3/20/2017

Rasulullah Saw. Selalu Memerhatikan Penampilan Umatnya

''Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.'' (QS: al A'raf [7] : 31).

Rasulullah Selalu Memerhatikan Penampilan Umatnya
Penampilan adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan seseorang saat bertemu satu dengan lainnya. Raut muka, pakaian, dan bentuk tubuh adalah hal yang pertama dilihat. Bagaimanakah petunjuka Islam tentang penampilan?

Diuraikan dalam buku "Hidup Saleh dengan Nilai Spiritual Islam", tak pernah Nabi tidak memerhatikan penampilan umatnya. Beliau tidak pernah melihat seorang yang berpakaian lusuh, kecuali Nabi mengkritiknya lantaran ketidakpeduliannya terhadap dirinya sendiri.

Oleh karenanya, umat sebaiknya memeriksakan penampilan diri sebelum bepergian atau menemui orang lain. Ia hendaknya membuat dirinya terlihat menarik dan bersih, dengan sikap yang sederhana, karena Nabi SAW membuat diri beliau enak dilihat di hadapan para sahabat juga keluarganya.

Hal ini selaras dengan ayat Al-Qur'an di atas, bahwa Allah Swt. memerintahkan manusia untuk berpakaian yang bagus setiap memasuk masjid serta makan dan minum secara sederhana.

Atas petunjuk inilah pula, Imam Abu Hanifah  RA selalu merawat pakaian dengan baik dan memastikan beliau merasa bersih dan segar. Beliau juga menganjurkan orang lain untuk melakukan hal serupa.

Pernah suatu waktu, Imam Abu Hanifah melihat seorang lelaki yang menghadiri majelis kajiannya dengan berpakaian lusuh dan kotor. Lalu beliau menyuruhnya menyingkir ke sisi lain dan memberinya uang seribu Dirham untuk membeli pakaian yang bersih.

Muslim sejati memahami bahwa Islam menganjurkan untuk berpakaian bersih setiap waktu, terlebih ketika shalat. Tetapi diingatkan dalam sebuah hadis, Islam pun merupakan agama yang memberi peringatan atas sikap berlebihan dalam hal itu, dan mengatakan kepadanya untuk menghindari perbudakan oleh penampilannya.

3/17/2017

Saat Syafi'i Muda Berfatwa di Hadapan Imam Malik

Saat Syafi'i Muda Berfatwa di Hadapan Imam Malik
Salah seorang murid imam Syafi`i; ar-Rabii`, bercerita pada satu hari, imam Syafi`i pernah duduk di hadapan imam Malik, lalu datanglah seorang lelaki menghadap imam Malik, seraya bercerita:

"Wahai Abu Abdullah (imam Malik), saya ini penjual burung merpati bersuara merdu (Qumriy). Dan hari ini saya berhasil menjual seekor merpati, lalu pembelinya datang lagi sambil melaporkan, bahwa merpatinya hanya diam saja; tidak berkicau. Kemudian kami bertengkar hingga akhirnya saya bersumpah, bahwa merpati yang saya jual ini tidak pernah berhenti berkicau. Jika itu tidak benar, maka berarti istri saya telah tertalak (cerai)".

Lalu, imam Malik menjawab:

"Kalau begitu, maka berarti istrimu sudah tertalak".

Setelah mendengar fatwa itu, lelaki tersebut beranjak pergi dengan penuh kesedihan. Lalu, imam Syafi`i yang saat itu masih berumur 14 tahun, berdiri menyusul lelaki tersebut dan bertanya kepadanya:

"Burung merpatimu itu lebih sering berkicau, atau sering tidak berkicau (diam)?".

Lelaki itu pun menjawab:

"Merpatiku itu lebih sering berkicau".

Imam Syafi`i lalu berkata padanya:

"Kalau begitu, teruskanlah. Sebab, istrimu dinilai belum tertalak".

Setelah itu, imam Syafi`i kembali duduk di majelis imam Malik. Dan ternyata lelaki yang bertanya tadi juga kembali menemui imam Malik, seraya melapor kepadanya:

"Wahai Abu Abdullah, mohon pikirkan sekali lagi persoalan saya tadi, agar engkau mendapatkan pahala atas jawabannya!".

Imam Malik menjawab:

"Jawabannya ya seperti yang sudah saya sampaikan".

Lelaki itu berkata:

"Masalahnya, tadi ada orang di majelismu mengatakan bahwa talak saya dinilai belum jatuh".

Lalu, imam Malik bertanya:

"Siapa orangnya?".

Lelaki itupun berkata sambil menunjuk imam Syafi`i:

"Orangnya ya anak muda ini!".

Mengetahui hal itu, akhirnya membuat imam Malik marah kepada imam Syafi`i, dan berkata kepadanya:

"Apa yang menjadi argumentasimu?".

Imam Syafi`i pun menjawab:

"Karena tadi saya sudah bertanya pada lelaki itu; apakah merpatinya lebih sering berkicau, atau lebih sering diam tidak berkicau, lalu dia memberitahukan bahwa merpatinya lebih sering berkicau".

Lalu, imam Malik menyanggah:

"Argumentasimu ini justru lebih jelek dari argumentasi saya. Apa pengaruhnya sering berkicau atau tidak berkicau dalam persoalan ini?!".

Imam Syafi`i menjawab:

"Itu dikarenakan anda pernah menyampaikan pada saya, sebuah hadis dengan jalur sanad Abdullah bin Yazid, Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Fatimah binti Qais, yang menceritakan bahwa dirinya pernah mendatangi Nabi Muhammad -Shallallaahu`alaihiwasallam-, lantas bercerita bahwa dirinya dilamar oleh dua orang; Abu Jahm dan Mu`awiyah. Kira-kira, siapa yang harus beliau pilih. Nabi pun menjawab:

أما معاوية فصعلوك، وأما أبو جهم فرجل لا يضع عصاه عن عاتقه

[Mu`wiyah itu orang miskin, sedangkan Abu Jahm itu selalu meletakkan tongkat di atas bahunya]

Nah, Rasulullah -Shallallaahu`alaihiwasallam- mengatakan Abu Jahm seperti itu, sementara beliau pasti sudah tahu bahwa Abu Jahm itu juga makan, minum dan beristirahat.

Dari sinilah kita mengetahui, bahwa yang dimaksudkan adalah kebiasaan Abu Jahm yang sering meletakkan tongkat di atas bahunya, bukan berarti beliau melakukan itu setiap saat tanpa pengecualian".

Imam Syafi`i melanjutkan:

"Jadi, seperti itu jugalah dalam kasus ini. Saya memahami maksud ucapan lelaki tadi itu (tidak berhenti berkicau) adalah kebiasaan dari merpatinya, bukan berarti setiap saat berkicau".

Ar-Rabii` bercerita, setelah mendengarkan penjelasan imam Syafi`i tersebut, imam Malik menjadi kagum, dan tidak lagi mencela pendapatnya.

[Dikutip dari Manaaqib al-Imam as-Syafi`i, karya imam Fakhruddin ar-Raazy]. - dipublikasikan pertama kali di NOTE'S

3/03/2017

Mengenal Masjid Istiqlal Jakarta

“Marilah kita membuat masjid yang tahan menghadapi cakaran masa, sehingga ia dapat bertahan seribu, dua ribu, bahkan tiga ribu tahun.” 
Itulah ungkapan Presiden Sukarno saat melakukan pemancangan tiang pertama masjid Istiqlal, 24 Agustus 1961. Sebuah masjid yang memiliki sejarah unik dan mengagumkan, mulai dari rencana pembangunan hingga bentuk arsitekturnya yang mencerminkan gambaran Indonesia yang modern dan progresif.

Sejarah Masjid Istiqlal


Tepatnya pada tahun 1953 beberapa ulama mencetuskan ide untuk mendirikan masjid megah yang akan menjadi kebanggaan warga Jakarta sebagai ibukota khususnya dan juga rakyat Indonesia umumnya. Mereka adalah KH. Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama, yang melontarkan ide pembangunan masjid itu bersama-sama dengan H. Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto dan Ir. Sofwan beserta sekitar 200-an orang tokoh Islam pimpinan KH. Taufiqorrahman. Ide itu pun kemudian diwujudkan dengan membentuk Yayasan Masjid Istiqlal.

Selanjutnya tanggal 7 Desember 1954 didirikan yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai oleh H. Tjokroaminoto untuk mewujudkan ide pembangunan masjid nasional tersebut. Gedung Deca Park di Lapangan Merdeka (kini Jalan Medan Merdeka Utara di Taman Museum Nasional), menjadi saksi bisu atas dibentuknya Yayasan Masjid Istiqlal. Pilihan nama Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti Merdeka sebagai simbol dari rasa syukur bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SAW. Presiden pertama RI Soekarno menyambut baik ide tersebut dan mendukung berdirinya yayasan masjid Istiqlal dan kemudian membentuk Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal (PPMI).

Penentuan Lokasi Masjid Istiqlal


masjid istiqlal lama
Penentuan lokasi masjid sempat menimbulkan perdebatan antara Bung Karno dan Bung Hatta yang pada saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI. Bung Karno mengusulkan lokasi di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dengan Taman Wilhelmina yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Van Den Bosch pada tahun 1834 yang terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral dan Jalan Veteran. Sementara Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid terletak di tengah-tengah umatnya yaitu di Jalan Thamrin yang pada saat itu disekitarnya banyak dikelilingi kampung, selain itu ia juga menganggap pembongkaran benteng Belanda tersebut akan memakan dana yang tidak sedikit. Namun akhirnya Presiden Soekarno memutuskan untuk membangun di lahan bekas benteng Belanda, karena di seberangnya telah berdiri gereja Kathedral dengan tujuan untuk memperlihatkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia.

Sayembara Desain Masjid Istiqlal


Sebelumnya, Ir. Soekarno menyanggupi untuk membantu pembangunan masjid, bahkan memimpin sendiri penjurian sayembara desain maket masjid. Setelah melalui beberapa kali sidang di Istana Negara dan Istana Bogor, dewan juri pun terbentuk yang terdiri dari Prof.Ir. Rooseno, Ir.H. Djuanda, Prof.Ir. Suwardi, Hamka, H. Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Pada tahun 1955 Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal mengadakan sayembara rancangan gambar atau arsitektur masjid Istiqlal yang jurinya diketuai oleh Presiden Soekarno dengan hadiah berupa uang sebesar Rp. 75.000; serta emas murni seberat 75 gram. Sebanyak 27 peserta mengikuti sayembara, namun dari seluruh peserta hanya 5 peserta yang memenuhi syarat:

  1. F. Silaban dengan rancangannya “Ketuhanan”
  2. R. Oetoyo dengan rancangannya “Istighfar”
  3. Hans Groenewegen dengan rancangannya “Salam”
  4. Mahasiswa ITB (5 orang) rancangannya “Ilham 5”
  5. Mahasiswa ITB (3 orang) rancangannya “Chatulistiwa”


Setelah proses penjurian yang panjang dengan mempelajari rancangan arsitektur beserta makna yang terkandung didalamnya berdasarkan gagasan para peserta maka akhirnya pada 5 Juli 1955 atas perintah Presiden Soekarno memutuskan desain rancangan dengan judul “Ketuhanan” karya Frederich Silaban dipilih sebagai pemenang sebagai model dari Masjid Istiqlal. Saat berhasil memenangkan sayembara tersebut, Presiden Soekarno menyambut Friedrich dengan ucapan "By the grace of God".

Sang Arsitek Masjid Beragama Kristen


Frederich Silaban, arsitek masjid Istiqlal
Frederich Silaban berbicara dengan bung Karno
Frederich Silaban adalah seorang arsitek beragama Kristen Protestan yang taan. Ia adalah kelahiran Bonandolok Sumatera, 16 Desember 1912, anak dari pasangan suami istri Jonas Silaban Nariaboru. F. Silaban merupakan salah satu lulusan terbaik dari Academie van Bouwkunst Amsterdam tahun 1950. Selain membuat desain masjid Istiqlal, ia juga merancang kompleks Gelanggang Olahraga Senayan.

Untuk menyempurnakan rancangan masjid Istiqlal, F. Silaban mempelajari tata cara dan aturan orang muslim melaksanakan shalat dan berdoa selama kurang lebih 3 bulan dan selain itu ia juga mempelajari banyak pustaka mengenai masjid-masjid di dunia.

Awal Pembangunan Masjid Istiqlal


kubah masjid istiqlal lama
pembangunan kubah masjid Istiqlal tahun 1970-an
Pada sekitar tahun 1950 hingga akhir tahun 1960-an Taman Wilhelmina di depan Lapangan Banteng dikenal sepi, gelap, kotor dan tak terurus. Tembok-tembok bekas bangunan benteng Frederik Hendrik di taman dipenuhi lumut dan rumput ilalang dimana-mana. Kemudian tahun 1960, di tempat yang sama, ribuan orang yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat biasa, pegawai negeri, swasta, alim ulama dan ABRI bekerja bakti membersihkan taman tak terurus di bekas benteng penjajah itu.

Setahun kemudian, tepatnya 24 Agustus 1961, masih dalam bulan yang sama perayaan kemerdekaan RI, menjadi tanggal yang paling bersejarah bagi umat muslimin di Jakarta khususnya, dan Indonesia umumnya. Untuk pertama kalinya, di bekas taman itu, kota Jakarta memiliki sebuah masjid besar. Sebuah masjid yang dimaksudkan sebagai simbol kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Padanan katanya dalam bahasa Arab berarti merdeka dan disepakati diberi nama Istiqlal sehingga jadilah, Masjid Istiqlal namanya.

Tanggal yang bertepatan dengan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW itu, dipilih sebagai momen pemancangan tiang pertama oleh Presiden pertama RI, Ir. Soekarno yang ketika itu langsung bertindak sebagai Kepala Bidang Teknik.

Proses Panjang Pembangunan Masjid Istiqlal


Seiring dengan iklim politik dalam negeri yang cukup memanas, proyek ambisius itu tersendat-sendat pembangunannya, karena berbarengan dengan pembangunan monumen lain seperti Gelora Senayan, Monumen Nasional, dan berbagai proyek mercu suar lainnya. Hingga pertengahan tahun ’60-an proyek Masjid Istiqlal terganggu penyelesaiannya. Puncaknya ketika meletus peristiwa G 30 S/PKI tahun ’65-’66, pembangunan Masjid Istiqlal bahkan terhenti sama sekali.

Barulah ketika Himpunan Seniman Budayawan Islam memperingati miladnya yang ke-20, sejumlah tokoh, ulama dan pejabat negara tergugah untuk melanjutkan pembangunan Masjid Istiqlal. Dipelopori oleh Menteri Agama KH. M. Dahlan upaya penggalangan dana mewujudkan fisik masjid digencarkan kembali. Presiden Soekarno, yang pamornya di mata masyarakat mulai luntur, kedudukannya dalam kepengurusan diganti oleh KH. Idham Chalied yang bertindak sebagai koordinator panitia nasional Masjid Istiqlal yang baru. Lewat kepengurusan yang baru, masjid dengan arsitektur bergaya modern itu selesai juga pembangunannya.

Semula pembangunan masjid direncanakn akan memakan waktu selama 45 tahun namun dalam pelaksanaannya ternyata jauh lebih cepat. Bangunan utama dapat selesai dalam waktu 6 tahun tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1967 sudah dapat digunakan yang ditandai dengan berkumandangnya adzan Maghrib yang pertama.

Secara keseluruhan pembangunan masjid Istiqlal diselesaikan dalam kurun waktu 17 tahun. Peresmiannya dilakukan oleh presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978. Kurun waktu pembangunannya telah melewati dua periode masa kepemimpinan yaitu Orde Lama dan Orde Baru. Pendanaan pembangunan masjid ini pada masa Orde Lama direalisasikan melalui proyek Mandataris sementara pada masa Orde Baru menjadi bagian dari Proyek RePelita (Rencana Pembagunan Lima Tahun). Kini masjid Istiqlal berdiri megah di Ibukota Jakarta dan menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Indonesia.

BANGUNAN MASJID ISTIQLAL DAN SPESIFIKASINYA


mengenal masjid istiqlal
Masjid Istiqlal menerapkan prinsip minimalis. Secara umum masjid Istiqlal terdiri dari gedung induk, gedung pendahulu dan emper sampingnya, teras raksasa, dan emper keliling serta menara. Ruang-ruang terbuka atau plaza di kiri-kanan bangunan utama dengan tiang-tiang lebar di antaranya, dimaksudkan oleh perancangnya untuk memudahkan sirkulasi udara dan penerangan yang alami serta mendatangkan kesejukan hati bagi para jamaah yang beribadah.

Spesifikasi Masjid Istiqal:

Luas tanah 12 ha

Luas bangunan  7 ha

Luas lantai 72.000 m2

Luas atap 21.000 m2

Dalam pembangunan masjid ini dibutuhkan:

Semen 78.000 zak dari Gresik

Baja 337 ton

Marmer 93.000 m2

Keramik 11.400 m2

Aspal 21.500 m2

Bagian-Bagian Bangunan Masjid Istiqlal


A. Gedung Induk

TINGGI : 60 meter, 5 tingkat symbol shalat 5 waktu

PANJANG : 100 meter

LEBAR : 100 meter

Tiang pancang : 2.361 buah

Bangunan utama ini adalah gedung utama dimana tempat ini dapat menampung 100.000. jemaah pada waktu shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

KUBAH BESAR dengan diameter 45 meter terbuat dari kerangka baja stainless steel dari Jerman Barat dengan berat 86 ton sementara bagian luarnya dilapisi dengan keramik. Diameter 45 meter merupakan simbol penghormatan dan rasa syukur atas kemerdekaan sesuai dengan nama Istiqlal itu sendiri.

Bagian bawah sekeliling kubah terdapat kaligrafi Surat Yassin yang dibuat oleh K.H Fa’iz. >Updated informasi: Bagian dalam di bawah sekeliling kubah terdapat kaligrafi Surat Alfateha, Surat Thaha ayat 14, Ayat Kursi, dan Surat Al Ikhlas.

Dari luar atap bagian atas kubah dipasang penangkal petir berbentuk lambang Bulan dan Bintang yang terbuat dari stainless steel dengan diameter 3 meter dan berat 2,5 ton

Dari dalam kubah di topang oleh 12 pilar berdiameter 2,6 meter dengan tinggi 12 meter, angka ini merupakan simbol angka kelahiran nabi Muhammad SAW yaitu 12 Rabiul Awal.

Seluruh bagian di gedung utama ini dilapisi marmer yang didatangkan langsung dari Tulungagung seluas 36.980 m2.

Lantainya ditutupi karpet merah sumbangan dari pemerintah Kerajaan Arab.

B. Gedung Pendahulu dan Emper Samping

Tinggi : 52 meter

Panjang : 33 meterLebar : 27 meter

Bagian memiliki lima lantai yang terletak di belakang gedung utama yang diapit 2 sayap teras. Luas lantainya 36.980 m2 dengan dilapisi 17.300 m2. jumlah tiang pancangnya sebanyak 1800 buah. Di atas gedung ini ada sebuah kubah kecil. Fungsi utama dari gedung ini setiap jamaah dapat menuju gedung utama secara langsung. Selain itu juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat perluasan shalat bila gedung utama penuh.

C. Teras Raksasa

Teras raksasa terbuka seluas 29.800 m2 terletak di sebelah kiri belakang gedung induk. Teras ini dibuat untuk menampung jamaah pada saat shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Arah poros teras ini mengarah ke Monument Nasional menandakan masjid ini adalah masjid nasional. Selain itu teras ini juga berfungsi sebagai tempat acara-acara keagamaan seperti MTQ dan pada emper tengah dahulu biasa digunakan untuk manasik (latihan) haji.

D. Emper Keliling

Emper ini mengelilingi teras raksasa dan emper tengah yang sekelilingya terdapat 1800 pilar guna menopang bangunan emper.

Panjang : 165 meter

Lebar : 125 meter

Di sudut sebelah tenggara terdapat bedug raksasa yang berfungsi sebagai alat pertanda waktu shalat. Bedug merupakan salah satu ciri ke-Islaman Indonesia dimana hanya terdapat di masjid-masjid Indonesia.

bedug masjid istiqlal jakarta
Bedug di masjid Istiqlal
Bedug ini terbuat dari kayu meranti dari Kalimantan Timur yang konon berumur 300 tahun. Garis tengah/ diameter depan adalah 2 meter sedangkan diameter belakang adalah 1,71 meter. Sementara panjang keseluruhan adalah 3 meter dengan berat total 2,3 ton.

Kulit pada bedug adalah kulit sapi. Dibutuhkan 2 lembar kulit sapi dari 2 ekor sapi dewasa. Bagian depan adalah kulit sapi jantan sedangkan bagian belakang adalah kulit sapi betina. Untuk menempelkan kulit ini dibutuhkan 90 paku yang terbuat dari kayu Sonokeling yang pembuatannya membutuhkan waktu 60 hari di Jepara Jawa Tengah.

Kaki penopang bedug disebut Jagrag setinggi 3,8 meter pada kakinya terdapat tulisan Allah dalam segilima yang melambangkan rukun Islam dan waktu shalat. Di sisi lain terdapat tulisan “Bismillahirrahmanirrahim”. Pada ke-empat sisi kakinya terdapat tulisan dua kalimat syahadat. Pada bagian Jagrag keseluruhan ada 27 buah kaligrafi ukiran SuryaSangkala (tahun matahari) yang merupakan pengaruh kebudayaan Hindu sementara pada bagian atas ada ornament ukiran menyerupai naga yang merupakan pengaruh Budha. Sehingga secara keseluruhan bedug ini merupakan wujud dari akulturasi islam dengan berbagai kebudayaan lainnya yang ada di Indonesia.

E. Menara / Minaret

TINGGI : 6666 centimeter = 66,66 meter

DIAMETER : 5 meter

Bangunan menara meruncing ke atas ini berfungsi sebagai tempat Muadzin mengumandangkan Azan. Di atasnya terdapat banyak pengeras suara yang dapat menyuarakan azan ke kawasan sekitar masjid.

Puncak menara yang meruncing dirancang berlubang-lubang terbuat dari kerangka baja tipis. Angka 6666 merupakan symbol dari jumlah ayat yang terdapat dalam AL Quran.

F. Halaman dan Air Mancur Masjid Istiqlal

Halaman masjid Istiqlal seluas 9,5 hektar. Halaman ini dapat menampung kurang lebih 800 kendaraan sekaligus melalui 7 buah pintu gerbang masuk yang ada. Di halaman masjid terdapat tiga jembatan yang panjangnya sekitar 21 sampai 25 meter.

Di dalam kompleks masjid di sebelah selatan terdapat air mancur yang berada di tengah-tengah kolam seluas ¾ hektar. Air mancur ini dapat memancarkan air setinggi 45 meter.

Halaman masjid Istiqlal dikelilingi pepohonan yang rindang agar suasana masjid terasa sejuk sehingga akan menambah kekhusukan jamaah beribadah di masjid ini.

G. Tempat Wudhu, Air, dan Penerangan

Tempat wudhu terdapat di beberapa lokasi di lantai dasar yaitu di sebelah utara, timur maupun selatan gedung utama. Tempat ini dilengkapi dengan kran khusus sebanyak 660 buah sehingga secara bersamaan 660 orang dapat berwudhu sekaligus.

Sedangkan toilet terdapat juga di lantai dasar sebelah timur di bawah teras raksasa. Toilet ini tersedia untuk 80 orang yang terbagi dua kompleks, untuk pria dan wanita. Selain itu juga terdapat 52 kamar mandi yang dapat dikunci dan beberapa toilet di lantai sebelah selatan 12 buah, barat 12 buah dan timur 28 buah.Keperluan wudhu, kamar mandi dan toilet ini dipasok sebanyak 600 liter setiap hari per menit dari PAM.

Penerangan masjid Istiqlal menggunakan listrik dari PLN, selain itu juga menggunakan 3 generator berkekuatan masing-masing 110 kva dan sebuah generator besar 500 kva. Pendingin ruangan hanya digunakan bagi ruangan-ruangan kantor di lantai bawah dengan menggunakan sistem kontrol terpusat.

H. Lantai Dasar.

Lantai dasar masjid ini luasnya 2,5 ha dahulu dibiarkan kosong dan hanya digunakan dalam keadaan darurat untuk menampung masyarakat DKI Jakarta bila dalam keadaan bahaya. Namun sejak tahun 1978 atas perintah Presiden Soeharto lantai ini digunakan untuk kantor organisasi keagamaan. Sekarang, masjid ini semarak dengan berbagai aktivitas umat muslim dan organisasi islam di dalamnya. Ada MUI, Dewan Masjid Asia dan Lautan Teduh, Dewan Masjid Indonesia, Pusat Perpustakaan Islam Indonesia, LPTQ dan BP 4 Pusat. Bahkan di atas lahan di sekeliling masjid Istiqlal, sebagian dipergunakan untuk kegiatan ekonomi, warung makan, cenderamata, dan terutama setiap hari Jum’at ramai dipenuhi pedagang dan pembeli sehabis menunaikan shalat Jum’at, yang dikenal dengan pasar Jum’atan.

Sumber: https://sites.google.com/site/muhammadrasuly/team-sponsors/sejarah-masjid-istiqlal-jakarta

3/01/2017

Kisah Malaikat Izrail dan Tamu Nabi Sulaiman

Kisah Malaikat Izrail dan Tamu Nabi Sulaiman
ilustrasi
Kematian selalu mengintai kita. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan datangnya dan tidak ada yang bisa lari ketika malaikat Izrail, sang pencabut nyawa datang menjemput. Tahukah kamu bahwa malaikat maut tidak hanya datang saat nyawa manusia akan dicabut, namun ia selalu datang hingga 70 kali dalam sehari.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan  kepada Abdullah Ibnu Abbas Radhiallahu anhu. Dalam sabdanya, Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa Izrail datang dan memperhatikan wajah-wajah manusia yang sedang tertawa-tawa.

Maka berkatalah Izrail:”Alangkah herannya aku melihat orang ini, sedangkan aku diutus oleh Allah ta’ala untuk mencabut nyawanya, tetapi dia masih bersenang-senang bergelak tawa.”

Terkait tidak adanya seorang pun yang bisa lari saat kematian telah datang, maka menarik untuk memerhatikan kisah Malaikat Izrail yang Masuk ke Rumah Nabi Sulaiman a.s. dalam wujud manusia di saat ada tamu di rumah beliau. Selengkapnya, silahkan baca kisah berikut ini:

Kisah Malaikat Izrail Masuk ke Rumah Nabi Sulaiman a.s.


Diriwayatkan bahwa pada suatu hari malaikat maut (malaikat ‘Izrail) datang ke rumah Nabi Sulaiman. Saat itu ada seorang pemuda yang sedang bercakap-cakap dengan Nabi Sulaiman di rumahnya. Begitu masuk ke dalam rumah tersebut, tiba-tiba pandangan malaikat ‘Izrail menatap tajam pada seorang pemuda yang berada di sebelah beliau. Merasa dipandangi dengan tatapan tajam, maka hati pemuda itu pun menjadi berdebar-debar. Saat itu dia merasakan tubuh dan hatinya dipenuhi rasa takut.

Setelah beberapa lama, malaikat maut (malaikat ‘Izrail) pun pergi meninggalkan Nabi Sulaiman dan pemuda tersebut. Pemuda ini pun bertanya kepada Nabi Sulaiman, “Ya Nabi Sulaiman a.s., siapakah orang tadi?” Nabi Sulaiman menjawab, “Itu adalah malaikat maut yang sedang menyamar menjadi manusia.” Pemuda tersebut berkata, “Sungguh aku tidak nyaman dengan pandangannya yang terus-menerus menatapku. Aku menjadi takut jangan-jangan dia ingin mencabut nyawaku. Ya Nabi Sulaiman, sebagai seorang nabi yang diberi kekuatan oleh Allah untuk menguasai angin, bisakah kau menyuruh angin untuk menerbangkanku ke negeri Cina? Semoga dia tidak bisa mengejarku ke negeri Cina.” Nabi Sulaiman berkata, “Apabila memang sudah waktumu untuk meninggal, bukankah kau tidak bisa lolos dari kematian?” “Ya, tetapi aku ingin mencobanya. Wahai nabi Sulaiman, aku mohon kepada engkau agar menyuruh angin untuk membawaku ke negeri Cina”, katanya.

Setelah memohon kepada nabi Sulaiman, akhirnya beliau bersedia untuk mengabulkan permohonan pemuda tadi. Dengan mukjizat dari Allah, maka disuruhnya angin untuk membawa pemuda tersebut sesuai dengan keinginannya, yaitu ke negeri Cina. Akhirnya sampailah pemuda itu ke negeri Cina.

Tidak beberapa lama setelahnya, malaikat maut datang lagi kepada Nabi Sulaiman a.s.. Pada saat itu Nabi Sulaiman bertanya perihal mengapa ia memandangi pemuda itu dengan pandangan yang tajam. Maka malaikat maut menjawab, “Sesungguhnya aku diperintahkan oleh Allah untuk mencabut nyawa pemuda itu pada saat yang telah ditentukan (hari itu) di negeri Cina. Aku memandanginya karena keheranan, mengapa Allah menyuruhku untuk mencabut nyawanya di negeri Cina sementara aku melihatnya sedang berada di dekatmu?” Maka malaikat maut melanjutkan, “Ternyata pahamlah aku, karena tidak lama setelah aku pergi, tiba-tiba angin membawanya ke negeri Cina. Dan aku telah mencabut nyawanya hari itu di Cina.”

2/22/2017

Petunjuk Teknis (Juknis) Kompetensi Sains Madrasah (KSM) 2017

Sahabat Pustama, ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) sangat ditunggu-tunggu oleh para guru, terlebih guru madrasah. Selain ingin mencoba unjuk kemampuan peserta didiknya juga tentunya menjadi ajang silaturahim antar madrasah se-Indonesia. Komepensi Sains Madrasah (KSM) tahun 2017 merupakan KSM yang keenam kalinya diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. Program dilaksanakan tidak lain untuk terus mendorong siswa madrasah agar selalu meningkatkan kemampuan intelektual, emosional dan spiritual berdasarkan nilai-nilai agama.

Petunjuk Teknis (Juknis) Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tahun 2017


Disisi yang lain, dengan adanya event Kompetisi Sains Madrasah (KSM) diharapkan agar tiap madrasah terdorong untuk selalu meningkatkan mutu pendidikan sains secara komprehensif. Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tahun 2017 ini insya Allah akan diselenggarakan di kota Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 7 sampai dengan 12 Agustus 2017. Adapun ketentuan peserta KSM Tahun 2017 sama sebagaimana kebijakan penyelenggaraan KSM tahun 2016 yakni terbuka bagi siswa madrasah maupun siswa sekolah.

Adapun bidang studi yang akan dilombakan pada penyelenggaraan KSM tahun 2017 adalah sebagai berikut :

MI MTs MA
Matematika + Agama Islam Matematika + Agama Islam Matematika + Agama Islam
Fisika + Agama Islam Biologi + Agama Islam Biologi + Agama Islam
- Fisika + Agama Islam Fisika + Agama Islam
- - Kimia + Agama Islam
- - Ekonomi + Agama Islam
- - Geografi + Agama Islam

Selengkapnya mengenai Petunjuk Teknis (Juknis) Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tahun 2017 dapat Bapak/Ibu Guru dan segenap sahabat Pustama bisa unduh pada tautan di bawah ini


Demikian info mengenai Petunjuk Teknis (Juknis) Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tahun 2017, semoga ada manfaatnya

12/23/2016

Menjawab Tulisan 'Apakah Non-Muslim Itu Kafir?'

Menjawab Tulisan 'Apakah Non-Muslim Itu Kafir?'
Tulisan M Kholid Syeirazi yang berjudul 'Apakah Non-Muslim Itu Kafir?' di situs nu.or.id tertanggal 23 Desember 2016 mendapat jawaban sekaligus bantahan dari Alfitri dengan penjelasan yang runtut dan memadai. Berikut adalah uraiannya sebagaimana ditulisnya di dalam wall facebook.

[Kholid Syeirazi (KS)]:
Baru-baru ini, seorang netizen dilaporkan ke polisi atas dugaan ujaran kebencian dan SARA karena menyebut pahlawan nasional non-Muslim sebagai kafir. “Di al-Qur’an, katanya, sebutan kafir untuk yang tidak beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Saya salah ikut al-Qur’an?” Demikian cuitan orang itu. Mengikuti al-Qur’an jelas tidak salah bahkan wajib bagi mukmin dan muslim. Yang salah adalah mengikuti seleranya sendiri memenggal al-Qur’an dan tidak memahaminya secara utuh berdasarkan ilmu.

[Alfitri (AL)]:
Mari kita lihat sejauh mana pula selera anda dalam memahami Quran berdasarkan ilmu yang anda rasa sudah miliki.

[KS]: Al-Qur’an harus dipahami berdasarkan konteks dan pertalian antar ayat (munâsabah), asbâbun nuzûl, penjelasan Nabi, nâsikh-mansûkh, serta memahami uslûb dan karakteristik ayat. Perihal uslûb dan karakteristik ayat al-Qur’an bisa dibaca dalam tulisan saya di link ini sebagai pengantar: Jangan Sembrono dalam Menggali Hukum dan Mencuplik Dalil (Bagian I).

[AL]: Ok, secara umum saya sepakat dengan apa yang anda sebutkan di atas, tinggal lagi melihat sejauh mana ketetapatan dalam pengaplikasiannya.

[KS]: Memukul rata non-Muslim sebagai kafir yang harus dimusuhi bukan hanya tidak adil dan tidak sejalan dengan al-Qur’an, tetapi juga merusak prinsip negara-kebangsaan yang tidak mendiskriminasi warga negara berdasarkan suku, agama, ras, dan golongan.

[AL]: Memukul rata non-muslim sebagai kafir yang harus dimusuhi, jelas tidak sesuai dengan Quran. Tapi, memukul rata non-muslim dengan penyebutan mereka sebagai kafir, ya jelas tidak bertentangan dengan Quran.

[KS]: Nation-state yang telah disepakati sebagai konsensus nasional, menurut saya, adalah ‘illat (faktor) keberlakuan hukum. Pemberlakuan dan pengamalan hukum, termasuk hukum Islam, harus dilakukan dalam kerangka NKRI.

[AL]:
Tidak semua konsensus yang diakui oleh syariat. Sejak kapan Ijmak (konsensus) umat Islam dan ulama Islam bisa menggugurkan kewajiban penerapan hukum syariat?

[KS]: Dalam NKRI, misalnya, orang tidak bisa menerapkan hukum hudûd (jilid, rajam, potong tangan, qisas dst) karena tidak diakui dalam hukum positif di Indonesia.

[AL]: Semua konsensus yang merubah hukum Quran, statusnya batil. Coba tunjukkan satu saja ayat, hadis atau perkataan ulama yang menjelaskan Ijmak atas hukum positif itu bisa menggugurkan kewajiban penerapan hukum Huduud dan Qishash!

[KS]: Idiom kafir, baik itu dzimmî maupun harbî, juga tidak bisa diterapkan dalam konteks nation-state dan demokrasi. Sebab, dalam negara-bangsa berdasarkan demokrasi, warga-negara tidak dikualifikasi berdasarkan agama, ras, dan golongannya. Kedudukan mereka sama di muka hukum (equal before the law).

[AL]: Apakah itu artinya anda menyakini bahwa penerapan idiom kafir dalam pemerintahan Islam dahulu, menunjukkan kedudukan warga saat itu tidak sama di muka hukum, sehingga penerapan hukum pada masa Nabi, Sahabat dan Khilafah Islam dianggap tidak adil?

[KS]: Menyebut pahlawan nasional non-Muslim sebagai kafir bukan hanya mengingkari konsensus nasional oleh founding fathers yang mendirikan Indonesia sebagai negara-kebangsaan, bukan negara agama, tetapi juga tidak adil dalam perspektif al-Qur’an itu sendiri. Apakah semua orang yang mengingkari risalah Muhammad disebut kafir?

[AL]: Ya, jelas kafir, seperti halnya umat Nasrani melabeli umat Islam dengan 'domba tersesat'. Apakah penyematan 'domba tersesat' kepada non-kristen itu adil?

[KS]: Apakah mereka harus dihadapi dengan sikap bermusuhan selamanya?

[AL]:
Ya tentu tidak. Nampaknya, anda belum bisa memisahkan antara 'penyematan label kafir' dengan 'memposisikan sebagai musuh'. Selain umat Islam yang tidak percaya dengan risalah Muhammad, maka hukumnya kafir. Lalu, apakah semua kafir diposisikan sebagai musuh? Di sinilah poin pentingnya.

[KS]: Mari kita lihat penjelasannya di dalam al-Qur’an. Untuk alasan teknis, saya akan kutip terjemahannya. Mohon diperiksa langsung teks-nya di dalam al-Qur’ân al-Karîm aslinya. Membaca al-Qur’an, bukan terjemahannya, sudah dinilai ibadah, apalagi memahami maknanya.

[AL]: Ok, mari.

[KS]: Pertama, yang mengingkari risalah Nabi Muhammad saw terdiri dari beberapa kelompok yang dibeda-bedakan oleh al-Qur’an. Saat risalah Islam didakwahkan, Nabi ditentang dan dimusuhi oleh kafir Quraisy. Dalam banyak kitab tafsir, mereka sering disebut sebagai kuffâru Makkah. Pengikut Yahudi kebanyakan tinggal di Yatsrib, yang kelak namanya diganti Madinah, bersama suku Aus dan Khazraj. Sementara orang-orang Nasrani kebanyakan tinggal di Yaman, beberapa ratus mil dari pusat dakwah Nabi.

Mereka disebut sebagai Ahlul Kitâb. Sebelum Nabi hijrah ke madinah, orang Yahudi sering mengharap kedatangan Nabi untuk menguatkan kedudukan mereka sebagai pemuluk monoteisme melawan bangsa Arab yang pagan. Tetapi, setelah Nabi hijrah ke Madinah, orang Yahudi mengingkari kenabian Muhammad. (Lihat QS. al-Baqarah/2: 89). Mereka kecewa karena Nabi yang ditunggu-tunggu itu, yang tersebut dalam kitab suci mereka, ternyata berasal dari keturunan Arab, bukan dari Bani Israel. Mereka menentang Nabi dan bahkan berkomplot dengan kafir Quraisy memusuhi Nabi. Perhatikan redaksi dalam QS. al-Bayyinah/98: 1 berikut ini:

“Orang-orang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata.”

Jika kita gunakan analisis bahasa, dalam ayat itu tersebut kata ‘min’ yang oleh mufasir disebut lit tab’îdz yang artinya sebagian. Jadi, orang kafir itu sebagian berasal dari Ahlul Kitâb. Artinya, tidak semua Ahlul Kitâb itu kafir.

[AL]:
Kata 'min' di situ bukan lit tabi`idh melainkan lit tabyiin (penjelas/perincian), seperti yang dijelaskan oleh imam ar-Raazy berikut:

السؤال الأول :
تقدير الآية : لم يكن الذين كفروا من أهل الكتاب ومن المشركين فهذا يقتضي أن أهل الكتاب منهم كافر ومنهم ليس بكافر ، وهذا حق ، وأن المشركين منهم كافر ومنهم ليس بكافر ، ومعلوم أن هذا ليس بحق .

والجواب من وجوه :
أحدها : كلمة "من" ههنا ليست للتبعيض بل للتبيين كقوله تعالى : (فاجتنبوا الرجس من الأوثان).

Dengan demikian, maksud ayat ini, orang kafir itu ada dua jenis. Siapakah kedua jenis ini? Jawabannya, Ahl Kitab dan Orang Musyrik. Jadi, tidak benar bila maksud ayat ini menunjukkan Ahl Kitab itu ada yang kafir, dan ada yang tidak.

Kalaupun ada yang tidak kafir, maka yang dimaksudkan adalah Ahl Kitab yang percaya dan menerima Risalah Muhammad, seperti Waraqah bin Naufal, bukan Ahl Kitab secara umum.

Kalau anda 'ngotot' dengan pemahaman seperti itu, maka anda juga harus mengatakan orang musyrik itu ada yang kafir, dan ada juga yang tidak kafir. Bukankah di situ ada huruf 'Waw-`Athaf'!?

To be continued...
Wallaahua`lam (0)