 عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا أَجْعَلُ لَكَ شَيْئًا تَقْعُدُ عَلَيْهِ فَإِنَّ لِي غُلَامًا نَجَّارًا قَالَ إِنْ شِئْتِ قَالَ فَعَمِلَتْ لَهُ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ قَعَدَ النَّبِيُّ عَلَى الْمِنْبَرِ الَّذِي صُنِعَ فَصَاحَتْ النَّخْلَةُ الَّتِي كَانَ يَخْطُبُ عِنْدَهَا حَتَّى كَادَتْ تَنْشَقُّ فَنَزَلَ النَّبِيُّ حَتَّى أَخَذَهَا فَضَمَّهَا إِلَيْهِ فَجَعَلَتْ تَئِنُّ أَنِينَ الصَّبِيِّ الَّذِي يُسَكَّتُ حَتَّى اسْتَقَرَّتْ قَالَ بَكَتْ عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنْ الذِّكْرِ

“Dari Jabir bin ‘Abdullah ( bahwa ada seorang wanita kaum Anshar berkata, kepada Rasulullah ﷺ : “Tidakah sebaiknya aku buatkan sesuatu yang bisa baginda pergunakan untuk karena aku punya pembantu  yang pekerjaannya sebagai tukang kayu? Beliau menjawab: Silakan bila kamu kehendaki. Sahal berkata: Maka wanita itu membuatkan mimbar. Ketika hari Jumat Nabi ﷺ duduk diatas mimbar yang telah dibuat tersebut. Lalu batang pohon kurma yang biasanya beliau berkhuthbah di atasnya berteriak hingga hampir-hampir batang pohon itu terbelah. Maka Nabi ﷺ turun menghampiri batang kayu tersebut lalu memegang dan memeluknya hingga akhirnya batang kayu tersebut merintih dengan perlahan seperti bayi hingga akhirnya berhenti dan menjadi tenang. Beliau berkata: Batang kayu itu menangis karena dzikir yang pernah didengarnya (H.R.Bukhari)

6. Karena sudah termasuk keumuman nash


Bisa juga Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu karena sudah termasuk keumuman nash,seperti puasa Dawud. Rasulullah ﷺ tidak melakukan puasa Dawud namun menjelaskan dengan ucapan bahwa puasa tersebut adalah puasa yang paling afdhol. Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (15/ 477)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ أَنْكَحَنِي أَبِي امْرَأَةً ذَاتَ حَسَبٍ فَكَانَ يَتَعَاهَدُ كَنَّتَهُ فَيَسْأَلُهَا عَنْ بَعْلِهَا فَتَقُولُ نِعْمَ الرَّجُلُ مِنْ رَجُلٍ لَمْ يَطَأْ لَنَا فِرَاشًا وَلَمْ يُفَتِّشْ لَنَا كَنَفًا مُنْذُ أَتَيْنَاهُ فَلَمَّا طَالَ ذَلِكَ عَلَيْهِ ذَكَرَ لِلنَّبِيِّ فَقَالَ الْقَنِي بِهِ فَلَقِيتُهُ بَعْدُ فَقَالَ كَيْفَ تَصُومُ قَالَ كُلَّ يَوْمٍ قَالَ وَكَيْفَ تَخْتِمُ قَالَ كُلَّ لَيْلَةٍ قَالَ صُمْ فِي كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةً وَاقْرَإِ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ قَالَ قُلْتُ أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فِي الْجُمُعَةِ قُلْتُ أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ أَفْطِرْ يَوْمَيْنِ وَصُمْ يَوْمًا قَالَ قُلْتُ أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ صُمْ أَفْضَلَ الصَّوْمِ صَوْمَ دَاوُدَ صِيَامَ يَوْمٍ وَإِفْطَارَ يَوْمٍ

“Dari Abdullah bin Amr, ia berkata; Bapakku menikahkanku dengan seorang wanita yang memiliki kemuliaan leluhur. Lalu bapakku bertanya pada sang menantunya mengenai suaminya. Maka sang menantu pun berkata, Dia adalah laki-laki terbaik, ia belum pernah meniduriku dan tidak juga memelukku mesra semenjak aku menemuinya. Maka setelah selang beberapa lama, bapakku pun mengadukan hal itu pada Nabi ﷺ, akhirnya beliau bersabda: Bawalah ia kemari. Maka setelah itu, aku pun datang menemui beliau, dan belaiau bersabda: Bagaimanakah ibadah puasamu? aku menjawab, Yaitu setiap hari. Beliau bertanya lagi, Lalu bagaimana dengan Khataman Al Qur`anmu? aku menjawab, Yaitu setiap malam. Akhirnya beliau bersabda: Berpuasalah tiga hari pada setiap bulannya. Dan bacalah (Khatamkanlah) Al Qur`an sekali pada setiap bulannya. Aku katakan, Aku mampu lebih dari itu. Beliau bersabda: Kalau begitu, berpuasalah tiga hari dalam satu pekan. Aku berkata, Aku masih mampu lebih dari itu. Beliau bersabda: Kalau begitu, berbukalah sehari dan berpuasalah sehari. Aku katakan, Aku masih mampu lebih dari itu. Beliau bersabda: Berpuasalah dengan puasa yang paling utama, yakni puasa Dawud, yaitu berpuasa sehari dan berbuka sehari. (H.R.Bukhari)

7. Karena khawatir memberatkan


Bisa juga Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu karena khawatir memberatkan sahabat, seperti  pelaksanaan shalat Isya di tengah malam. Sebenarnya Rasulullah ﷺ ingin shalat Isya berjamaah di tengah malam atau sepertiga malam, namun karena  khawatir memberatkan umatnya maka hal tersebut tidak dilakukan. An-Nasai meriwayatkan;
سنن النسائي (2/ 361)
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَاةَ الْمَغْرِبِ ثُمَّ لَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَخَرَجَ فَصَلَّى بِهِمْ ثُمَّ قَالَ إِنَّ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا وَنَامُوا وَأَنْتُمْ لَمْ تَزَالُوا فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرْتُمْ الصَّلَاةَ وَلَوْلَا ضَعْفُ الضَّعِيفِ وَسَقَمُ السَّقِيمِ لَأَمَرْتُ بِهَذِهِ الصَّلَاةِ أَنْ تُؤَخَّرَ إِلَى شَطْرِ اللَّيْلِ

“Dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata; “Kami shalat Maghrib bersama Rasulullah ﷺ , kemudian beliau ﷺ keluar kepada kami hingga telah lewat separuh malam. Lalu beliau keluar dan shalat bersama mereka, lantas bersabda: Orang-orang sudah shalat dan mereka telah tidur dan kalian selalu dalam keadaan orang yang shalat selama masih menunggu shalat. Seandainya tidak menambah lemah orang yang lemah dan tidak menambah sakit orang yang sakit, maka aku pasti memerintahkan mereka untuk mengakhirkan shalat ini sampai pertengahan malam. (H.R.An-Nasai)

Hadis yang senada juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzy;
سنن الترمذى (1/ 280)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُؤَخِّرُوا الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفِهِ

“Dari Abu Hurairah ia berkata; “Rasulullah ﷺ bersabda: “Sekiranya tidak memberatkan umatku, sungguh akan aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan shalat isya hingga sepertiga atau pertengahan malam. (H.R.At-Tirmidzi)

8. Karena kemaslahatan


Bisa juga Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu karena khawatir mengubah hati shahabat dan menimbulkan masalah di tengah-tengah umatnya seperti rencana membangun kembali Kabah.  Rasulullah ﷺ sebenarnya ingin membongkar Kabah dan membangun kembali pondasinya menurut pondasi yang semestinya. Namun, karena beliau melihat Shahabat-shahabatnya masih dekat dengan masa jahiliyyah, maka beliau meninggalkan keinginan tersebut. Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (5/ 495)
 عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ لَوْلَا حَدَاثَةُ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَنَقَضْتُ الْبَيْتَ ثُمَّ لَبَنَيْتُهُ عَلَى أَسَاسِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَإِنَّ قُرَيْشًا اسْتَقْصَرَتْ بِنَاءَهُ وَجَعَلْتُ لَهُ خَلْفًا

“Dari ‘Aisyah (, ia berkata; Rasulullah ﷺ berkata, kepadaku: “Seandainya bukan karena zaman kaummu yang masih dekat dengan kekufuran tentu aku sudah membongkar Kabah lalu aku bangun kembali diatas pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam karena orang-orang Quraisy telah mengurangi pembangunannya dan aku akan buatkan pintu (dari belakangnya) (H.R.Bukhari)

9. Karena persoalan belum terjadi


Bisa juga Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu karena persoalan memang belum terjadi, misalnya Rasulullah ﷺ tidak pernah mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf, tidak pernah memberi hukum untuk kasus waris kombinasi antara kakek dengan saudara, tidak pernah membagi warisan dengan cara ‘aul, dan lain-lain.

Lalu, Kapankah Suatu yang Ditinggalkan Nabi itu Dinamakan Bid'ah (Tercela)?


Dari penjelasan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa, apa yang ditinggalkan Rasulullah ﷺ tidak bisa langsung dimaknai bidah dan dihukumi haram, namun harus dikaitkan dengan nash-nash yang lain dan dihubungkan dengan qarinah-qarinah seputar topik tersebut untuk memahami status apa yang ditinggalkan apakah bermakna haram, mubah, sunnah, dan lain-lain.

Seandainya apa yang ditinggalkan Rasulullah ﷺ secara mutlak semuanya bermakna haram, niscaya para sahabat sedikitpun tidak akan berani melakukan apapun secara mutlak apa yang tidak pernah dilakukan Rasulullah ﷺ. Faktanya, dalam sejarah ada banyak hal yang dilakukan sahabat yang tidak dilakukan oleh Rasulullah ﷺ baik terkait ibadah maupun selain ibadah. Para sahabat shalat tarawih berjamaah sebulan penuh, adzan dua kali saat Jumat, puasa sepanjang masa, mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf, memperluas masjid Nabawy, dan lain-lain yang semuanya menunjukkan bahwa apa yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ tidak langsung difahami sebagai bidah yang dihukumi haram.

Mengharamkan sesuatu harus dinyatakan oleh dalil, tidak cukup hanya dengan argumentasi: Tidak pernah dilakukan Rasulullah ﷺ. Keharaman sesuatu yang didasarkan dalil bentuknya bisa berupa larangan tegas seperti larangan berzina dalam ayat berikut;
{وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا} [الإسراء: 32]

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isro’ 32)

Bisa juga berupa lafadz lugas tahrim (mengharamkan), misalnya haramnya  bangkai, darah, daging babi dalam ayat berikut;
{حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ } [المائدة: 3]

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah , daging babi” (Al-maidah;3)

Bisa juga berupa ancaman keras atau kecaman tajam terhadap sesuatu seperti  ancaman hukuman potong tangan dan larangan tasyabbuh dalam hadis;
{ وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا } [المائدة: 38]

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya” (Al-Maidah; 38)
سنن الترمذى (9/ 317)
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

“Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukan termasuk golonganku orang yang tasyabbuh (menyerupai atau mengikuti) kepada selain kami” (H.R. At-Tirmidzi)

Pendeknya, sesuatu bisa dikatakan haram jika dinyatakan oleh dalil dengan qarinah yang tegas menunjukkan keharaman. Tidak semata-mata hanya karena tidak pernah dilakukan Rasulullah ﷺ.

Para Salafush Shalih Sangat Berhati-Hati dalam Mengharamkan Sesuatu


Ibnu Umar pernah mengkritik orang yang menyimpulkan langsung bahwa lafadz naha (melarang) adalah bermakna haram. Ibnu Umar mengkritik cara menyimpulkan yang demikian karena lafadz naha bisa bermakna makruh, bukan haram. Ibnu Rojab menulis dalam kitabnya Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam:
جامع العلوم والحكم محقق (32/ 12)
قالَ ابنُ المبارك : أخبرنا سلاَّمُ بن أبي مطيع ، عن ابن أبي دخيلةَ ، عن أبيه ، قالَ : كنتُ عندَ ابن عمر ، فقالَ : نهى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عَنِ الزَّبيب والتَّمر ، يعني : أنْ يُخلطا ، فقال لي رجل من خلفي : ما قال ؟ فقلتُ: حرَّم رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – الزبيب والتمر ، فقال عبد الله بنُ عمر : كذبتَ ، فقلتُ : ألم تقل : نهى رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – عنه ، فهو حرامٌ ؟ فقال : أنت تشهد بذاك ؟ قال سلاَّم : كأنه يقول : من نهي النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ما هو أدب .

“Ibnu Al-Mubarok berkata; Sallam bin Abi Muthi’ memberitahu kami dari Ibnu Abi Dakhilah beliau berkata: Aku berada di sisi Ibnu Umar. Beliau berkata: Rasulullah ﷺ melarang anggur kering dan kurma kering, yakni untuk dicampur. Maka seorang lelaki dibelakangku bertanya: Apa yang dia katakan? Maka aku menjawab: Rasulullah ﷺ mengharamkan anggur kering dan kurma kering (untuk dicampur). Maka Abdulah bin Umar berkata: Engkau berdusta. Aku berkata: bukankah engkau mengatakan Rasulullah ﷺ telah melarangnya, bukankah itu bermakna haram? Beliau bertanya; Engkau bersaksi atas hal tersebut? Sallam berkata; seakan-akan beliau menjelaskan, diantara larangan  Rasulullah ﷺ ada yang termasuk adab -tidak disukai/makruh (Jami Al-Ulum wa Al-Hikam, vol 12. Hlm 32)

Ulama-ulama faqih di kalangan ulama salaf seperti Malik, As-Syafii dan lain-lain justru sangat berhati-hati untuk menghukumi  haram.  Mereka lebih suka mengatakan makruh terhadap persoalan yang belum diyakini keharamannya, atau ada sejenis kesamaran, atau ada ikhtilaf. Ibnu Rojab menyatakan;
جامع العلوم والحكم (ص: 280)
وقد ذكرنا فيما تقدم عن العلماء الورعين كأحمد ومالك توقيا إطلاق لفظ الحرام على ما لم يتيقن تحريمه ما فيه نوع شبهة أو اختلاف وقال النخعي كانوا يكرهون أشياء لا يحرمونها وقال ابن عون

“Telah kami sebutkan sebelumnya ulama-ulama wara’ seperti Ahmad dan  Malik yang menjauhi memvonis dengan lafadz haram terhadap sesuatu yang tidak diyakini keharamannya, selama di dalamnya masih ada sejenis kesamaran atau ikhtilaf. An-Nakho’iy berkata: mereka memakruhkan sesuatu,  tidak mengharamkannya. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Hlm 280)

Dari sini jelaslah, bahwa menentukan status haram haruslah hati-hati. Memvonis haram hanya karena Nabi ﷺ tidak pernah melakukan dikhawatirkan termasuk kekurang hati-hatian yang bertentangan dengan sifat wara’.  Dikhawatirkan pula sikap demikian tercakup dalam kandungan ayat yang mencela orang yang mengharamkan yang dihalalkan Allah atau sebaliknya.  Allah berfirman;
{وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ} [النحل: 116]

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung.” (An-Nahl; 116)
{آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ} [يونس: 59]

Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-ada saja terhadap Allah ?” (Yunus; 59)

Sampai titik ini bisa dilanjutkan, jika apa yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ saja tidak bisa langsung difahami sebagai haram, maka apa yang tidak dilakukan Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan ulama-ulama salaf lebih utama untuk tidak difahami sebagai haram apalagi menjadi dalil. Hal itu dikarenakan apa yang tidak dilakukan mereka lebih banyak lagi faktornya  sehingga kemungkinan maknanya juga semakin banyak. Apalagi perbuatan selain Nabi ﷺ bukanlah menjadi dalil, sehingga tidak bisa dibahas dalam diskusi hukum syara’.

Diolah dari tulisan Muafa dalam irtaqi.com yang berjudul 'Apakah semua yang tidak dilakukan nabi dihukumi bid'ah'