6/14/2017

Kemendikbud tak Hapus Pendidikan Agama, Tapi Justru Memperkuatnya

Banyak sekali isu berseliweran di media bahwa Kemdikbud akan menghapus pendidikan agama di lingkungan sekolah. Sontak saja, kabar ini menimbulkan pro-kontra khususnya masyarakat. Namun benarkah isu tersebut dan bagaimana penjelasannya?

Sebagaimana dilansir oleh republika.co.id, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) membantah isu dihapuskannya pendidikan agama di sekolah. Pendidikan agama justru diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler.

"Upaya untuk meniadakan pendidikan agama itu tidak ada di dalam agenda reformasi sekolah sesuai arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)," kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (Ka BKLM), Ari Santoso, dalam keterangannya, Rabu (14/6).

Ari menjelaskan justru pendidikan keagamaan yang selama ini dirasa kurang dalam jam pelajaran pendidikan agama akan semakin diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler. Dia menjelaskan, Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan, dengan tegas bahwa sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017, sekolah dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai karakter utama religiusitas atau keagamaan.

Ari menambahkan, bahwa Mendikbud memberi contoh penerapan penguatan pendidikan karakter yang dilakukan beberapa kabupaten seperti Kabupaten Siak yang memberlakukan pola sekolah sampai pukul 12.00 WIB, dilanjutkan dengan belajar agama bersama para uztad. Siswa diberi makan siang yang dananya diambil dari APBD. "Kemudian Mendikbud menyampaikan pola yang diterapkan Kabupaten Pasuruan. Seusai sekolah, siswa belajar agama di madrasah diniyah. Hal itu sesuai dengan pasal 5 ayat 6 dan ayat 7 Permendikbud tentang Hari Sekolah yang mendorong penguatan karakter religius melalui kegiatan ekstrakurikuler."

6/08/2017

Sesuatu yang Tidak Dilakukan Nabi itu Bid'ah (Tercela)?

Sesuatu yang Tidak Dilakukan Nabi itu Bid'ah (Tercela)?
Sering kita mendengar ungkapan-ungkapan 'itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi', 'Rasulullah tidak pernah melakukan itu', 'Rasulullah, sahabat, dan salafus salih tidak pernah melakukan semua itu' dalam kehidupan sehari-hari. Uniknya lagi, ungkapan-ungkapan itu biasanya bertujuan untuk menyebut bahwa perbuatan itu tercela atau bid'ah yang harus dihindari.

Lalu, benarkah jika sebuah perbuatan yang tidak dilakukan oleh Rasulullah serta merta bid'ah yang tercela? Bagaimanakah kaidah ushul fiqih dalam memandang perbuatan yang tidak dilakukan oleh Nabi? Maka berikut penjelasan lengkap tentang sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi beserta tujuan daripadanya.

Benarkah Sesuatu yang Tidak Dilakukan oleh Nabi itu Bid'ah?


Perlu diketahui, sesuatu yang tidak dilakukan Nabi ﷺ tidak bisa serta merta langsung dihukumi bid’ah yang bermakna haram. Hal itu karena banyak sekali kemungkinan makna atau motivasi daripada ditinggalkannya perbuatan tersebut oleh Rasulullah Saw. Berikut adalah 9 kemungkinan makna daripada sesuatu yang ditinggalkan atau tidak dilakukan oleh Nabi ﷺ:


1. Karena hukumnya tidak wajib


Sesuatu yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah ﷺ bisa karena hukumnya tidak wajib. Misalnya berwudhu setelah memakan makanan yang dimasak api. Rasulullah ﷺ tidak berwudhu setelah memakan makanan yang dimasak oleh api. Wudhu  yang ditinggalkan Rasulullah ﷺ ini bermakna hukum melakukannya tidak wajib. Maksudnya, tidak wajib orang yang memakan makanan yang dimasak dengan api untuk berwudhu sesudahnya. Abu Dawud meriwayatkan;
سنن أبى داود – م (1/ 75)
عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ آخِرُ الأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَرْكَ الْوُضُوءِ مِمَّا غَيَّرَتِ النَّارُ

“Dari Jabir dia berkata; Akhir dari dua perkara dari Rasulullah ﷺ adalah; Beliau tidak berwudhu karena makan sesuatu yang disentuh api (H.R.Abu Dawud)

2. Karena khawatir menjadi wajib


Bisa juga Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu karena khawatir menjadi wajib seperti shalat tarawih berjamaah yang ditinggalkan Rasulullah ﷺ. Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (3/ 459)
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّوْا مَعَهُ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ لَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا

“Dari Ibnu Syihab, ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Urwah bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah ﷺ pada suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid, orang-orang kemudian mengikuti beliau dan shalat dibelakangnya. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan beliau. Dan pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi, lalu Rasulullah ﷺ keluar untuk shalat dan mereka shalat bersama beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jamaah hingga akhirnya beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah beliau selesai shalat Fajar, beliau menghadap kepada orang banyak membaca syahadat lalu bersabda: Amma badu, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut shalat tersebut akan diwajibkan atas kalian, sementara kalian tidak mampu. (H.R.Bukhari)

3. Karena lupa


Bisa juga Rasulullah meninggalkan sesuatu karena lupa, seperti beliau shalat dengan rakaat yang tidak lengkap pada kisah Dzul Yadain. Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (3/ 137)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ انْصَرَفَ مِنْ اثْنَتَيْنِ فَقَالَ لَهُ ذُو الْيَدَيْنِ أَقَصُرَتْ الصَّلَاةُ أَمْ نَسِيتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ أَصَدَقَ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالَ النَّاسُ نَعَمْ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ فَصَلَّى اثْنَتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ

“Dari Abu Hurairah, ketika Rasulullah ﷺ menyelesaikan shalatnya yang baru dua raka’at, Dzul Yadain berkata kepada beliau: “Apakah shalat diqashar ataukah Anda lupa, wahai Rasulullah? Maka Rasulullah ﷺ berkata: Apakah benar yang dikatakan Dzul Yadain? Orang-orang menjawab: Benar. Maka Rasulullah ﷺ berdiri dan mengerjakan shalat dua rakaat yang kurang tadi kemudian memberi salam. Kemudian beliau bertakbir lalu sujud seperti sujudnya (yang biasa) atau lebih lama lagi (H.R.Bukhari)

4. Karena jijik atau tidak terbiasa


Bisa juga Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu karena perasaan jijik/tidak terbiasa saja sementara hukum sebenarnya adalah halal. Misalnya Rasulullah ﷺ tidak mau memakan biawak panggang yang dihidangkan di depan beliau. Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (17/ 6)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ قَالَ
أُتِيَ النَّبِيُّ بِضَبٍّ مَشْوِيٍّ فَأَهْوَى إِلَيْهِ لِيَأْكُلَ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُ ضَبٌّ فَأَمْسَكَ يَدَهُ فَقَالَ خَالِدٌ أَحَرَامٌ هُوَ قَالَ لَا وَلَكِنَّهُ لَا يَكُونُ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ فَأَكَلَ خَالِدٌ وَرَسُولُ اللَّهِ يَنْظُرُ

“Dari Ibnu Abbas dari Khalid bin Al Walid ia berkata; Nabi ( pernah diberi daging biawak yang terpanggang. Maka beliau pun berselera hendak memakannya, lalu dikatakanlah kepada beliau, “Itu adalah daging biawak.” Dengan segera beliau menahan tangannya kembali. Khalid bertanya, Apakah daging itu adalah haram? beliau bersabda: Tidak, akan tetapi daging itu tidak ada di negeri kaumku. Beliau tidak melarang. Maka Khalid pun memakannya sementara Rasulullah ﷺ melihat. (H.R.Bukhari)

5. Karena tidak terpikirkan


Bisa juga Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu hanya karena tidak terpikirkan semata, misalnya Rasulullah ﷺ tidak membuat mimbar untuk khutbah jumat, dan baru membuat mimbar setelah diusulkan salah seorang shahabat. Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (7/ 275)
 عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا أَجْعَلُ لَكَ شَيْئًا تَقْعُدُ عَلَيْهِ فَإِنَّ لِي غُلَامًا نَجَّارًا قَالَ إِنْ شِئْتِ قَالَ فَعَمِلَتْ لَهُ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ قَعَدَ النَّبِيُّ عَلَى الْمِنْبَرِ الَّذِي صُنِعَ فَصَاحَتْ النَّخْلَةُ الَّتِي كَانَ يَخْطُبُ عِنْدَهَا حَتَّى كَادَتْ تَنْشَقُّ فَنَزَلَ النَّبِيُّ حَتَّى أَخَذَهَا فَضَمَّهَا إِلَيْهِ فَجَعَلَتْ تَئِنُّ أَنِينَ الصَّبِيِّ الَّذِي يُسَكَّتُ حَتَّى اسْتَقَرَّتْ قَالَ بَكَتْ عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنْ الذِّكْرِ

“Dari Jabir bin ‘Abdullah ( bahwa ada seorang wanita kaum Anshar berkata, kepada Rasulullah ﷺ : “Tidakah sebaiknya aku buatkan sesuatu yang bisa baginda pergunakan untuk karena aku punya pembantu  yang pekerjaannya sebagai tukang kayu? Beliau menjawab: Silakan bila kamu kehendaki. Sahal berkata: Maka wanita itu membuatkan mimbar. Ketika hari Jumat Nabi ﷺ duduk diatas mimbar yang telah dibuat tersebut. Lalu batang pohon kurma yang biasanya beliau berkhuthbah di atasnya berteriak hingga hampir-hampir batang pohon itu terbelah. Maka Nabi ﷺ turun menghampiri batang kayu tersebut lalu memegang dan memeluknya hingga akhirnya batang kayu tersebut merintih dengan perlahan seperti bayi hingga akhirnya berhenti dan menjadi tenang. Beliau berkata: Batang kayu itu menangis karena dzikir yang pernah didengarnya (H.R.Bukhari)

6. Karena sudah termasuk keumuman nash


Bisa juga Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu karena sudah termasuk keumuman nash,seperti puasa Dawud. Rasulullah ﷺ tidak melakukan puasa Dawud namun menjelaskan dengan ucapan bahwa puasa tersebut adalah puasa yang paling afdhol. Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (15/ 477)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ أَنْكَحَنِي أَبِي امْرَأَةً ذَاتَ حَسَبٍ فَكَانَ يَتَعَاهَدُ كَنَّتَهُ فَيَسْأَلُهَا عَنْ بَعْلِهَا فَتَقُولُ نِعْمَ الرَّجُلُ مِنْ رَجُلٍ لَمْ يَطَأْ لَنَا فِرَاشًا وَلَمْ يُفَتِّشْ لَنَا كَنَفًا مُنْذُ أَتَيْنَاهُ فَلَمَّا طَالَ ذَلِكَ عَلَيْهِ ذَكَرَ لِلنَّبِيِّ فَقَالَ الْقَنِي بِهِ فَلَقِيتُهُ بَعْدُ فَقَالَ كَيْفَ تَصُومُ قَالَ كُلَّ يَوْمٍ قَالَ وَكَيْفَ تَخْتِمُ قَالَ كُلَّ لَيْلَةٍ قَالَ صُمْ فِي كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةً وَاقْرَإِ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ قَالَ قُلْتُ أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فِي الْجُمُعَةِ قُلْتُ أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ أَفْطِرْ يَوْمَيْنِ وَصُمْ يَوْمًا قَالَ قُلْتُ أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ صُمْ أَفْضَلَ الصَّوْمِ صَوْمَ دَاوُدَ صِيَامَ يَوْمٍ وَإِفْطَارَ يَوْمٍ

“Dari Abdullah bin Amr, ia berkata; Bapakku menikahkanku dengan seorang wanita yang memiliki kemuliaan leluhur. Lalu bapakku bertanya pada sang menantunya mengenai suaminya. Maka sang menantu pun berkata, Dia adalah laki-laki terbaik, ia belum pernah meniduriku dan tidak juga memelukku mesra semenjak aku menemuinya. Maka setelah selang beberapa lama, bapakku pun mengadukan hal itu pada Nabi ﷺ, akhirnya beliau bersabda: Bawalah ia kemari. Maka setelah itu, aku pun datang menemui beliau, dan belaiau bersabda: Bagaimanakah ibadah puasamu? aku menjawab, Yaitu setiap hari. Beliau bertanya lagi, Lalu bagaimana dengan Khataman Al Qur`anmu? aku menjawab, Yaitu setiap malam. Akhirnya beliau bersabda: Berpuasalah tiga hari pada setiap bulannya. Dan bacalah (Khatamkanlah) Al Qur`an sekali pada setiap bulannya. Aku katakan, Aku mampu lebih dari itu. Beliau bersabda: Kalau begitu, berpuasalah tiga hari dalam satu pekan. Aku berkata, Aku masih mampu lebih dari itu. Beliau bersabda: Kalau begitu, berbukalah sehari dan berpuasalah sehari. Aku katakan, Aku masih mampu lebih dari itu. Beliau bersabda: Berpuasalah dengan puasa yang paling utama, yakni puasa Dawud, yaitu berpuasa sehari dan berbuka sehari. (H.R.Bukhari)

7. Karena khawatir memberatkan


Bisa juga Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu karena khawatir memberatkan sahabat, seperti  pelaksanaan shalat Isya di tengah malam. Sebenarnya Rasulullah ﷺ ingin shalat Isya berjamaah di tengah malam atau sepertiga malam, namun karena  khawatir memberatkan umatnya maka hal tersebut tidak dilakukan. An-Nasai meriwayatkan;
سنن النسائي (2/ 361)
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَاةَ الْمَغْرِبِ ثُمَّ لَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَخَرَجَ فَصَلَّى بِهِمْ ثُمَّ قَالَ إِنَّ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا وَنَامُوا وَأَنْتُمْ لَمْ تَزَالُوا فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرْتُمْ الصَّلَاةَ وَلَوْلَا ضَعْفُ الضَّعِيفِ وَسَقَمُ السَّقِيمِ لَأَمَرْتُ بِهَذِهِ الصَّلَاةِ أَنْ تُؤَخَّرَ إِلَى شَطْرِ اللَّيْلِ

“Dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata; “Kami shalat Maghrib bersama Rasulullah ﷺ , kemudian beliau ﷺ keluar kepada kami hingga telah lewat separuh malam. Lalu beliau keluar dan shalat bersama mereka, lantas bersabda: Orang-orang sudah shalat dan mereka telah tidur dan kalian selalu dalam keadaan orang yang shalat selama masih menunggu shalat. Seandainya tidak menambah lemah orang yang lemah dan tidak menambah sakit orang yang sakit, maka aku pasti memerintahkan mereka untuk mengakhirkan shalat ini sampai pertengahan malam. (H.R.An-Nasai)

Hadis yang senada juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzy;
سنن الترمذى (1/ 280)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُؤَخِّرُوا الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفِهِ

“Dari Abu Hurairah ia berkata; “Rasulullah ﷺ bersabda: “Sekiranya tidak memberatkan umatku, sungguh akan aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan shalat isya hingga sepertiga atau pertengahan malam. (H.R.At-Tirmidzi)

8. Karena kemaslahatan


Bisa juga Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu karena khawatir mengubah hati shahabat dan menimbulkan masalah di tengah-tengah umatnya seperti rencana membangun kembali Kabah.  Rasulullah ﷺ sebenarnya ingin membongkar Kabah dan membangun kembali pondasinya menurut pondasi yang semestinya. Namun, karena beliau melihat Shahabat-shahabatnya masih dekat dengan masa jahiliyyah, maka beliau meninggalkan keinginan tersebut. Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (5/ 495)
 عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ لَوْلَا حَدَاثَةُ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَنَقَضْتُ الْبَيْتَ ثُمَّ لَبَنَيْتُهُ عَلَى أَسَاسِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَإِنَّ قُرَيْشًا اسْتَقْصَرَتْ بِنَاءَهُ وَجَعَلْتُ لَهُ خَلْفًا

“Dari ‘Aisyah (, ia berkata; Rasulullah ﷺ berkata, kepadaku: “Seandainya bukan karena zaman kaummu yang masih dekat dengan kekufuran tentu aku sudah membongkar Kabah lalu aku bangun kembali diatas pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam karena orang-orang Quraisy telah mengurangi pembangunannya dan aku akan buatkan pintu (dari belakangnya) (H.R.Bukhari)

9. Karena persoalan belum terjadi


Bisa juga Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu karena persoalan memang belum terjadi, misalnya Rasulullah ﷺ tidak pernah mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf, tidak pernah memberi hukum untuk kasus waris kombinasi antara kakek dengan saudara, tidak pernah membagi warisan dengan cara ‘aul, dan lain-lain.

Lalu, Kapankah Suatu yang Ditinggalkan Nabi itu Dinamakan Bid'ah (Tercela)?


Dari penjelasan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa, apa yang ditinggalkan Rasulullah ﷺ tidak bisa langsung dimaknai bidah dan dihukumi haram, namun harus dikaitkan dengan nash-nash yang lain dan dihubungkan dengan qarinah-qarinah seputar topik tersebut untuk memahami status apa yang ditinggalkan apakah bermakna haram, mubah, sunnah, dan lain-lain.

Seandainya apa yang ditinggalkan Rasulullah ﷺ secara mutlak semuanya bermakna haram, niscaya para sahabat sedikitpun tidak akan berani melakukan apapun secara mutlak apa yang tidak pernah dilakukan Rasulullah ﷺ. Faktanya, dalam sejarah ada banyak hal yang dilakukan sahabat yang tidak dilakukan oleh Rasulullah ﷺ baik terkait ibadah maupun selain ibadah. Para sahabat shalat tarawih berjamaah sebulan penuh, adzan dua kali saat Jumat, puasa sepanjang masa, mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf, memperluas masjid Nabawy, dan lain-lain yang semuanya menunjukkan bahwa apa yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ tidak langsung difahami sebagai bidah yang dihukumi haram.

Mengharamkan sesuatu harus dinyatakan oleh dalil, tidak cukup hanya dengan argumentasi: Tidak pernah dilakukan Rasulullah ﷺ. Keharaman sesuatu yang didasarkan dalil bentuknya bisa berupa larangan tegas seperti larangan berzina dalam ayat berikut;
{وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا} [الإسراء: 32]

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isro’ 32)

Bisa juga berupa lafadz lugas tahrim (mengharamkan), misalnya haramnya  bangkai, darah, daging babi dalam ayat berikut;
{حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ } [المائدة: 3]

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah , daging babi” (Al-maidah;3)

Bisa juga berupa ancaman keras atau kecaman tajam terhadap sesuatu seperti  ancaman hukuman potong tangan dan larangan tasyabbuh dalam hadis;
{ وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا } [المائدة: 38]

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya” (Al-Maidah; 38)
سنن الترمذى (9/ 317)
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

“Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukan termasuk golonganku orang yang tasyabbuh (menyerupai atau mengikuti) kepada selain kami” (H.R. At-Tirmidzi)

Pendeknya, sesuatu bisa dikatakan haram jika dinyatakan oleh dalil dengan qarinah yang tegas menunjukkan keharaman. Tidak semata-mata hanya karena tidak pernah dilakukan Rasulullah ﷺ.

Para Salafush Shalih Sangat Berhati-Hati dalam Mengharamkan Sesuatu


Ibnu Umar pernah mengkritik orang yang menyimpulkan langsung bahwa lafadz naha (melarang) adalah bermakna haram. Ibnu Umar mengkritik cara menyimpulkan yang demikian karena lafadz naha bisa bermakna makruh, bukan haram. Ibnu Rojab menulis dalam kitabnya Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam:
جامع العلوم والحكم محقق (32/ 12)
قالَ ابنُ المبارك : أخبرنا سلاَّمُ بن أبي مطيع ، عن ابن أبي دخيلةَ ، عن أبيه ، قالَ : كنتُ عندَ ابن عمر ، فقالَ : نهى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عَنِ الزَّبيب والتَّمر ، يعني : أنْ يُخلطا ، فقال لي رجل من خلفي : ما قال ؟ فقلتُ: حرَّم رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – الزبيب والتمر ، فقال عبد الله بنُ عمر : كذبتَ ، فقلتُ : ألم تقل : نهى رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – عنه ، فهو حرامٌ ؟ فقال : أنت تشهد بذاك ؟ قال سلاَّم : كأنه يقول : من نهي النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ما هو أدب .

“Ibnu Al-Mubarok berkata; Sallam bin Abi Muthi’ memberitahu kami dari Ibnu Abi Dakhilah beliau berkata: Aku berada di sisi Ibnu Umar. Beliau berkata: Rasulullah ﷺ melarang anggur kering dan kurma kering, yakni untuk dicampur. Maka seorang lelaki dibelakangku bertanya: Apa yang dia katakan? Maka aku menjawab: Rasulullah ﷺ mengharamkan anggur kering dan kurma kering (untuk dicampur). Maka Abdulah bin Umar berkata: Engkau berdusta. Aku berkata: bukankah engkau mengatakan Rasulullah ﷺ telah melarangnya, bukankah itu bermakna haram? Beliau bertanya; Engkau bersaksi atas hal tersebut? Sallam berkata; seakan-akan beliau menjelaskan, diantara larangan  Rasulullah ﷺ ada yang termasuk adab -tidak disukai/makruh (Jami Al-Ulum wa Al-Hikam, vol 12. Hlm 32)

Ulama-ulama faqih di kalangan ulama salaf seperti Malik, As-Syafii dan lain-lain justru sangat berhati-hati untuk menghukumi  haram.  Mereka lebih suka mengatakan makruh terhadap persoalan yang belum diyakini keharamannya, atau ada sejenis kesamaran, atau ada ikhtilaf. Ibnu Rojab menyatakan;
جامع العلوم والحكم (ص: 280)
وقد ذكرنا فيما تقدم عن العلماء الورعين كأحمد ومالك توقيا إطلاق لفظ الحرام على ما لم يتيقن تحريمه ما فيه نوع شبهة أو اختلاف وقال النخعي كانوا يكرهون أشياء لا يحرمونها وقال ابن عون

“Telah kami sebutkan sebelumnya ulama-ulama wara’ seperti Ahmad dan  Malik yang menjauhi memvonis dengan lafadz haram terhadap sesuatu yang tidak diyakini keharamannya, selama di dalamnya masih ada sejenis kesamaran atau ikhtilaf. An-Nakho’iy berkata: mereka memakruhkan sesuatu,  tidak mengharamkannya. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Hlm 280)

Dari sini jelaslah, bahwa menentukan status haram haruslah hati-hati. Memvonis haram hanya karena Nabi ﷺ tidak pernah melakukan dikhawatirkan termasuk kekurang hati-hatian yang bertentangan dengan sifat wara’.  Dikhawatirkan pula sikap demikian tercakup dalam kandungan ayat yang mencela orang yang mengharamkan yang dihalalkan Allah atau sebaliknya.  Allah berfirman;
{وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ} [النحل: 116]

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung.” (An-Nahl; 116)
{آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ} [يونس: 59]

Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-ada saja terhadap Allah ?” (Yunus; 59)

Sampai titik ini bisa dilanjutkan, jika apa yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ saja tidak bisa langsung difahami sebagai haram, maka apa yang tidak dilakukan Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan ulama-ulama salaf lebih utama untuk tidak difahami sebagai haram apalagi menjadi dalil. Hal itu dikarenakan apa yang tidak dilakukan mereka lebih banyak lagi faktornya  sehingga kemungkinan maknanya juga semakin banyak. Apalagi perbuatan selain Nabi ﷺ bukanlah menjadi dalil, sehingga tidak bisa dibahas dalam diskusi hukum syara’.

Diolah dari tulisan Muafa dalam irtaqi.com yang berjudul 'Apakah semua yang tidak dilakukan nabi dihukumi bid'ah'

6/06/2017

Qatar Negara Paling Makmur di Dunia

Qatar Negara Paling Makmur di Dunia
Seluruh rakyatnya.
Yang bayi...yang tua...yang pria....yang wanita.
Begitu ...Brojoool ... Bayi lahir ke dunia.
Negara....sudah menyiapkan ...sebuah rumah untuknya.

Begitu...usia sekolah....
Silahkan...sekolah atau kuliah dimana saja...boleh milih.
Negara yang mbayari....bahkan...Negara memberi uang saku.

Setelah tamat belajar...silahkan pilih pekerjaan....
Pokok e....masih didalam Negara.
Pasti....Negara memberi kerja....dengan Gaji...yang lebih tinggi dari Expatriat (TKA) untuk kualifikasi setara dan sejenis.
Rakyat harus lebih tinggi dari Orang Pendatang Asing.

Bila waktu menikah tiba.
Suami...boleh punya 4 (empat) istri.
Negara ....menyediakan untuk masing masing dari setiap Istri ....Pembantu rumah dan Sopir.
Negara yang menggaji Pembantu dan Sopir.

Bila Istri melahirkan....pilih rumah sakit mana saja...
Negara yang bayar.

Negara ini....
Tahun 2015-2016...Pendapatan Perkapita (GDP) adalah USD 132 ribu atau setara dengan Rp. 1,7 Milyar perkepala pertahun.

Di Negara ini..
Tidak ada Pajak untuk rakyatnya.

Apakah ada Bank...
Ada ...
tetapi...
Tidak ada Riba.

Kadang
Bila hari Ulang Tahun Raja.
Seluruh hutang Rakyatnya kepada Bank.
Dihapuskan oleh Raja.
Rakyat...tidak punya hutang di Bank.

Negara ini adalah...... Q A T A R

Sebuah Kerajaan yang menjadikan Al Qur'an sebagai Undang Undang dan Hukum positif.

Tidak ada Hukum atau Undang Undang yang lebih tinggi dari Al Qur'an di Kerajaan Qatar.

Negara Paling Kaya....Nomor satu
Negara yang tidak punya hutang kepada negara manapun

Negara dengan Pendapatan Perkapita (GDP) TERTINGGI SEDUNIA. Urutan nomor satu.

Menurut IMF GDP Qatar = US$ 132,870 (Rp 1,7 Miliar)
Menurut World Bank GDP Qatar = US$ 141,543 (Rp 1,8 Miliar)


Dengan kata lain gaji/pendapatan rata-rata penduduknya Rp 147 juta per BULAN.

Makin tahun makin naik. Bahkan diprediksi tahun 2017 GDP Qatar akan mencapai US$ 145,894.

Pendapatan per kapita digunakan sebagai tolok ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara; semakin besar pendapatan per kapitanya, semakin makmur negara tersebut.

Mengapa Barang Peninggalan Rasulullah Saw. Banyak yang Hilang?

Mengapa Barang Peninggalan Rasulullah Saw. Banyak yang Hilang?
Baragam cara ditempuh para generasi awal Islam, terutama para sahabat dan generasi awal tabiin, untuk berlomba-lomba mendapatkan barang pribadi Rasulullah SAW dan berharap keberkahan (tabaruk). Bahkan, tak sedikit yang berupaya mendapatkan secuil potongan dari fisik Rasulullah.  Hal ini demi memanifestasikan perasaan cinta mereka dan kesetiaan kepada pribadi agung tersebut.

Anas RA bercerita bagaimana para sahabat bertabaruk dengan rambut Rasulullah SAW. Menurut Anas, ia melihat tukang cukur sedang mencukur rambut Rasulullah SAW dan para sahabat mengitarinya. Para sahabat tidak menghendaki satu helai pun dari rambut Rasulullah  terjatuh kecuali telah berada di tangan seseorang. (HR Muslim, Ahmad, dan Baihaqi).

Ada juga kisah dari Abdul hamid bin Ja'far yang mengatakan bahwa Khalid bin Walid kehilangan kopiah saat peperangan Yarmuk. Ia meminta untuk mencarikan kopiah tersebut, tapi tidak ditemukan. Ia meminta mencarinya lagi, dan ternyata didapati berupa kopiah usang.

Lalu, Khalid berkata sewaktu Rasulullah umrah, beliau mencukur rambut kepalanya, maka orang-orang berebut rambut beliau, dan ia bisa mendahului dan mendapat rambut ubun-ubun beliau. Lalu, ia meletakkan rambut tersebut di kopiah miliknya. Saat berperang menggunakan kopiah tersebut, Khalid pasti menang.

Lalu, Mengapa Banyak Barang Peninggalan Rasulullah yang Hilang?


Benda-benda peninggalan Rasulullah ini berada di tangan para sahabat atau ada pula yang disimpan para keluarga Rasul (ahlul bait). Mantel suci (holy mantle) atau burda diberikan Nabi Muhammad kepada Ka'b ibn Zuhayr. Anaknya Ka'ab menjual mantel tersebut kepada Muawiyah I, pendiri Dinasti Umayyah.

Setelah jatuhnya Bani Umayyah, mantel berada di Baghdad di bawah Dinasti Abbasiyah dan dibawa ke Kairo di bawah Dinasti Mamluk. Akhirnya, mantel berada pada Selim I dan diletakkan di  Museum Topkapi, Istanbul, Turki, pada 1595.

Dalam hadis riwayat Bukhari dijelaskan bahwa Nabi Muhammad menggunakan cincin perak di tangannya yang terdapat ukiran Muhammad Rasul-Allah. Setelah Nabi wafat, cincin tersebut digunakan oleh Abu Bakar, kemudian 'Umar, dan Utsman.

Sandal Nabi diketahui hilang di Damaskus pada 803 H. Terdapat beberapa alasan mengapa beberapa benda peninggalan Nabi hilang. Hal ini karena para sahabat meminta agar benda-benda peninggalan Nabi tersebut ikut dikuburkan bersama jasad mereka ketika wafat.

Mu'awiyah bin Abi Sufyan telah menyelamatkan beberapa rambut dan kuku Nabi. Saat menjelang kematiannya, ia meminta agar benda-benda tersebut diletakkan di dalam makamnya.

Seiring berjalannya waktu, informasi tentang benda peninggalan Nabi tersebar luas di kota-kota Muslim, seperti Damaskus, Yerusalem, Kairo, Haifa, Kabul, Kashmir, Lahore, dan Karachi. Pada 1327 AH, lebih dari 40 helai rambut Nabi diklaim oleh Konstantinopel. Mereka menampilkan peninggalan Nabi tersebut dalam beberapa perayaan.

Disari dan diolah dari republika.co.id

Asal Mula Rakaat Shalat Tarawih 8, 20, dan 36

Asal Mula Rakaat Shalat Tarawih 8, 20, dan 36
Sudah menjadi kebiasaan kaum muslimin, setiap datang bulan Ramadhan mereka menghidupkan malamnya dengan salat tarawih. Di antara mereka ada yang melakukannya sebanyak 8 rakaat, ada pula yang 20 rakaat, bahkan adapula yang 36 rakaat. Umumnya, tiga variasi rakaat tarawih ini ditutup dengan salat witir sebanyak 3 rakaat. Jadi, total salat tarawih + witir bagi masing-masing variasi adalah 11 rakaat, 23 rakaat, dan 39 rakaat. Khusus untuk yang melaksanakan 36 rakaat, kadang-kadang salat witirnya dilaksanakan 5 rakaat, sehingga totalnya menjadi 41 rakaat. Sebenarnya bagaimana asal usul rakaat salat tarawih sehingga bisa bervariasi menjadi tiga macam seperti itu? Seperti apa kondisi salat tarawih di zaman Nabi ﷺ? Berapa rakaat salat tarawih yang dilakukan di zaman Rasulullah ﷺ? Tulisan singkat ini berusaha menguraikannya.

Di zaman Rasulullah ﷺ masih hidup, beliau memerintahkan untuk memperbanyak salat malam di bulan Ramadhan dalam bentuk yang muthlaq tanpa disertai penjelasan berapa rakaatnya. Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (1/ 65)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Dalam hadis di atas, Rasulullah ﷺ mendorong kaum muslimin untuk melakukan qiyam Ramadhan, yakni salat malam di bulan Ramadhan atau salat tarawih dengan dorongan yang bersifat muthlaq, tanpa disertai penjelasan berapa rakaatnya. Dengan perintah yang seperti ini, mudah dipahami jika para shahabat melaksanakan perintah itu sesuai kemampuannya. Bagi yang merasa kuat mungkin akan salat dengan banyak rakaat dan bagi yang merasa lemah mungkin akan salat dengan rakaat dengan jumlah yang sedikit.

Rasulullah ﷺ sendiri pernah mengimami kaum muslimin salat malam di bulan Ramadhan selama tiga hari. Peristiwa ini dilaporkan Aisyah Radhiyallahu ‘anha sebagaimana diriwayatkan Muslim. Namun laporan Aisyah Radhiyallahu ‘anha tidak disertai keterangan berapa rakaat yang dijalankan Rasulullah ﷺ. Seakan-akan jumlah rakaat di zaman itu bukan suatu hal yang ditekankan sehingga tidak perlu dibahas. Muslim meriwayatkan;
صحيح مسلم (4/ 148)
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

“Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwasanya pada suatu malam (di bulan Ramadhan), Rasulullah ﷺ salat di Masjid, lalu diikuti oleh beberapa orang sahabat. Kemudian (pada malam kedua) beliau salat lagi, dan ternyata diikuti oleh banyak orang. Dan pada malam ketiga atau keempat mereka berkumpul, namun Rasulullah ﷺ tidak keluar salat bersama mereka. Maka setelah pagi, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar dan salat bersama kalian, hanya saja aku khawatir (salat malam Ramadhan itu) akan diwajibkan atas kalian.”

Pada 10 terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah ﷺ juga sempat mengimami kaum muslimin salat malam selama tiga hari pada tanggal-tanggal ganjil. Namun, peristiwa ini juga dilaporkan tanpa ada keterangan jumlah rakaat yang dilakukan Nabi ﷺ . Abu Dawud meriwayatkan;
سنن أبى داود – م (1/ 521)
عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ. قَالَ فَقَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ». قَالَ فَلَمَّا كَانَتِ الرَّابِعَةُ لَمْ يَقُمْ فَلَمَّا كَانَتِ الثَّالِثَةُ جَمَعَ أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ وَالنَّاسَ فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِينَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلاَحُ. قَالَ قُلْتُ مَا الْفَلاَحُ قَالَ السُّحُورُ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا بَقِيَّةَ الشَّهْرِ.

“Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata; “Kami pernah berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah ﷺ , dan beliau tidak pernah mengerjakan salat malam bersama kami dalam bulan Ramadhan itu sampai tersisa tujuh malam. Maka (di malam ketujuh tanggal 23 Ramadhan) beliau salat malam mengimami kami sampai berlalu sepertiga malam. Ketika tiba malam keenam (yakni tanggal 24 Ramadhan) beliau tidak mengimami kami salat malam.Ketika tiba malam kelima (yakni tanggal 25 Ramadhan), beliau salat malam mengimami kami hingga tengah malam berlalu. Aku (Abu Dzarr) berkata; “wahai Rasulullah, alangkah baiknya sekiranya engkau menambahi lagi salat malam ini.” Abu Dzar berkata; Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila seseorang salat (malam) bersama imam hingga selesai, maka akan di catat baginya seperti bangun (untuk mengerjakan salat malam) semalam suntuk.” Kata Abu Dzar; “Ketika tiba malam ke empat (yakni tanggal 26 Ramadhan) beliau tidak mengimami kami salat malam. Ketika tiba malam ketiga (yakni tanggal 27 Ramadhan), beliau mengumpulkan keluarganya, isteri-isterinya dan orang-orang, lalu salat malam mengimami kami, sampai kami khawatir ketinggalan “Al Falah.” Jabir bertanya; “Apakah al falah itu?” Jawabnya; “Waktu sahur. Setelah itu beliau tidak lagi mengimami salat malam bersama kami pada hari-hari sisanya di bulan tersebut (yakni tanggal 28 dan 29 Ramadhan).”

Demikianlah kondisi salat tarawih di masa Nabi ﷺ . Kita tidak mendapatkan data yang tegas dan pasti berapa jumlah rakaat yang dilakukan oleh beliau. Kaum muslimin pun melakukan salat tarawih dengan kondisi yang bermacam-macam. Ada yang salat sendirian, ada yang berjamaah. Ada yang melakukannya di rumah dan ada yang melakukannya di masjid. Semuanya tanpa disertai informasi yang jelas berapa jumlah rakaat yang mereka kerjakan. Kondisi ini berlanjut di zaman Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu sampai beliau dipanggil oleh Allah ﷻ.

Ketika datang di zaman Umar Radhiyallahu ‘anhu, beliau berinisiatif untuk membuat salat tarawih lebih teratur lagi. Beliau memerintahkan agar salat tarawih disatukan di bawah pimpinan satu imam di dalam masjid. Mulai hari itulah salat tarawih dilakukan secara berjamaah selama sebulan penuh. Hal baru yang belum pernah ada di zaman Nabi ﷺ ini diakui Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa hal itu baru, namun beliau menegaskan itu adalah hal baru yang baik karena tidak bertentangan dengan petunjuk Nabi ﷺ . Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (7/ 135)
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

“ Dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Qariy bahwa dia berkata; “Aku keluar bersama ‘Umar bin Al Khaththob Radhiyallahu ‘anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang salat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang salat sendiri dan ada seorang yang salat diikuti oleh ma’mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka ‘Umar berkata: “Aku pikir seandainya mereka semuanya salat berjama’ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik”. Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah yang dipimpin oleh Ubay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang salat dalam satu jama’ah dengan dipimpin seorang imam, lalu ‘Umar berkata: “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini. Mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang salat awal malam’ Beliau memaksudkan orang yang mendirikan salat di akhir malam (lebih baik dari pada yang melakukannya di akhir malam), sedangkan orang-orang secara umum melakukan salat pada awal malam”

Di masa Umar Radhiyallahu ‘anhu inilah, mulai ada informasi jelas terkait jumlah rakaat yang dilakukan. Yazid bin Ruman meriwayatkan bahwa jumlah rakaat yang dilakukan di zaman Umar adalah 23 rakaat (20 salat tarawih dan 3 rakaat salat witir). Malik meriwayatkan;
موطأ مالك (1/ 342)
عَنْ مَالِك عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً

“Dari Yazid bin Ruman dia berkata; “Para sahabat pada masa Umar bin Khatthab mengerjakan shalat malam sebanyak dua puluh tiga rakaat.”

Yazid bin Ruman, perawi tsiqoh dalam riwayat di atas, meskipun tidak pernah bertemu Umar, tetapi tidak diragukan lagi beliau pasti bertemu dengan sekolompok orang-orang yang sempat mengalami zaman Umar sehingga informasinya bisa dipegang.

Informasi yang senada juga disampaikan Abu Al-Hasna’, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan;
مصنف ابن أبي شيبة (2/ 393)
عَنِ أَبِي الْحَسْنَاءِ : أَنَّ عَلِيًّا أَمَرَ رَجُلاً يُصَلِّي بِهِمْ فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً.

“Dari Abu Al-Hasna’ bahwasanya Ali memerintahkan seorang lelaki untuk mengimami mereka di bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat”

Demikian pula riwayat Abdul Aziz bin Rufai’;
مصنف ابن أبي شيبة (2/ 393)
عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ ، قَالَ : كَانَ أُبَيّ بْنُ كَعْبٍ يُصَلِّي بِالنَّاسِ فِي رَمَضَانَ بِالْمَدِينَةِ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُ بِثَلاَثٍ.

“Dari Abdul Aziz bin Rufai’ dia berkata, ‘Ubay bin Ka’ab mengimami orang-orang di bulan Ramadhan di Madinah sebanyak 20 rakaat dan berwitir tiga rakaat”

Demikian pula riwayat As-Saib bin Yazid;
مصنف عبد الرزاق الصنعاني (4/ 260)
عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ، ” أَنَّ عُمَرَ: جَمَعَ النَّاسَ فِي رَمَضَانَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، وَعَلَى تَمِيمٍ الدَّارِيِّ عَلَى إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَكْعَةُ يَقْرَءُونَ بِالْمِئِينَ وَيَنْصَرِفُونَ عِنْدَ فُرُوعِ الْفَجْرِ ”

“Dari As-Saib bin Yazid, bahwasanya Umar mengumpulkan orang-orang di bulan Ramadhan untuk diimami Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari sebanyak 21 rakaat. Mereka membaca surat-surat mi-in dan pulang menjelang fajar”
Dalam riwayat As-Saib ini, tarawih disebut 21 rakaat. Hal ini tidak masalah, karena salat tarawihnya 20 rakaat sementara witirnya 1 rakaat. Jadi yang disepakati adalah 20 rakaat. Riwayat yang menyebut 21 atau 23 itu maksudnya adalah perbedaan jumlah rakaat witirnya .

Asy-Syafi’i juga bersaksi bahwa salat tarawih 20 rakaat itu dipraktekkan di negeri tempat beliau tinggal; Mekah. At-Tirmidzi meriwayatkan;
سنن الترمذى (3/ 299)
و قَالَ الشَّافِعِيُّ وَهَكَذَا أَدْرَكْتُ بِبَلَدِنَا بِمَكَّةَ يُصَلُّونَ عِشْرِينَ رَكْعَةً

“Syafi’i berkata; “Demikian juga kami dapati penduduk kota Makkah, mereka shalat sebanyak dua puluh rakaat.”
Berdasarkan riwayat-riwayat di atas dan yang semisal dengannya, sejumlah imam madzhab menegaskan bahwa salat tarawih disunnahkan dilakukan sebanyak 20 rakaat. 3 imam madzhab berpendapat dengan pendapat ini, yaitu Abu Hanifah, Asy-Syafi’I, dan Ahmad. Ats-Tsauri sependapat dengan 3 imam tersebut. Menurut At-Tirmidzi, salat tarawih 20 rakaat ini bahkan menjadi pendapat mayoritas ulama. At-Tirmidzi berkata;
سنن الترمذى (3/ 299)
وَأَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى مَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ وَعَلِيٍّ وَغَيْرِهِمَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِشْرِينَ رَكْعَةً

“Sebagian besar ulama berpendapat dua puluh rakaat dengan berdasarkan riwayat dari ‘Umar, Ali dan lainnya dari kalangan sahabat Nabi ﷺ ”

Ibnu Abdil Barr memerinci sebagian nama-nama mereka. Beliau berkata;
الاستذكار (2/ 69)
وَرُوِيَ عِشْرُونَ ركعة عن علي وشتير بن شكل وبن أَبِي مُلَيْكَةَ وَالْحَارِثِ الْهَمْدَانِيِّ وَأَبِي الْبَخْتَرِيِّ وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ وَبِهِ قَالَ الْكُوفِيُّونَ وَالشَّافِعِيُّ وَأَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ وَهُوَ الصَّحِيحُ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ (مِنْ غَيْرِ خِلَافٍ مِنَ الصَّحَابَةِ وَقَالَ عَطَاءٌ أَدْرَكْتُ النَّاسَ وَهُمْ يُصَلُّونَ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ

“Diriwayatkan 20 rakaat dari Ali, Syittir bin Syakl, Ibnu Abi Mulaikah, Al-Harits Al-Hamdani dan Abu Al-Bakhtari. Ini adalah pendapat jumhur ulama dan ini adalah pendapat ulama-ulama Kufah, Asy-Syafi’i, dan mayoritas fuqoha’. Ini adalah riwayat shahih dari Ubay bin Ka’ab tanpa ada pengingkaran dari para shahabat. ‘Atho’ berkata; Aku mengalami masa orang-orang yang salat 23 rakaat sekalian witirnya”

Demikianlah asal-usul munculnya pendapat tarawih 20 rakaat.

Hanya saja, penduduk kota Madinah sedikit berbeda dengan penduduk Mekah. Asy-Syafi’I telah bersaksi bahwa pada zamannya penduduk Mekah salat tarawih sebanyak 20 rakaat. Ini juga disaksikan penduduk Madinah. Sudah diketahui bahwa salat tarawih di zaman itu selalu disertai jeda istirahat setiap selesai mengerjakan 4 rakaat yang disebut dengan istilah tarwihah. Malahan, dari jeda istirahat ini nama salat tarawih diambil, karena tarawih adalah bentuk jamak dari tarwihah itu. Oleh karena jeda istirahat dilakukan setiap selesai mengerjakan empat rakaat, sementara jumlah rakaat tarawih yang dikerjakan ada 20 rakaat, berarti mereka melakukan jeda istirahat sebanyak empat kali. Waktu jeda istirahat ini cukup lama, sehingga penduduk Mekah masih sempat melakukan tawaf 7 kali putaran dan salat dua rakaat. Penduduk Madinah melihat ini. Oleh karena mereka di Madinah tidak mungkin mengerjakan tawaf, maka mereka mengganti tawaf dan dua rakaat yang dilakukan penduduk Mekah dengan salat empat rakaat. Karena ada empat kali tarwihah, maka mereka melakukan salat empat rakaat sebanyak empat kali sehingga mereka menambah rakaat salat tarawih sebanyak 16 rakaat. Jadi totalnya mereka mengerjakan 20 + 16 = 36 rakaat. An-Nawawi berkata;
المجموع شرح المهذب (4/ 33)
وَأَمَّا مَا ذَكَرُوهُ مِنْ فِعْلِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ فَقَالَ أَصْحَابُنَا سَبَبُهُ أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ كَانُوا يَطُوفُونَ بَيْنَ كُلِّ تَرْوِيحَتَيْنِ طَوَافًا وَيُصَلُّونَ رَكْعَتَيْنِ وَلَا يَطُوفُونَ بَعْدَ التَّرْوِيحَةِ الْخَامِسَةِ فَأَرَادَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ مُسَاوَاتَهُمْ فَجَعَلُوا مَكَانَ كُلِّ طَوَافٍ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَزَادُوا سِتَّ عَشْرَةَ رَكْعَةً وَأَوْتَرُوا بِثَلَاثٍ فَصَارَ الْمَجْمُوعُ تِسْعًا وَثَلَاثِينَ

“Adapun riwayat yang mereka ceritakan terkait amalan penduduk Madinah, ulama yang semadzhab dengan kami menjelaskan sebabnya (sebagai berikut). Penduduk Mekah melakukan tawaf di antara dua tarwihah dan melakukan salat dua rakaat. Namun mereka tidak melakukan tawaf pada tarwihah kelima. Maka penduduk Madinah ingin menyamai mereka sehingga mereka melakukan salat empat rakaat sebagai kompensasi tawaf tersebut. Akibatnya, mereka menambah 16 rakaat dan melakukan salat witir 3 rakaat. Totalnya menjadi 39 rakaat”

Akhirnya inilah yang menjadi amalan penduduk Madinah sebagaimana yang diriwayatkan dari imam Malik. Ibnu Abdil Hadi berkata;
شرح كتاب الصيام من المحرر لابن عبدالهادي (ص: 51)
وقال مالك: أدركت الناس يصلون في المدينة ستاً وثلاثين ركعة

“Malik berkata, “aku mengalami masa orang-orang di madinah yang salat sebanyak 36 rakaat”

Ini pula yang difatwakan Imam Malik terkait jumlah rakaat salat tarawih, dan itu pula yang menjadi madzhabnya. Ketika mereka mendapati riwayat bahwa Nabi ﷺ kadang-kadang berwitir dengan 3 rakaat, sementara di lain waktu beliau berwitir 5 rakaat maka mereka mereka pun menutup salat witir karang-kadang 3 rakaat sehingga totalnya 39 rakaat, dan kadang-kadang menutupnya dengan 5 rakaat sehingga totalnya 41 rakaat. Demikianlah asal-usul pendapat salat tarawih 36 rakaat.

Sampai di sini bisa disimpulkan, bahwa ikhtilaf fikih di masa generasi tabi’ut tabi’in dan sesudahnya adalah perbedaan jumlah rakaat antara 20 ataukah 36 rakaat. Waktu itu belum dikenal pendapat 8 rakaat untuk salat tarawih.
Setelah itu, di masa belakangan muncullah upaya meneliti kembali masalah ini di kalangan ahli hadis. Mereka menyelidiki bagaimana salat malam Rasulullah ﷺ baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Hasil kajian mereka menyimpulkan bahwa Rasulullah ﷺ dalam melakukan salat malam tidak pernah melebihi 8 rakaat. Riwayat terbaik dan paling lugas yang mereka jadikan dasar adalah hadis Aisyah berikut ini;
صحيح البخاري (4/ 319)
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا

“Dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwasanya dia mengabarkan kepadanya bahwa dia pernah bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha tentang cara salat Rasulullah ﷺ di bulan Ramadhan. Maka ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menjawab: “Tidaklah Rasulullah ﷺ melaksanakan salat malam di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka’at, Beliau salat empat raka’at, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat raka’at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau salat tiga raka’at”.

Atas dasar riwayat tersebut dan yang semisal dengannya mereka menyimpulkan bahwa salat tarawih harus 8 rakaat dan tidak boleh lebih darinya. Mereka berusaha membuktikan bahwa semua riwayat yang menyebut salat tarawih 20 rakaat adalah dhoif sehingga tidak bisa dijadikan dasar. Di antara yang berpendapat seperti ini misalnya Al-Albani, Dhiya-urrohman Al-A’dhomi dan lain-lain.

Oleh: Muafa dalam irtaqi.net

5/02/2017

Melepas Tali Pocong Jenazah, Haruskah? Apa Tujuannya?

Banyak sekali mitos-mitos yang berkembang di masyarakat terkait dengan pengurusan jenazah. Diantara mitos yang berkembang terkait dengan jenazah adalah tentang jenazah yang menjadi hantu gentayangan karena kain kafan atau tali pocongnya tidak dilepas. Bahkan karena begitu populer di masyarakat, cerita tentang tali pocong ini kerap kali menjadi inspirasi dalam produksi film horor di tanah air.

Lalu, benarkah jenazah yang tidak dilepas tali pocongnya akan gentayangan menjadi hantu? Bagaimana Islam mendudukkan permasalahan tersebut? Haruskah tali pocong jenazah itu dilepas dan apa tujuan daripadanya? Berikut akan diuraikan tentang hal itu semua dengan lengkap.

Melepas Tali Pocong Jenazah, Haruskah? Apa Tujuannya?
Melepas tali ikatan kain kafan jenazah setelah dikuburkan dianjurkan oleh ulama. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melepaskan ikatan kain kafan dari jenazah Nu’aim bin Mas’ud saat dimasukan ke dalam kubur.  Demikian dengan apa yang diriwayatkan oleh al Atsram dari Ibnu Mas’ud berkata, ”Apabila kalian memasukan mayit ke dalam lahad maka lepaslah ikatannya.” (Markaz al Fatwa No. 57585).

Tujuan Melepas Tali Pocong Jenazah


Syeikh Romli dalam Nihayatul Muhtaj menjelaskan tujuan daripada melepas tali pocong jenazah sebagai berikut.

فإذا وضع الميت في قبره نزع الشداد عنه تفاؤلا تحل الشدائد عنه، ولأنه يكره أن يكون معه في القبر شيء معقود وسواء في جميع ذلك الصغير والكبير

Bila mayit sudah diletakkan di kubur, maka dilepaslah segenap ikatan dari tubuhnya berharap nasib baik yang membebaskannya dari kesulitan di alam Barzakh. Karenanya, makruh hukumnya bila mana ada sesuatu yang mengikat bagian tubuh jenazah baik jenazah anak-anak maupun jenazah dewasa.

Lebih lanjut, Syekh Ali Syibromalisi dalam Hasyiyah atas Nihayah menyebutkan, mencopot segala ikatan dari tubuh memang tidak mesti bertujuan melonggarkannya dari siksaan dosanya. Tetapi juga untuk perlu untuk menambah kesejahteraannya di kubur.

لايقال: العلة منتفية في حق الصغير لأنا نقول التفاؤل بزيادة الراحة له بعد فنزل ما انتفى عنه من عدم الراحة منزلة رفع الشدة

Kendati demikian, kita tidak bisa mengatakan bahwa illat melepas tali pengikat jenazah sudah tidak berlaku pada jenazah anak kecil mengingat ia belum punya dosa yang menyusahkannya di alam kubur. Pasalnya, kita bisa berkata bahwa “berharap nasib baik” dimaknai sebagai tambahan kebahagiaan bagi jenazah si kecil, satu tingkat di atas pembebasan dari kesulitan kubur. Karena, illat tiada kebahagiaan yang hilang dari jenazah itu, menempati pembebasannya dari kesulitan.

Adapun terkait anggapan orang-orang apabila ikatan-ikatan tali kafan tidak dilepaskan maka mayat itu akan bangun lagi atau menjadi pocong adalah anggapan kurafat yang tidak memiliki dasar hukum di dalam agama bahkan bertentangan dengan akidah islam.

Pada hakikatnya, seorang muslim yang sudah meninggal kembali ke Rahmatullah tanpa membawa apa-apa. Orang yang sudah meninggal, harus perlu dilepas semua yang melekat ditubuhnya, seperti pakaian luar-dalam, sepatu, dasi dan benda-benda bersifat duniawi lainnya.

Demikian penjelasan singkat terkait tujuan melepas tali pocong jenazah. Semoga bermanfaat.